Kembalinya Meylani Madalombang ke Tanah Kelahiran
Pada Jumat (17/4/2026), suasana di Bandara Sam Ratulangi, Manado, tiba-tiba menjadi sangat emosional. Meylani Madalombang, seorang penyintas Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah mengalami perjalanan panjang dan penuh tantangan.
Langkah kakinya yang gemetar disambut dengan pelukan hangat dari adiknya, Olivia. Tangis haru terdengar di tengah kerumunan orang-orang yang hadir, menandai momen penting dalam hidup Meylani. Selama berbulan-bulan, Olivia menjadi sumber harapan bagi Meylani yang nyaris padam saat berada di luar negeri.
Di tengah penderitaan fisik dan batin yang dialaminya di Libya, Meylani mengaku hanya kekuatan spiritual yang membuatnya bertahan. “Di tengah penderitaan, saya hampir kehilangan harapan. Tapi saya percaya, doa dan kepedulian banyak orang akhirnya membawa saya pulang,” ujarnya.
Kisah pilu Meylani dapat dilihat dari kediaman keluarganya di Kelurahan Paal IV, Kecamatan Tikala. Untuk mencapai rumah itu, seseorang harus melewati tanjakan berliku dan anak tangga berlumut yang licin. Hal ini menjadi metafora nyata bagi perjalanan hidup Meylani yang penuh risiko demi mengubah nasib.
Perjalanan yang Penuh Risiko
Awalnya, Meylani hanya ingin mencari kesejahteraan dengan bekerja di luar negeri melalui jalur resmi. Namun, tipu daya oknum penyalur mengubah segalanya. Dengan paspor wisata dan ancaman ganti rugi, Meylani yang semula dijanjikan ke Turki justru diterbangkan ke Dubai, hingga berakhir di Benghazi, Libya.
Di Libya, realita pahit menghantamnya. Bekerja pada majikan yang temperamental, Meylani kerap mengalami penganiayaan fisik. Ia mengaku pernah dilempari benda keras hingga terluka, namun tak diberi akses pengobatan. Dalam kondisi tanpa perlindungan, Meylani nekat melarikan diri hanya dengan pakaian di badan dan sebuah ponsel.
Berkat bantuan seorang pramugara yang pernah memberinya nomor darurat, ia berhasil mencapai titik aman sementara sebelum menempuh perjalanan berbahaya menuju KBRI di Tripoli dengan cara menyamar di dalam bus.
Perjuangan Berlanjut
Meski sudah mencapai Tripoli, perjuangannya belum berakhir. Meylani sempat dipaksa kembali bekerja karena kendala administratif dengan agen. Di tempat kerja barunya, ia diperas tenaganya hingga mengalami kelelahan fisik yang luar biasa. Punggung dan kakinya nyeri hebat akibat jam kerja yang tak manusiawi.
Di Manado, sang adik, Olivia, terus berjuang melalui jalur birokrasi dan media sosial hingga memohon langsung kepada pimpinan tertinggi negara. “Kami mohon Presiden RI Prabowo Subianto mendengar kami. Tolong pulangkan kakak saya,” ujar Olivia dalam upaya terakhirnya yang kini membuahkan hasil.
Misi Penting untuk Warga Sulawesi Utara
Kini, setelah berhasil kembali dengan selamat berkat bantuan pemerintah pusat, perwakilan RI, hingga lembaga kemanusiaan, Meylani membawa misi penting bagi warga Sulawesi Utara agar tidak ada lagi korban seperti dirinya. Ia menekankan pentingnya prosedur resmi dalam mencari nafkah di negeri orang.
“Jangan pernah berangkat ke luar negeri melalui jalur non-prosedural. Pastikan semua resmi dan jangan mudah percaya,” kata dia.
Kini, di balik perbukitan Paal IV, Meylani bisa kembali beristirahat tanpa ketakutan, menutup lembaran kelam yang hampir merenggut nyawanya.