Menteri Agama Nasruddin Umar: Puasa Bukan Hanya Menahan Lapar, Tapi Mendekatkan Hati pada Tuhan

Lani Kaylila
4 Min Read

Memahami Sifat-sifat Tuhan dalam Kehidupan Sehari-hari

Salah satu hikmah utama dari berpuasa adalah untuk mencontoh dan meneladani sifat-sifat Tuhan. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Takhallaqu bi akhlaqillah” yang artinya “Berakhlaklah sebagaimana akhlak Allah SWT.” Dalam Al-Qur’an juga disebutkan ayat-ayat yang menggambarkan sifat-sifat Tuhan, seperti “huwa yuth’im wa la yuth’am” (Tuhan memberi makan dan tidak diberi makan) dalam Q.S. 6:14, dan “lam takun lahu shahibah” (Tuhan tidak memiliki pasangan) dalam Q.S. 6:101.

Internalisasi sifat-sifat Tuhan ke dalam diri manusia merupakan proses spiritual yang membawa seseorang lebih dekat kepada Tuhannya. Semakin dekat jarak seorang hamba dengan Tuhan, semakin mulia statusnya. Dalam puasa, kita diwajibkan untuk tidak makan, minum, atau berhubungan seks, namun kita juga diwajibkan untuk berzakat fitrah, yaitu memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan.

Tujuan utama menjalankan ibadah puasa adalah agar kita mencapai kualitas muttaqin, yaitu orang-orang yang taqwa. Kualitas ini merupakan tingkatan paling tinggi dalam spiritualitas, seperti yang disebutkan dalam ayat:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. al-Baqarah/2:183).

Kata “muttaqin” tidak hanya berarti takut kepada Allah SWT, tetapi juga mengandung makna cinta, takut, dan segan terhadap-Nya. Allah SWT bukan sosok yang Maha Menakutkan, melainkan Tuhan yang Maha Pencinta dan Maha Penyayang. Terbukti dari firman-Nya, “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (Q.S. Shad/38:75).

Dalam kitab-kitab tafsir dan tasawuf, istilah “kedua tangan Tuhan” sering digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan dua sifat utama Allah, yaitu kekuatan maskulin (jalaliyyah) dan kekuatan feminin (jamaliyyah). Kedua sifat ini terwujud dalam nama-nama indah-Nya yang dikenal sebagai al-Asma’ al-Husna.

Menginternalisasi sifat-sifat Tuhan ke dalam diri seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW sangat penting. Dalam perspektif tasawuf, al-Asma’ al-Husna tidak hanya menggambarkan sifat-sifat Allah, tetapi juga menjadi titik masuk untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada-Nya. Setiap orang dapat mengidentifikasi diri dengan nama-nama tersebut, seperti al-Gafur (Maha Pengampun) dan al-Tawwab (Maha Penerima Taubat), sehingga mereka tetap memiliki harapan dan semangat hidup meskipun pernah berlumuran dosa.

Di antara 99 nama-Nya, sifat kasih sayang Tuhan lebih dominan. Dalam setiap surah Al-Qur’an selalu dimulai dengan Bismillah al-rahman al-rahim, yang menunjukkan kemahapengasihan dan kemahapenyayangan Tuhan. Salah satu bentuk kemahapengasihan-Nya adalah memberikan bulan Ramadan, yang secara harfiyah berarti “penghancur” atau “penghangus”.

Setelah 11 bulan di mana hamba-Nya terasing dalam kehidupan yang kering dan penuh pertarungan, bulan Ramadan menjadi ajang kembalinya kita ke kampung halaman rohani yang basah dan menyejukkan. Bulan puasa seperti oasis yang siap memberi kepuasan spiritual kepada orang yang menjalaninya dengan ikhlas dan sepenuh hati.

Meskipun Tuhan menampilkan sifat lembut, ayat-ayat Al-Qur’an menyapa anak manusia dengan santun, dan Nabi Muhammad SAW menunjukkan sikap lembut dan kesantunan, ada kalanya perilaku umat Islam bertentangan dengan sifat-sifat yang dilakukan Nabi dan Tuhan. Islam tidak pernah menolerir tindakan kekerasan, karena kekerasan itu tidak sejalan dengan sifat-sifat utama Tuhan yang diperkenalkan melalui al-Asma’ al-Husna-Nya.


Share This Article
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *