Perkembangan dalam Penurunan Angka Kematian Anak
Perjalanan untuk menyelamatkan anak-anak di seluruh dunia telah menunjukkan kemajuan besar. Dalam dua dekade terakhir, angka kematian anak di bawah usia lima tahun berhasil diturunkan lebih dari setengah. Ini adalah salah satu pencapaian kesehatan publik yang paling signifikan dalam sejarah modern. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa laju penurunan tersebut kini melambat secara signifikan.
Laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama UNICEF menemukan bahwa progres yang dulu cepat kini mulai kehilangan momentum. Dalam laporan Levels and Trends in Child Mortality 2025, diperkirakan 4,9 juta anak meninggal sebelum usia 5 tahun pada 2024, termasuk 2,3 juta bayi baru lahir.
Faktor Penyebab Melambatnya Progres
1. Masalah Kelahiran Masih Dominan
Hampir setengah dari kematian anak terjadi pada periode neonatal, yaitu bulan pertama kehidupan. Penyebab utamanya meliputi:
- Kelahiran prematur (36 persen).
- Komplikasi saat persalinan (21 persen).
- Infeksi dan kelainan bawaan.
Kondisi ini sebenarnya sangat bisa dicegah dengan layanan kesehatan dasar seperti perawatan kehamilan (antenatal care), tenaga medis terlatih saat persalinan, dan perawatan bayi baru lahir. Namun, masalahnya bukan pada kurangnya solusi, tetapi pada akses yang belum merata.
2. Infeksi Masih Menjadi Pembunuh Utama
Setelah melewati masa neonatal, ancaman terbesar datang dari penyakit infeksi, seperti malaria (17 persen), pneumonia, dan diare. Data menunjukkan bahwa kemajuan dalam mengendalikan penyakit ini melambat sejak 2015. Faktor seperti konflik, perubahan iklim, dan resistensi obat memperburuk situasi.
Penelitian global juga menunjukkan bahwa anak di wilayah dengan sistem kesehatan lemah jauh lebih rentan terhadap infeksi yang sebenarnya bisa diobati.
3. Malnutrisi
Untuk pertama kalinya, laporan ini secara khusus mengukur dampak severe acute malnutrition (SAM). Hasilnya, lebih dari 100.000 anak meninggal secara langsung karena kondisi ini. Namun, angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar. Malnutrisi tidak selalu tercatat sebagai penyebab utama kematian, tetapi memperburuk kondisi lain.
Studi menunjukkan bahwa malnutrisi melemahkan sistem imun dan meningkatkan risiko kematian akibat infeksi. Artinya, malnutrisi sering menjadi faktor yang diam-diam memperparah berbagai penyakit.
Ketimpangan Global dalam Kematian Anak
Kematian anak tidak tersebar merata. Sebagian besar terjadi di wilayah dengan akses kesehatan terbatas:
- 58 persen di Afrika sub-Sahara.
- 25 persen di Asia Selatan.
Di kawasan ini, anak-anak menghadapi risiko hampir tiga kali lebih tinggi untuk meninggal sebelum usia 5 tahun. Data global menunjukkan bahwa negara dengan investasi kuat pada layanan kesehatan primer, termasuk imunisasi dan perawatan ibu-anak, cenderung mengalami penurunan lebih cepat.
Masa Depan yang Menantang
Laporan ini menegaskan bahwa dunia sebenarnya sudah memiliki solusi:
- Vaksin.
- Perawatan dasar saat persalinan.
- Penanganan malnutrisi.
- Akses layanan kesehatan primer.
Menurut Bank Dunia, investasi pada kesehatan anak adalah salah satu intervensi paling cost-effective, dengan potensi pengembalian hingga 20 kali lipat secara sosial dan ekonomi. Masalahnya bukan pada kurangnya pengetahuan, tetapi pada implementasi dan komitmen.
Angka 4,9 juta kematian anak merupakan cerminan dari sistem yang belum merata. Dunia telah membuktikan bahwa kematian anak bisa ditekan secara signifikan, tetapi mempertahankan momentum ternyata tak kalah sulit. Tanpa investasi berkelanjutan dan fokus pada kelompok paling rentan, capaian yang sudah diraih bisa terhenti, bahkan berbalik arah.