Kondisi Harga Minyak Mentah yang Volatil dan Dampaknya pada Harga BBM di Indonesia
Harga minyak mentah dunia yang saat ini masih sangat volatil dinilai akan memengaruhi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), terutama untuk BBM Non Subsidi di Indonesia. Saat ini, harga minyak berada di atas US$ 100 per barel. Misalnya, harga minyak Brent per 30 Maret 2026 masih berada di kisaran US$108–110 per barel, sedangkan WTI berada di kisaran US$101–102 per barel.
Seorang pengamat komoditas dan pasar modal sekaligus Founder Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono, mengatakan bahwa kenaikan harga crude oil global memiliki tekanan terhadap struktur harga energi Indonesia. Ia menjelaskan bahwa jika melihat tren harga minyak dunia dan pelemahan kurs Rupiah yang mendekati level Rp17.000, penyesuaian harga hampir pasti terjadi, terutama untuk sektor non-subsidi.
“Diduga terbuka potensi kenaikan sekitar 5% hingga 10%. Jika dikonversi ke Rupiah, kenaikannya diperkirakan berkisar antara Rp1.500 hingga Rp2.000 per liter. Sebagai gambaran, Pertamax yang saat ini di Rp12.300 bisa saja merangkak ke area Rp13.800 – Rp14.300,” jelasnya.
Sementara itu, untuk BBM Subsidi seperti Pertalite dan Biosolar, kenaikannya akan tergantung pada keputusan pemerintah Indonesia. Menurut Wahyu, secara teknis, jika harga minyak dunia bertahan di atas US$100, harga keekonomian Pertalite bisa menembus Rp11.500 – Rp12.000. Namun, keputusan ini sepenuhnya berada di tangan politik pemerintah, mengingat dampaknya yang masif terhadap inflasi.
Wahyu bahkan menyebut bahwa kenaikan pada BBM non-subsidi akan menjadi ‘katup pelepas’ awal untuk mengurangi tekanan fiskal. “Secara objektif, kemungkinan besar pemerintah akan tetap menahan harga BBM bersubsidi pada bulan April untuk menjaga stabilitas sosial, namun dengan konsekuensi melakukan realokasi anggaran besar-besaran atau memperlebar defisit APBN,” ungkapnya.
Meski begitu, menurutnya langkah mitigasi yang lebih mendesak sebenarnya bukan sekadar menaikkan harga, melainkan memperketat pembatasan penyaluran BBM bersubsidi agar lebih tepat sasaran.
Dampak Geopolitik dan Kenaikan Harga BBM
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan bahwa posisi Indonesia saat ini berada di titik nadir yang cukup dilematis. Dinamika geopolitik di Timur Tengah per Maret 2026 ini menjadi pemicu tak terelakkan. Harga minyak mentah, di mana WTI di atas $102 dan Brent di atas $115, telah jauh melampaui asumsi makro APBN kita.
Ia menjelaskan bahwa setiap kenaikan $1 per barel meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi secara signifikan. Ditambah dengan tekanan pada DXY (Dollar Index) yang bertahan di atas 100 membuat pembelian minyak dalam Dolar menjadi jauh lebih mahal saat dikonversi ke Rupiah.
Menurut Sutopo, BBM Non-Subsidi (Pertamax, Pertamax Turbo, Dex Series) akan naik terlebih dahulu dan paling cepat karena harganya mengikuti mekanisme pasar. Penyesuaian biasanya dilakukan pada awal bulan. Estimasi kenaikan bisa mencapai 10%-15% menyesuaikan harga Brent yang sudah terbang ke angka $115.
Sedangkan BBM Subsidi (Pertalite & Solar) lagi-lagi akan bergantung pada langkah pemerintah. Menurutnya pemerintah biasanya akan menahan ini sebagai “senjata terakhir”. Namun, jika konflik di Iran diprediksi berlangsung berbulan-bulan, maka kenaikan BBM subsidi menjadi keniscayaan.
Dampak Kenaikan BBM Usai Lebaran
Di sisi lain, Sutopo menilai kenaikan harga BBM setelah lebaran akan berdampak cukup besar, utamanya pada daya beli masyarakat yang biasanya sudah habis usai hari raya lebaran. “Jika keputusan kenaikan diambil setelah momentum Lebaran, dampaknya akan terasa sangat sistemik,” jelas dia.
Terhadap fiskal (anggaran negara), langkah kenaikan ini adalah langkah penyelamatan APBN. “Tanpa kenaikan, defisit anggaran berisiko melebar melampaui batas aman 3% karena beban kompensasi ke Pertamina dan PLN akan membengkak luar biasa. Kenaikan BBM adalah cara pemerintah melakukan ‘pengereman darurat’ agar ruang fiskal tidak jebol oleh gejolak global,” jelasnya.
Terhadap daya beli masyarakat, menurutnya ini adalah bagian yang menyakitkan karena BBM subsidi adalah jangkar inflasi. “Kenaikan Pertalite/Solar akan memicu second-round effect pada harga pangan dan transportasi logistik. Mengingat ini terjadi setelah Lebaran—di mana tabungan masyarakat biasanya terkuras—risiko penurunan daya beli akan sangat terasa, terutama pada kelas menengah-bawah (the aspiring middle class),” ungkapnya.
Jika ini terjadi, maka menurutnya akan ada efek domino. Dimana Inflasi bisa melonjak di atas target Bank Indonesia (BI), yang kemungkinan akan memaksa kenaikan suku bunga domestik mengikuti jejak agresif Federal Reserve.