Film “The Hostage’s Hero” Mengangkat Kisah Nyata Operasi TNI AL di Selat Malaka
Film “The Hostage’s Hero” karya sutradara Revo S Rurut akan segera hadir di bioskop Indonesia pada 2 April 2026. Film ini mengangkat kisah nyata perjuangan TNI Angkatan Laut (AL) dalam operasi penyelamatan sandera dari perompak di Selat Malaka pada tahun 2004. Dalam film ini, penonton akan disajikan dengan narasi dramatis yang menggambarkan perjuangan para prajurit TNI AL dalam menjaga keamanan laut Indonesia.
Film ini dibintangi oleh aktor ternama seperti Donny Alamsyah, Bang Tigor, Asri Welas, Rifqi Balweel, Chocky Sitohang, dan Ritassya Wellgreat. Selain itu, film ini juga didukung oleh sejumlah nama besar dalam industri perfilman Indonesia, sehingga menambah daya tariknya bagi penonton.
Peran Penting Laksamana Madya TNI (Purn) Achmad Taufiqoerrochman
Operasi penyelamatan sandera di Selat Malaka dipimpin langsung oleh Laksamana Madya TNI (Purn) Achmad Taufiqoerrochman, yang saat itu berpangkat Letkol. Ia mengungkapkan bahwa ia telah melihat hasil akhir dari film “The Hostage’s Hero” dan merasa bahwa film ini telah merepresentasikan perjuangan para prajurit TNI AL dengan baik.
“Jadi kalau tadi tanya sejarah kejadiannya, ya kurang lebih seperti itu. Tetapi kalau ada ini untuk hiburan, maka ada ceritanya gitu ya, ada secara dramatisnya dan sebagainya,” kata Achmad Taufiqoerrochman saat ditemui di XXI Epicentrum Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (30/3/2026).
Menurutnya, meskipun film ini bercerita tentang peristiwa nyata, namun penggarapannya tetap memperhatikan unsur hiburan agar bisa dinikmati oleh masyarakat luas. “Karena walau bagaimanapun kalau itu hanya murni cerita saya kan jadi dokumenter gitu, bukan lagi tontonan itu nanti di museum saja gitu. Tapi karena untuk di luar, maka saya serahkanlah ke insan perfilman kan,” tambahnya.
Awal Mula Pembuatan Film
Awal mula pembuatan film “The Hostage’s Hero” berawal dari ide Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL), Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali. Setelah KASAL menunjuk rumah produksi dan produser, tim produksi diminta menemui Achmad Taufiqoerrochman di Sukabumi, Jawa Barat, untuk membahas pembuatan ceritanya.
Taufiq menceritakan sejarahnya dalam perjuangannya melawan perompak di Selat Malaka, hasil ceritanya menjadi sebuah buku dan skrip yang kemudian dipaparkan kepada Muhammad Ali. “Nah script itu sangat bagus, tetapi tidak- sepertinya yang diinginkan Kasal kira-kira begitu. Saya mencerna semuanya akhirnya saya ikut turun tangan dalam menuliskan script atau cerita film ini,” ujarnya.
Taufiq dan tim produksi dari Iswara Films bekerja sama dalam membuat cerita. Mereka memadukan ide kreatif agar film tersebut bisa sesuai dengan sejarah yang terjadi.
Strategi dalam Mengamankan Laut Indonesia
Dalam kesempatan tersebut, Achmad Taufiqoerrochman menggambarkan perjuangan para prajurit TNI AL saat mengamankan lautan Indonesia. Diungkapkannya, laut tidak memiliki demarkasi, yakni garis atau tanda batas pemisah yang ditetapkan untuk memisahkan dua wilayah.
“Sehingga, para prajurit harus dapat mengatur strategi ketika melakukan penjagaan ataupun penghalauan,” ujarnya.
“Laut itu agak unik gitu ya. Kalau di darat kan ada batas wilayah, makanya demarkasi kan, ada mark (tanda) gitu, ada tugu, ada dan sebagainya. Kalau di laut ada nggak tuh? Maka adalah delimitasi. Sehingga karakter operasinya itu, laut itu tidak bisa dipagari, tidak bisa diduduki. Laut tuh hanya bisa dikendalikan,” jelas Achmad Taufiqoerrochman.
“Sehingga mengendalikan yang terbaik adalah menggelar kekuatan pada waktu dan posisi yang tepat. Jangan sampai kita datang orang nggak ada gitu kan, nggak ada artinya kan Kita pulang mereka datang gitu kan, ya kebobolan gitu,” tambahnya.