Pengalaman Warga Saat Bencana Longsor di Desa Sibalanga
Seorang warga Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Dennis Sitompul (56) menceritakan pengalamannya saat menghadapi bencana longsor yang terjadi beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan bahwa longsor terjadi dua kali dalam waktu dekat.
Longsor pertama terjadi pada Selasa (25/11/2025) pukul 23.00 WIB. Dalam peristiwa ini, dua unit rumah tertimbun material dan penghuni rumah serta pelintas yang sedang beristirahat di depan rumah tersebut tertimbun oleh longsoran tanah.
Masyarakat langsung berhamburan dari rumah mereka untuk mencari tempat yang lebih aman. Pada saat itu, banyak warga berkumpul di Gereja HKBP Sibalanga yang berada di daerah perbukitan desa tersebut.
Dennis Sitompul menyampaikan bahwa sebagian warga mengungsi ke rumah tetangga atau keluarga mereka, sementara yang lain berlari menuju gereja. Setelah kejadian pertama, longsor kedua terjadi pada Rabu (26/11/2025) pukul 02.00 WIB. Akibatnya, warga kembali berhamburan dan mengungsi ke gereja HKBP Sibalanga.
Pemilihan gereja sebagai posko pengungsian adalah inisiatif dari kepala desa setelah meminta izin dari pihak gereja. Sejak kejadian, bantuan terus mengalir ke desa tersebut. Penanganan bencana juga berlangsung dengan bantuan alat berat yang bekerja membersihkan material yang menimbun jalanan.
Desa Sibalanga merupakan bagian dari akses jalan dari Taput menuju Tapteng. Lebih dari 20 orang korban meninggal dunia telah dievakuasi. Mayoritas korban bencana adalah pelintas yang sedang menunggu akses jalan dari Taput menuju Tapteng yang terputus, tepatnya di Kecamatan Sitahuis.
Begitu mendengar informasi adanya jalan putus di kawasan Sitahuis, pelintas memilih beristirahat di Desa Sibalanga. Namun, saat menunggu, bencana longsor menimpa mereka. Dari informasi warga sekitar, tiga orang masyarakat Desa Sibalanga menjadi korban, sementara sisanya adalah para pelintas.
Pemerintah dan instansi lain telah memberikan bantuan bagi warga. Apa yang mereka butuhkan selama dalam pengungsian ini dipenuhi. Selain bantuan sandang dan pangan, ada juga program trauma healing yang hadir untuk memberikan penghiburan khususnya bagi anak-anak, ibu, dan lansia.
Kini, senyum anak-anak di desa tersebut secara berangsur pulih. Meskipun rumah, harta benda, dan lahan pertanian mereka terdampak bencana, mereka tetap menunjukkan hati yang kokoh dan semangat hidup. Bahkan, mereka menikmati santapan rohani melalui ibadah di gereja.
Dennis Sitompul menjelaskan bahwa dirinya tinggal sekitar 60 meter dari lokasi kejadian. Namun, ia juga diselimuti ketakutan setelah menyaksikan dahsyatnya dampak bencana tersebut. Hanya bermodalkan lampu emergency dan senter, masyarakat saling membantu agar bisa sampai di gedung gereja HKBP tersebut.
Kini, rumah pendeta yang masih dalam pembangunan dijadikan sebagai dapur umum. Ia mengatakan bahwa waktu kejadian yang pertama dan kedua, mereka tetap di rumah. Namun, merasa terancam, mereka memilih mengungsi ke gereja HKBP ini.
Usai kejadian longsor yang pertama, pihak posko dan pemerintah desa berupaya mencari keberadaan korban pada timbunan material. Pencarian tidak membuahkan hasil karena longsor susulan pun datang. Mereka fokus bertahan hidup dengan tinggal di pengungsian dan saling menguatkan.
Kaum bapak terus berjaga-jaga, sementara kaum ibu, anak-anak, dan lansia ditempatkan di gedung gereja agar bisa beristirahat. Diperkirakan lebih dari 75 KK yang tinggal di gereja tersebut pada awal kejadian. Secara berangsur, keluarga pelintas kembali ke tempat masing-masing setelah jasad keluarganya ditemukan.
Kini proses pembersihan material masih berlangsung. Sejumlah aparat masih berada di lokasi. Buka-tutup jalan diberlakukan agar proses pembersihan material dan pencarian seorang korban masih dilakukan. Setelah kejadian, pihak kepolisian dan pemerintah desa juga mencoba mencari korban tertimbun longsor. Karena longsornya semakin besar, akhirnya pencarian tidak berhasil.
Kini mereka masih siaga dan berjaga-jaga. Ketakutan semakin memuncak karena terjadi longsor susulan. Sebelum kejadian longsor yang pertama, listrik sudah padam. Mereka hanya menggunakan lampu emergency untuk menolong warga sekitar menuju pengungsian di gereja ini. Kaum ibu, anak-anak, dan lansia, mereka prioritaskan. Sementara kaum bapak dan laki-laki siaga di luar gereja sembari berjaga-jaga.