13 Orang Tewas Usai Minum Air Keran di India, Diduga Terkontaminasi

Amanda Almeirah
4 Min Read

Wabah Air Terkontaminasi di Madhya Pradesh, India

Sebuah wabah penyakit yang disebabkan oleh air keran terkontaminasi telah menimbulkan kekacauan di kota Indore, Madhya Pradesh, India. Insiden ini dilaporkan menewaskan sedikitnya 13 orang dan menyebabkan ratusan warga, termasuk anak-anak, jatuh sakit. Penyakit yang muncul meliputi diare, muntah, dan dehidrasi parah.

Kondisi Pasien di Rumah Sakit

Lebih dari 162 pasien dirawat di rumah sakit di Indore, dengan puluhan di antaranya dalam kondisi kritis. Beberapa dari mereka bahkan harus dirujuk ke unit perawatan intensif (ICU). Salah satu korban adalah seorang bayi berusia enam bulan yang meninggal pada 31 Desember 2025 setelah mengalami diare berat. Warga Bhagirathpura, sebuah kawasan padat penduduk dengan sekitar 15.000 jiwa, telah melaporkan adanya bau busuk dan air yang tidak bersih selama seminggu sebelum insiden ini terjadi.

Penyebab Kontaminasi

Berdasarkan dugaan awal, kebocoran limbah diduga menjadi penyebab utama pencemaran air. Pipa air minum utama di Bhagirathpura ternyata berada di bawah konstruksi toilet polisi setempat, di mana limbah dialirkan ke lubang resapan tepat di atas pipa. Kebocoran pada sambungan pipa air limbah kemudian diduga bercampur dengan air bersih, sehingga memicu wabah penyakit.

Warga setempat mengeluhkan masalah ini berulang kali kepada otoritas Indore Municipal Corporation (IMC), tetapi tidak ada tindakan cepat yang dilakukan. Investigasi awal juga menunjukkan adanya kelalaian serius, termasuk penundaan tender perbaikan pipa lama yang sudah diajukan sejak Agustus 2025 sekitar Rp 4,5 miliar.

Respons Pemerintah

Menteri Utama Madhya Pradesh, Mohan Yadav, menyebut insiden ini sebagai “situasi darurat” dan langsung mengunjungi rumah sakit yang menjadi lokasi rujukan. Ia melakukan kunjungan tersebut bersama Menteri Pembangunan Perkotaan dan Perumahan, Kailash Vijayvargiya. Yadav mengumumkan kompensasi sebesar 200.000 rupee (sekitar Rp 37,1 juta) untuk keluarga korban meninggal, perawatan gratis bagi semua pasien, serta penyediaan air bersih melalui tangki dan tablet klorin.

Pemerintah setempat juga membentuk tim investigasi terkait kebocoran limbah yang ada. Pengadilan Tinggi Madhya Pradesh turun tangan dengan memerintahkan laporan status rutin kepada para pejabat terkait mulai 2 Januari 2026 dan memastikan perawatan gratis di rumah sakit swasta bagi seluruh korban.

Kontroversi Penanganan Kasus

Penanganan kasus ini turut menjadi sorotan setelah Menteri Pembangunan Perkotaan dan Perumahan, Kailash Vijayvargiya, mengeluarkan pernyataan kontroversial saat mengunjungi korban yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Saat diwawancarai wartawan NDTV tentang tanggung jawab pejabat senior terkait kasus ini, Vijayvargiya marah dan mengatakan pertanyaan tersebut adalah hal yang “tidak berguna”. Ia kemudian mengeluarkan kata-kata kasar kepada wartawan.

Video konfrontasi ini viral di media sosial dan menuai kritik tajam dari oposisi Kongres yang menuduh pemerintah arogan dan berusaha menutupi kelalaian. Vijayvargiya akhirnya meminta maaf melalui media sosial dan menyatakan penyesalan atas kata-katanya di tengah kesedihan mendalam. Ia mengakui adanya “kesalahan” oleh pejabat dan berjanji tindakan tegas tanpa pandang bulu bagi pihak yang terbukti lalai dalam kasus pencemaran limbah ini.

Perbedaan Data Korban

Sementara itu, kontroversi juga terjadi pada angka pasti terkait jumlah korban yang ada. Beberapa laporan media menyebutkan bahwa setidaknya 13 orang tewas dan lebih dari 1.000 orang jatuh sakit. Namun demikian, laporan resmi dari pemerintah negara bagian Madhya Pradesh menyebutkan angka yang lebih rendah yakni sekitar 3-10 orang. Vijayvargiya sendiri enggan menanggapi kontroversi terkait jumlah korban tewas saat diwawancarai pada hari Kamis ini (1/1/2026). Ia hanya menyatakan bahwa jumlah warga yang dirawat di rumah sakit kini berkurang.

Tindakan Lanjutan

Selain itu, pemerintah setempat akan terus memantau situasi dan memastikan bahwa semua korban mendapatkan perawatan yang layak. Mereka juga akan melakukan evaluasi terhadap sistem pengelolaan air dan infrastruktur pipa untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.


Share This Article
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *