Bonek Bingung! Persebaya Gacor di Luar, Tapi Grogi di Kandang

Eka Syaputra
4 Min Read

Performa Persebaya Surabaya yang Tidak Konsisten di Kandang

Bonek, para pendukung setia Persebaya Surabaya, kembali merasa bingung dengan performa Green Force musim ini. Meskipun tampil lebih stabil saat bermain di luar kandang, tim asuhan Bernardo Tavares sering kali terlihat grogi dan tidak stabil ketika berlaga di kandang sendiri.

Fenomena ini kembali terlihat setelah Persebaya berhasil mencatatkan kemenangan penting di Gianyar. Pada pertandingan pekan ke-20 Super League 2025/2026, Persebaya menundukkan Bali United dengan skor 3-1 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Sabtu (7/2/2026) malam. Kemenangan ini menjadi angin segar bagi tim karena sebelumnya Persebaya sering mengalami hasil kurang ideal saat bertandang ke markas Serdadu Tridatu.

Hasil ini juga memperkuat posisi Persebaya di papan atas klasemen. Dengan tambahan tiga poin, mereka tetap bersaing dengan tim-tim kuat lainnya. Pelatih Bernardo Tavares melakukan beberapa perubahan strategis pada babak kedua, termasuk memasukkan Alfan Suaib dan Gustavo Fernandes untuk meningkatkan daya gedor dan keseimbangan tim.

Pada 15 menit awal babak kedua, lini pertahanan Persebaya Surabaya menghadapi tekanan beruntun dari Bali United. Keberadaan Gustavo di lini belakang membantu meredam serangan lawan sebelum benar-benar mengancam gawang Ernando Ari. Setelah melewati tekanan tersebut, Persebaya mulai menemukan ritme permainan.

Risto Mitrevski mencoba peruntungan lewat tendangan keras dari luar kotak penalti pada menit ke-62, namun bola masih membentur pemain bertahan lawan. Gol kedua Persebaya lahir pada menit ke-68 melalui skema serangan balik cepat. Francisco Rivera mengirim umpan jauh ke Alfan Suaib yang kemudian mengubah skor menjadi 0-2.

Keunggulan Persebaya semakin menjauh saat gol ketiga tercipta tak lama berselang. Gali Freitas mengirimkan umpan terobosan kepada Risto Mitrevski yang langsung menempatkan bola ke tiang jauh. Bali United hanya mampu memperkecil ketertinggalan pada menit ke-89 melalui Jordy Dennis. Gol tersebut lahir dari kemelut di depan gawang Ernando Ari dan mengubah skor menjadi 1-3.

Hingga peluit akhir dibunyikan, tidak ada gol tambahan tercipta meski Persebaya Surabaya sempat mendapat peluang emas di menit 90+2. Penyelesaian akhir Gali Freitas masih bisa diamankan oleh kiper Bali United, Mile Hauptmeijer.

Statistik yang Membuat Bonek Bisa Bingung

Hasil ini membuat Persebaya Surabaya bertahan di posisi kelima klasemen sementara dengan koleksi 35 poin. Konsistensi di laga tandang kembali menjadi sorotan utama dari kemenangan tersebut. Namun, fenomena ini juga membuat Bonek merasa heran.

Dari 10 laga tandang, Persebaya Surabaya meraih 4 kemenangan, 5 imbang, dan hanya sekali kalah dengan rata-rata poin 1,70. Sementara saat bermain di kandang, Green Force mencatat 5 kemenangan, 3 imbang, dan 2 kekalahan dari 10 pertandingan.

Produktivitas gol juga menunjukkan perbedaan karakter permainan. Di kandang, Persebaya Surabaya mencetak 19 gol dan kebobolan 12 kali, sedangkan di laga tandang hanya mencetak 12 gol dengan kebobolan 6 gol. Perbedaan atmosfer stadion ikut disorot Bonek sebagai salah satu faktor.

Rata-rata penonton laga kandang mencapai 16.753 orang, sementara laga tandang hanya disaksikan sekitar 5.910 penonton. Tekanan besar di Gelora Bung Tomo dianggap memengaruhi mental pemain. Beberapa komentar dari Bonek menyebutkan bahwa tekanan di kandang justru menjadi beban bagi pemain.

Meski begitu, optimisme tetap dijaga oleh sebagian suporter setia. Beberapa Bonek menulis bahwa laga home selanjutnya bisa menjadi kemenangan jika terus didukung.

Tantangan untuk Pelatih dan Tim

Fenomena Persebaya Surabaya gacor di laga tandang namun grogi di kandang sendiri kini menjadi pekerjaan rumah bagi Bernardo Tavares. Konsistensi mental dan keberanian bermain lepas di Gelora Bung Tomo menjadi kunci agar Green Force tetap kompetitif hingga akhir musim.

Share This Article
Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *