Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) sedang mempertimbangkan penerapan sistem penilaian baru dalam pertandingan bulu tangkis, yaitu 15×3. Sistem ini menimbulkan perdebatan yang semakin menghangat terkait apakah akan memberikan manfaat bagi para pemain, yang merupakan pihak utama dalam olahraga ini.
Thinaah Muralitharan, pemain ganda putri peringkat dua dunia, menyatakan bahwa ia tidak melihat kerugian dalam mencoba sistem tersebut, khususnya untuk ganda putri. Menurutnya, sistem ini bisa menjadi sesuatu yang baru dan mungkin lebih cepat serta intens.
“Saya pikir tidak ada salahnya mencobanya karena ini sesuatu yang baru. Bahkan sistem jam waktu pun baru. Tidak ada salahnya untuk mencoba,” ujarnya dalam sebuah podcast.
Ia juga menyebutkan bahwa dengan sistem 15 poin, kehilangan lima poin bisa membuat seseorang tertinggal setengah permainan dengan hanya sepuluh poin tersisa. Hal ini dapat memengaruhi fokus dan persiapan mental pemain.
Dalam podcast yang sama, Viktor Axelsen, juara dunia dua kali, turut berbagi pandangannya. Ia mengatakan bahwa meskipun pertandingan akan lebih pendek di awal, pemain akan beradaptasi seiring waktu.
“Akan menarik untuk dilihat. Pertandingan pasti akan lebih pendek di awal, tetapi begitu pemain terbiasa, semuanya akan seimbang,” katanya.
Axelsen juga menyampaikan preferensinya terhadap sistem 5×11 atau maksimal lima gim dengan 11 poin. Menurutnya, sistem ini lebih cocok karena memberikan kesempatan lebih banyak kepada pemain untuk berpindah sisi lapangan. Dengan sistem 3×15, pemain mungkin menghadapi tantangan besar jika mulai dari sisi lapangan yang berangin.
Namun, Axelsen tidak melihat masalah besar dengan sistem 3×15, meski menurutnya tidak akan membawa dampak besar terhadap kualitas pertandingan. BWF telah menguji coba sistem 5×11 bersama dengan 3×15. Persaingan dalam pertandingan 5×11 cenderung menurun setelah skor gim 2-0 dibandingkan saat 1-0 di 3×15.
Selain itu, BWF juga memperhatikan usulan lain seperti durasi penyelenggaraan turnamen dan kalender kompetisi. Soal waktu penyelenggaraan, BWF telah mengabulkan keinginan Axelsen agar turnamen digelar lebih panjang, sehingga ada waktu untuk istirahat dan acara promosi lainnya.
Mulai tahun depan, tiga ajang mayor seperti Kejuaraan Dunia, Piala Thomas-Uber, dan Piala Sudirman akan digelar selama 12 hari. Adapun turnamen Super 1000 dihelat selama 11 hari. BWF juga menjanjikan fasilitas yang lebih baik. Namun, masih ada ketidakpastian terkait ketentuan bagi pemain top.
Dua kali dalam setahun, BWF memasukkan 15 besar pemain tunggal dan 10 besar pasangan ganda dalam ranking dunia ke program Top Committed Player. Mereka wajib tampil mengikuti semua ajang Super 1000 (4 event) dan Super 750 (6 event), World Tour Finals jika lolos, dan minimal 2 ajang Super 500 dalam satu musim BWF World Tour.
Pemain juga diwajibkan hadir dalam acara media di ajang-ajang tersebut, bahkan saat cedera. Harus ada izin medis untuk mendapat pengecualian, dan tidak mudah untuk menghindari denda. Masalahnya, BWF tidak menanggung biaya perjalanan ataupun akomodasi bagi pemain-pemain di atas. Axelsen telah beberapa kali mengkritik ketidakadilan ini.
Belum lama ini, kalender turnamen juga dikritik karena jeda hanya dua minggu antara turnamen terakhir (World Tour Finals) dan turnamen pertama (Malaysia Open).