Ramadan di Gaza: Kebutuhan Pangan Naik, Harga Tak Terjangkau

Zaiful Aryanto
5 Min Read

Kondisi Warga Gaza Menyambut Ramadan

Warga Gaza menyambut datangnya bulan suci Ramadan dengan berbagai tantangan ekonomi dan sosial. Harga pangan yang melonjak membuat banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Banyak dari mereka tidak memiliki penghasilan tetap, sehingga makanan di pasar menjadi sulit terjangkau.

Meski situasi keamanan lebih baik setelah gencatan senjata, pemulihan kehidupan warga masih sangat berat. Perang yang berlangsung selama lebih dari dua tahun telah meninggalkan luka mendalam, baik secara fisik maupun psikologis. Dikutip dari laporan Kementerian Kesehatan, serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 72.061 orang dan melukai 171.715 orang sejak Oktober 2023.

Tantangan Ekonomi dan Kehidupan Sehari-hari

Video yang diunggah oleh Viory pada Rabu (18/2/2026) menunjukkan warga Gaza berjalan di pasar sambil melihat kurma, sayuran, buah-buahan, acar, dan dekorasi Ramadan. Meskipun kios-kios tampak ramai dan berwarna-warni, realitas ekonomi bagi sebagian besar pembeli tetap memprihatinkan.

Mohammed Al-Hilu, seorang pedagang, mengatakan: “Makanan dan minuman tersedia, tetapi tidak semua orang dapat membelinya karena harganya tinggi. Harganya sudah tidak terjangkau bagi konsumen.” Ia juga mengingat kondisi sebelum perang, di mana harga wajar dan semua orang bisa bekerja.

Yahya Yassin, warga lainnya, menyuarakan kekhawatiran serupa. “Situasinya sangat sulit sekarang. Tidak ada pekerjaan, tidak ada lapangan kerja, dan orang-orang tidak punya uang.” Menurutnya, meskipun semua barang tersedia di pasar, tidak ada uang tunai yang cukup untuk membelinya.

Kurangnya stabilitas keuangan menjadi hambatan utama bagi warga Gaza tahun ini. Salah satu warga bernama Jalal mengatakan, “Ada keluarga yang sama sekali tidak memiliki penghasilan.” Namun, ia menambahkan bahwa situasi keamanan tahun ini relatif membaik. “Orang-orang bisa pergi ke pasar. Tahun lalu tidak ada seorang pun karena mereka takut datang.”

Cuaca Ekstrem Memperparah Penderitaan

Cuaca dingin ekstrem dan hujan deras telah memperparah penderitaan warga Gaza. Anak-anak terkena dampaknya secara langsung, sementara kamp pengungsian terendam banjir dan bangunan yang rusak semakin runtuh.

Raed Koheel dari Kota Gaza mengatakan, “Banyak yang telah berubah pada Ramadan kali ini dibandingkan Ramadan sebelum perang.” Ia menjelaskan bahwa dulu suasana lebih menyenangkan, dengan jalan-jalan diterangi dekorasi dan anak-anak yang bahagia.

Tradisi Ramadan yang Tetap Dipertahankan

Di tengah kehancuran yang luar biasa, sebagian warga Palestina berusaha mempertahankan tradisi Ramadan. Di Khan Younis, kaligrafer Hani Dahman melukis tulisan “Selamat Datang, Ramadan” dalam bahasa Arab di antara reruntuhan, sementara anak-anak menyaksikan proses tersebut.

Dahman berkata, “Kami di sini, di kamp Khan Younis, mencoba membawa kebahagiaan ke hati anak-anak, perempuan, laki-laki, dan seluruh keluarga.” Ia juga mengirimkan pesan kepada dunia bahwa warga Gaza adalah orang-orang yang mencintai kehidupan.

Lampu hias Ramadan kini tergantung di antara puing-puing. Mohammed Taniri, yang menyaksikan upaya tersebut, mengatakan: “Ketika mereka menyediakan dekorasi yang indah dan sederhana seperti itu, hal itu membawa kegembiraan bagi anak-anak. Terlepas dari semua kesulitan, mereka berusaha menciptakan suasana yang indah.”

Ramadan Setelah Gencatan Senjata

Ramadan tahun ini merupakan yang pertama sejak gencatan senjata diumumkan di Gaza, setelah dua tahun penduduk Jalur Gaza menjalani bulan suci di tengah konflik, kehancuran, pengungsian, serta kekurangan makanan dan obat-obatan yang parah.

Meski tidak ada lagi penembakan aktif yang memberi sedikit kelegaan, jalan menuju pemulihan masih panjang dan berat. Ramadan adalah bulan kesembilan dalam kalender lunar Islam dan dianggap sebagai salah satu bulan tersuci bagi umat Muslim. Selama bulan ini, puasa dari fajar hingga matahari terbenam dijalankan sebagai salah satu dari lima rukun Islam.

Salat Tarawih Pertama

Pada Selasa (17/2/2026), warga Palestina melaksanakan salat Tarawih pertama untuk menyambut Ramadan. Ribuan warga Palestina berkumpul di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur, pada Selasa malam untuk menunaikan salat Tarawih pertama tahun ini, seiring terlihatnya bulan sabit yang menandai dimulainya Ramadan.

Rekaman video memperlihatkan para jemaah melaksanakan salat Tarawih di halaman masjid dalam suasana damai yang dipenuhi iman, kesalehan, dan semangat spiritual. “Dari Masjid Al-Aqsa, kami mengucapkan selamat Ramadan. Sejak salat Tarawih pertama, para jemaah terus berdatangan ke masjid. Semoga tetap dipenuhi umat Muslim dalam suasana damai,” kata seorang warga setempat, Mohammed Al Khatib.

Media Palestina melaporkan bahwa pasukan Israel memberlakukan pembatasan di gerbang Masjid Al-Aqsa, memeriksa identitas para jemaah, serta melarang sebagian dari mereka memasuki area masjid.

Share This Article
Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *