Harga daging sapi di Bandung capai Rp 16 ribu per kg, kenaikan diprediksi naik jelang Idulfitri

Bayu Purnomo
4 Min Read

Harga Daging Sapi di Bandung Mencapai Rp160 Ribu per Kilogram

Harga daging sapi di Kota Bandung telah mencapai tingkat yang sangat tinggi, yaitu sekitar Rp160 ribu per kilogram. Hal ini terjadi sebelum bulan Ramadan dan diprediksi akan terus meningkat hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri. Kenaikan harga ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk ketidakpastian pasokan domestik dan dinamika impor pada tahun 2026.

Produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 45–46 persen dari kebutuhan nasional akan daging ruminansia besar seperti sapi, kerbau, domba, dan kambing. Sisanya berasal dari impor, baik dalam bentuk sapi bakalan maupun daging beku. Impor sapi bakalan biasanya dilakukan dengan cara menggemukkan ternak selama 2,5–3 bulan sebelum dipotong, sedangkan daging beku meliputi daging sapi dan kerbau.

Penurunan Populasi Sapi dan Kerbau

Data Sensus Pertanian 2023 menunjukkan bahwa populasi sapi dan kerbau di Indonesia turun sebesar 17,2 persen dalam 10 tahun terakhir. Pada 2013, jumlah populasi mencapai 14,23 juta ekor, namun pada 2023 hanya tersisa 11,79 juta ekor. Dari jumlah tersebut, 11,32 juta ekor adalah sapi potong dan sapi perah, sementara sisanya merupakan kerbau.

Populasi sapi mengalami penurunan dari 13,1 juta ekor menjadi 11,3 juta ekor, sedangkan populasi kerbau turun dari 1,109 juta ekor menjadi sekitar 470 ribu ekor. Daerah dengan populasi sapi terbesar antara lain Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara. Sementara itu, populasi kerbau terbanyak terdapat di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Aceh.

Penurunan populasi ini diduga berkaitan dengan merebaknya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sejak Mei 2022. Pada Januari 2026, sekitar 800 ekor sapi dilaporkan terpapar PMK. Pemerintah mulai mendistribusikan 4 juta dosis vaksin PMK pada 2026, atau sekitar 33,9 persen dari total populasi sapi dan kerbau saat ini.

Prediksi Kenaikan Harga Daging

Menurut Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi), Khudori, potensi kenaikan harga daging sapi dan kerbau akan semakin menguat seiring ketidakpastian pasokan domestik serta dinamika impor. Tanpa kejelasan jumlah populasi dan kemampuan produksi domestik, kepastian pasokan menjadi pertaruhan utama.

Khudori menyatakan bahwa jika pasokan domestik tidak cukup, kenaikan harga akan menjadi konsekuensi mekanisme pasar. Dalam sebulan terakhir, berdasarkan data panel harga Badan Pangan Nasional periode 26 Januari–26 Februari 2026, rata-rata harga daging kerbau di tingkat konsumen mencapai Rp111.848 per kilogram. Angka ini melampaui harga acuan sebesar Rp80 ribu per kilogram sesuai Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 12 Tahun 2024.

Di sisi lain, Kementerian Pertanian melalui surat edaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan tertanggal 27 Januari 2026 dan 2 Februari 2026 mengatur harga jual maksimal sapi hidup di tingkat feedlot sebesar Rp55 ribu per kilogram dan di rumah pemotongan hewan sebesar Rp56 ribu per kilogram bobot hidup.

Impor Daging dan Potensi Dampaknya

Khudori menilai adanya kecenderungan peternak menunda penjualan ternak menjelang Idul Adha. Jika sapi lokal siap potong terbatas, harga di tingkat peternak dan rumah pemotongan hewan berpotensi meningkat, sehingga mendorong harga daging di tingkat konsumen melampaui harga acuan sebesar Rp130 ribu hingga Rp140 ribu per kilogram.

Pada 2026, pemerintah merencanakan impor sebanyak 400 ribu ekor sapi indukan, 700 ribu ekor sapi bakalan, dan 297 ribu ton daging beku. Dari 700 ribu sapi bakalan, sebanyak 600 ribu ekor dialokasikan untuk swasta dan 100 ribu ekor untuk BUMN, yakni PT Berdikari. Sementara impor daging beku sebanyak 250 ribu ton dialokasikan kepada BUMN dan 47 ribu ton kepada swasta. Dari 250 ribu ton yang diimpor BUMN, 100 ribu ton merupakan daging kerbau asal India.

Namun, Khudori mengingatkan bahwa jika BUMN yang ditugaskan belum sepenuhnya siap, maka yang dirugikan adalah masyarakat, pelaku usaha, dan ekonomi secara luas. Alih-alih memperbaiki keadaan, bisa-bisa menciptakan pemburu rente baru.


Share This Article
Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *