Ancaman Penutupan Selat Hormuz Mengancam APBN

Lani Kaylila
4 Min Read



JAKARTA – Situasi yang memanas di kawasan Timur Tengah kini menimbulkan kekhawatiran baru terhadap jalur distribusi energi global. Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah risiko penutupan Selat Hormuz, sebuah jalur strategis yang digunakan untuk pengiriman minyak dunia. Pemerintah menganggap situasi ini bisa berdampak langsung pada Anggaran Pendapan dan Belanja Negara (APBN).

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Deni Surjantoro, menjelaskan bahwa eskalasi konflik dapat memicu kenaikan harga komoditas, termasuk minyak mentah Indonesia (ICP), batu bara, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), dan nikel. “Konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi memengaruhi kenaikan harga komoditas, tekanan inflasi, nilai tukar, suku bunga, serta aktivitas ekonomi secara parsial,” ujar Deni dalam pesan singkatnya, Senin (2/3/2026).

Jika Selat Hormuz mengalami gangguan, maka harga minyak dunia bisa melonjak lebih tinggi. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pasar global, tetapi juga di dalam negeri, terutama pada beban subsidi energi. Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan belanja negara untuk menjaga harga BBM dan listrik tetap terjangkau bagi masyarakat.

Meski demikian, pemerintah melihat adanya sisi positif dari kenaikan harga komoditas ekspor utama. Batu bara, CPO, dan nikel yang harganya naik berpotensi memberi tambahan pendapatan negara atau windfall. Namun, tambahan penerimaan tersebut harus seimbang dengan potensi lonjakan belanja energi.

Dari sisi perdagangan, dampak langsung konflik dinilai relatif terbatas. Nilai ekspor Indonesia ke negara-negara Teluk sekitar 8,7 miliar dolar AS, jauh lebih kecil dibandingkan total ekspor nasional yang mendekati 300 miliar dolar AS. “Dampak terhadap ekspor relatif terbatas, namun risiko penutupan Selat Hormuz tetap perlu diwaspadai,” kata Deni.

Pemerintah menegaskan komitmen untuk menjaga defisit APBN tetap terkendali di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Stabilitas fiskal dinilai penting agar program prioritas tetap berjalan dan daya beli masyarakat tidak terganggu.

Ke depan, pemerintah akan terus berkoordinasi dengan otoritas moneter dan sektor keuangan untuk meredam berbagai potensi risiko. Bagi masyarakat, yang paling terasa adalah bagaimana negara menjaga harga energi dan stabilitas ekonomi tetap aman di tengah gejolak global yang belum mereda.

Pasokan Minyak Terganggu

Gangguan pelayaran di Selat Hormuz setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran mulai berdampak pada pasar energi dan distribusi barang global. Sejumlah kapal tanker dan kapal kontainer dilaporkan menghentikan perjalanan atau berbalik arah dari jalur strategis tersebut.

Menurut laporan Bloomberg, media Iran menyebut perairan itu “praktis tertutup”, meski belum ada pengumuman resmi dari pemerintah Teheran. Awak kapal mengaku menerima siaran radio yang memperingatkan pelayaran di wilayah tersebut tidak aman.

Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital karena sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melintas setiap hari. Gangguan pada jalur ini langsung memicu kekhawatiran pasar energi.

Produk perdagangan ritel menunjukkan harga minyak mentah West Texas Intermediate sempat melonjak lebih dari 8 persen pada Sabtu malam waktu London. Pasar kini menunggu pembukaan perdagangan awal pekan untuk melihat respons lebih luas. Tak hanya minyak, kapal kontainer yang membawa barang konsumsi juga terdampak.

“Perusahaan menghentikan sementara pelayaran melalui Hormuz,” tulis Perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd AG dalam keterangan resminya dikutip dari Bloomberg, Ahad (1/3/2026).

Sementara Nippon Yusen KK meminta armadanya menghindari jalur tersebut. Penumpukan kapal terlihat di kedua sisi selat. Beberapa pemilik kapal mempertimbangkan membatalkan kontrak dengan memanfaatkan klausul perang dalam perjanjian pelayaran. Jika kondisi ini berlangsung lama, pasokan kapal di kawasan bisa menyusut dan tarif angkut melonjak.

Kenaikan freight rate berpotensi merembet pada harga barang impor, mulai dari bahan baku industri hingga produk rumah tangga. Sementara itu, tertahannya pengiriman LNG dari Qatar juga menambah tekanan di pasar energi global.

Share This Article
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *