Penjelasan Menteri ESDM Terkait Harga BBM Non Subsidi
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan penjelasan mengenai kebijakan pemerintah terkait harga bahan bakar minyak (BBM). Ia menegaskan bahwa pemerintah hanya mengatur jenis BBM yang termasuk subsidi. Sedangkan untuk BBM nonsubsidi, harganya diatur sesuai dengan mekanisme pasar global, berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2022.
Bahlil menjelaskan bahwa BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex ditujukan khusus untuk kalangan mampu. Hal ini dilakukan karena penggunaan BBM tersebut tidak dibiayai oleh pemerintah.
Kenaikan Harga BBM Non Subsidi
Harga BBM nonsubsidi mulai naik pada tanggal 18 April 2026. Berdasarkan data dari Pertamina, harga Pertamax Turbo meningkat menjadi Rp19.400 hingga Rp20.250 per liter. Harga ini bervariasi di setiap provinsi. Kenaikan ini cukup signifikan karena sebelumnya, pada 1 Maret 2026, harga Pertamax Turbo masih berada di angka Rp13.100 per liter.
Selain itu, Dexlite juga mengalami kenaikan. Pada 1 Maret 2026, harga Dexlite masih Rp14.200 per liter, namun kini naik menjadi Rp23.600 hingga Rp24.650 per liter. Sementara itu, Pertamina Dex juga mengalami kenaikan, dari Rp13.800 hingga Rp15.100 per liter menjadi Rp22.700 hingga Rp24.950 per liter.
Reaksi Masyarakat Terhadap Kenaikan Harga BBM
Kenaikan harga BBM nonsubsidi mendapat berbagai respons dari masyarakat, baik dari warga biasa maupun para pengusaha. Salah satu keluhan datang dari warga Depok, Pangestu Perkasa, yang khawatir kenaikan harga BBM akan berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok.
Pangestu menyampaikan kekhawatirannya melalui komentar yang disampaikan pada hari Sabtu. Ia berharap pemerintah mempertimbangkan dampak lanjutan dari kebijakan tersebut.
Di Jakarta, Rizki, warga Petamburan, juga mengungkapkan kekhawatiran serupa. Ia mengaku terdampak langsung karena menggunakan Pertamax Turbo sebagai bahan bakar motor yang digunakan untuk bekerja sebagai ojek online. Ia menyebut bahwa biaya BBM yang semakin tinggi akan memengaruhi pendapatan harian.
Rizki menjelaskan bahwa sebelum kenaikan, ia bisa menghabiskan sekitar Rp80 ribu per hari untuk belanja BBM. Namun, setelah kenaikan, ia memperkirakan pengeluaran akan meningkat menjadi sekitar Rp90 ribu hingga Rp100 ribu per hari.
Meskipun demikian, Rizki tetap memilih menggunakan BBM nonsubsidi karena dianggap lebih aman untuk mesin motor. Ia berharap tarif ojek online juga ikut naik agar bisa menutupi biaya bensin yang meningkat.
Dampak dan Langkah yang Diambil
Untuk mengurangi dampak kenaikan harga BBM, Rizki berencana memperpanjang jam kerja hingga pukul 23.00 WIB. Hal ini dilakukan guna menutupi biaya bensin yang semakin besar.