Eskalasi Konflik Iran-Israel dan Dampaknya pada Sistem Energi Global
Konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat terus memicu ketegangan di berbagai sektor, termasuk sistem energi global. Perang ini telah mengganggu jalur perdagangan minyak dunia, khususnya di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur distribusi energi paling vital. Akibatnya, indeks saham global juga mulai menunjukkan kecenderungan melemah.
Investor mulai khawatir bahwa konflik geopolitik ini akan berlangsung lebih lama dari perkiraan awal. Beberapa analis memperkirakan bahwa konflik ini bisa berlangsung selama beberapa bulan, bukan hanya dalam hitungan minggu. Hal ini membuat pasar modal semakin waspada terhadap potensi fluktuasi harga energi dan dampaknya terhadap ekonomi global.
Peluang bagi Indonesia dari Lonjakan Harga Energi
Tim riset Sinarmas Sekuritas melihat adanya peluang bagi Indonesia akibat lonjakan harga energi yang disebabkan oleh konflik Iran-Israel. Batu bara, sebagai salah satu komoditas ekspor utama nasional, dinilai memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.
“Lonjakan pada tolok ukur energi menawarkan lindung nilai struktural yang unik bagi Indonesia, mengingat status batu bara sebagai ekspor utama,” tulis tim riset Sinarmas Sekuritas dalam laporannya.
Selain itu, beberapa saham energi di Indonesia dinilai berpotensi mendapatkan untung dari situasi ini. Di antaranya adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Indika Energy Tbk (INDY), dan PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA). Saham-saham ini dipandang sebagai pilihan investasi yang layak untuk diperhatikan dalam kondisi pasar yang tidak stabil.
Peran Kawasan Timur Tengah dalam Sistem Energi Global
Kawasan Timur Tengah memiliki peran sangat besar dalam sistem energi global. Wilayah ini menjadi rumah bagi lima dari sepuluh produsen minyak terbesar dunia, yaitu Arab Saudi, Iran, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kuwait. Selain itu, tiga dari sepuluh produsen gas terbesar dunia juga berada di kawasan tersebut, yakni Iran, Qatar, dan Arab Saudi.
Secara keseluruhan, kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar sepertiga produksi minyak dunia serta seperempat produksi gas global. Ketergantungan pasar global terhadap sumber daya energi dari kawasan ini membuat wilayah ini menjadi pusat perhatian dalam setiap ketegangan geopolitik.
Pentingnya Jalur Selat Hormuz
Selat Hormuz menjadi jalur distribusi energi paling vital di dunia. Setiap hari sekitar 20 juta barel minyak melintasi selat ini, atau setara dengan sekitar 25% perdagangan minyak dunia melalui jalur laut dan sekitar 20% perdagangan LNG global. Lebih dari 80% minyak dan LNG yang melintasi Selat Hormuz juga ditujukan ke pasar Asia.
Pilihan jalur alternatif untuk menghindari selat ini sangat terbatas. Menurut data US Energy Information Administration, kapasitas pipa cadangan di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang dapat digunakan untuk mengalihkan pengiriman hanya sekitar 2,6 juta barel per hari. Hal ini membuat jalur Selat Hormuz menjadi sangat rentan terhadap gangguan apabila terjadi konflik serius.
Guncangan di Sektor Energi Global
Sinarmas Sekuritas menilai arah harga energi dan kondisi ekonomi global ke depan sangat bergantung pada perkembangan konflik yang sedang berlangsung. Risiko terbesar muncul bila Selat Hormuz benar-benar ditutup. Kondisi tersebut berpotensi memicu guncangan besar pada pasar energi global.
Sebagian analis sebelumnya memperkirakan pembekuan di Selat Hormuz biasanya hanya berlangsung dalam beberapa bulan. Namun pernyataan terbaru dari Donald Trump menyebut operasi militer Amerika Serikat dan Israel bisa berlangsung selama lima minggu atau lebih. Jika blokade berlangsung permanen, situasi tersebut sebenarnya juga merugikan Iran karena pendapatan minyaknya sangat bergantung pada jalur tersebut.
Dalam skenario ini, analis memperkirakan Cina sebagai pembeli utama energi dari kawasan tersebut akan memberikan tekanan diplomatik agar jalur perdagangan kembali dibuka. Namun, terdapat pula risiko skenario yang lebih besar, yakni Iran memperluas serangan ke infrastruktur energi regional seperti fasilitas LNG di Qatar, kilang minyak di Arab Saudi serta pelabuhan dan kapal tanker di UEA. Jika hal itu terjadi, harga energi global berpotensi melonjak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Rekomendasi Rotasi ke Saham Energi
Di tengah ketegangan geopolitik tersebut, indeks saham global tercatat bergerak melemah sejak dimulainya operasi militer AS-Israel yang disebut “Epic Fury”. Pada perdagangan saham hari ini, Indeks Harga Saham Global (IHSG) tercatat naik 1,67% ke level 7.703. Namun pada perdagangan kemarin, indeks ditutup anjlok 4,57% ke level 7.577.
Sinarmas Sekuritas mencatat, IHSG sempat mencatat arus keluar dana asing (ouflow) sekitar Rp 500 miliar setelah serangan awal terjadi. Tekanan jual terutama terjadi pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.
Kendati demikian, Sinarmas Sekuritas menilai kenaikan harga energi dapat menjadi penopang bagi pasar Indonesia karena batu bara merupakan komoditas ekspor utama. Oleh karena itu, analis merekomendasikan investor melakukan rotasi portofolio ke sektor energi selama periode ketegangan geopolitik.
Namun, kata dia, IHSG tetap akan menghadapi tiga risiko utama, yakni penularan risiko geopolitik global yang mendorong investor menghindari aset berisiko, potensi penurunan status pasar oleh MSCI Inc. menjadi frontier market serta risiko penurunan prospek kredit negara setelah Fitch Ratings merevisi outlook Indonesia menjadi negatif.