Perang di Selat Hormuz Memasuki Hari ke-21
Perang terbuka di Selat Hormuz, yang dipicu oleh konflik antara Republik Islam Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, telah memasuki hari ke-21 sejak dimulainya insiden pertama pada Sabtu (28/2/2026). Konflik ini tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga dampak emosional dan spiritual bagi masyarakat Iran. Karena bertepatan dengan perayaan besar seperti Idul Fitri 1447 Hijriyah dan Nowruz, Tahun Baru Persia 2026, situasi semakin memanas.
Presiden Donald Trump melalui Pentagon kembali mengajukan anggaran tambahan perang senilai US$200 miliar (Rp3.391 triliun) ke parlemen Amerika. Anggaran ini akan diputuskan pekan depan. Dalam laporan dari Center for Strategic & International Studies (CSIS) dan BBC, dinyatakan bahwa jika anggaran ini disetujui, maka perang bisa berlangsung hingga Agustus 2026, atau beberapa pekan setelah perayaan Independence Day Amerika.
Di Washington DC, akhir pekan ini, Presiden Trump juga mengumumkan pengiriman pasukan elite Marinir tambahan ke Timur Tengah. Di akun X-nya, Trump menyebutkan bahwa Selat Hormuz harus dijaga bersama sebagai jalur vital transportasi sekitar seperlima aliran minyak dan gas global. Ia bahkan terbuka meminta bantuan militer negara-negara “pelintas” untuk menjaga jalur tersebut.
Pidato Ayatollah Mojtaba Khamenei
Di Teheran, pemimpin tertinggi revolusi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, memberikan pidato virtual untuk menegaskan upaya perlawanan sengit militer Iran belum surut. Ia memuji ketabahan semangat perang syahid dan meminta kesabaran kolektif 92,2 juta warganya. “Musuh kita mulai retak. Ini saatnya kita memasuki tahun baru ekonomi perlawanan di bawah bendera persatuan dan keamanan nasional,” ujarnya dalam siaran resmi negara.
Sejak wafatnya ayahnya dan enam elite spiritualis Iran, Mojtaba belum pernah tampil terbuka ke publik. Media Amerika dan Israel melaporkan bahwa sosok generasi ketiga pemimpin teologis Republik Islam Iran ini masih terluka pascainsiden bom terkontrol Israel, 3 pekan lalu.
Pernyataan Presiden Iran Masoud Pezeshkian
Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyampaikan pesan Nowruz, menegaskan kembali bahwa negaranya tidak menginginkan senjata nuklir. Ia juga mengulangi pernyataan Khamenei bahwa Iran tidak mencari perang dengan negara-negara tetangganya. Namun jika ada yang memulai, Iran takkan gentar.
“Kesulitan kita adalah akibat campur tangan musuh. Tetangga-tetangga terkasih (Timur Tengah) yang mengelilingi kita, kalian adalah saudara-saudara kami. Kami datang untuk menyelesaikan semua perbedaan ini dengan kalian,” kata Pezeshkian.
Analisis CSIS dan BBC
Laporan dari CSIS dan BBC menyebutkan bahwa proposal tambahan alokasi anggaran perang Gedung Putih dan Pentagon senilai US$200 miliar (Rp3.391 triliun) yang akan diputuskan Parlemen AS, pekan depan. Jika diterima, anggaran ini dapat membiayai perang panjang hingga Agustus 2026.
Kalaulah anggaran perang USD 200 miliar diterima, ini diprediksi mampu membiayai perang panjang hingga Agustus 2026, atau beberapa pekan usia perayaan Independent Day. Jika anggaran perang tambahan itu dikonversi ke sejarah fiskal Indonesia, ini setara postur APBN 2024.
Kerugian Perang
Ekses kerugian perang selama 19 hari, sejak Sabtu (28/2/2026) hingga Jumat (20/3/2026) sudah tembus US$28,1 miliar dolar atau setara Rp470 Triliun. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengatakan, “Perlu uang untuk menumpas musuh.” Dia menambahkan nominal proposal tersebut “masih dapat berubah.”
Nominal ini melampaui biaya setahun program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah Indonesia, Rp339 Triliun, dalam postur APBN 2026 ini. CSIS menyebut tambahan alokasi ongkos tempur ini adalah analisa biaya dan kerugian dan kerusakan akibat perang selama 18 hari.
Korban dan Kerusakan
Human Rights Activists News Agency (Hrana) yang berbasis di AS memperkirakan total korban tewas dari pihak Iran dan Israel dan militer telah mendekati 3.200 orang, termasuk 1.400 warga sipil. AS juga telah kehilangan 13 personel militer sejak Presiden Donald Trump bergabung dengan Israel.
Analisis BBC menunjukkan sebagian besar kerusakan terjadi saat serangan balasan awal Iran, atau sepekan pertama pasca-Fury Epic Operation AS dan Israel. Gambaran lengkap mengenai kerusakan terhadap aset-aset AS di kawasan tersebut masih kabur dan belum sepenuhnya terkonfirmasi terbuka.
Namun, estimasi kerugian sebesar US$800 juta pada infrastruktur militer AS—angka yang lebih tinggi dibanding laporan sebelumnya—menggambarkan skala besarnya biaya tanggungan Washington seiring berlarutnya konflik.
Kerusakan pada Pangkalan Militer AS
BBC menulis, gelombang serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan militer yang digunakan Amerika Serikat di Timur Tengah menimbulkan kerusakan sekitar US$800 juta (Rp13,5 triliun) selama dua minggu pertama perang. Bobot kerusakan terbesar ditimbulkan dari serangan atas sejumlah fasilitas radar militer AS yang menjadi bagian dari sistem pertahanan rudal Thaad di pangkalan udara Yordania.
Sistem radar AN/TPY 2 bernilai sekitar US$485 juta (Rp8,2 triliun), menurut telaah CSIS atas dokumen anggaran Departemen Pertahanan AS. Sistem pertahanan udara itu digunakan untuk mencegat rudal balistik jarak jauh. Serangan berulang ini menegaskan upaya keras Teheran membidik aset-aset spesifik milik AS.
Moskow dan Beijing bahkan dilaporkan mulai berbagi intelijen dengan Teheran mengenai keberadaan pasukan Amerika di kawasan semenanjung Timur Tengah. Citra satelit menunjukkan tiga pangkalan udara—Pangkalan Ali Al Salim di Kuwait, Al Udeid di Qatar, dan Pangkalan Prince Sultan di Arab Saudi—mengalami kerusakan baru pada berbagai fase konflik.