30 Tahun LPG Nonsubsidi, Harga Naik Bersama BBM, Pengeluaran Membengkak

Rizal Hartanto
5 Min Read

Kenaikan Harga LPG Nonsubsidi 12 Kg Membuat Warga Kesulitan

Harga elpiji (LPG) nonsubsidi 12 kilogram mengalami kenaikan dari Rp192.000 menjadi Rp228.000. Perubahan ini menimbulkan keluhan dari warga yang merasa kesulitan karena kenaikan harga terjadi bersamaan dengan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) dan kebutuhan pokok lainnya. Akibatnya, banyak masyarakat mempertimbangkan kembali penggunaan gas subsidi 3 kg.

Keluhan Warga Terhadap Kenaikan Harga Gas

Michael (24), warga Kalideres, Jakarta Barat, mengaku baru saja mengetahui bahwa harga LPG nonsubsidi naik sebesar Rp40.000. Ia merasa kenaikan tersebut memberatkan, terutama karena terjadi bersamaan dengan melambungnya harga BBM dan sembako.

“Baru tahu juga nih kalau harganya naik, lumayan juga Rp 40.000 kan, berasa juga kenaikannya,” kata Michael kepada Kompas.com, Minggu (19/4/2026).

Michael meyakini bahwa kenaikan harga energi akan diikuti oleh lonjakan harga kebutuhan lain di pasaran. Meski baru sekitar satu tahun menggunakan elpiji nonsubsidi, ia sudah memperkirakan kenaikan tersebut, seiring eskalasi konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat.

“Sebenarnya sudah expected sih, karena lumayan ngikutin harga tiket pesawat yang bergantung sama avtur. Terus harga baru Pertamax Dex dan Pertamax Turbo yang naiknya jauh banget, jadi pasti gas nyusul,” ucap Michael.

Pengalaman Pudji: 30 Tahun Menggunakan Gas Nonsubsidi

Keluhan serupa disampaikan Pudji (50), yang telah menggunakan gas nonsubsidi selama lebih dari 30 tahun. Ia mengaku terkejut dengan kenaikan harga yang cukup tinggi di tengah kondisi ekonomi yang dirasanya semakin berat.

Menurut Pudji, kenaikan harga gas terasa semakin membebani karena terjadi bersamaan dengan kenaikan berbagai komoditas lain, termasuk BBM dan bahan dapur.

“Kalau begini kan berat ya, pengeluaran jadi membengkak, menyulitkan lah gitu,” ucap Pudji.

Ia berharap pemerintah dapat mengendalikan harga kebutuhan dasar di tengah gejolak global yang masih berlangsung.

“Ya semoga bisa terkendali lagi lah, enggak naik-naik terus biar enggak semakin menyusahkan, namanya juga ekonomi saat ini semuanya lagi susah,” ujarnya.

Pertimbangan untuk Kembali ke Gas Subsidi 3 Kg

Terhimpit kondisi ekonomi yang semakin mahal, Michael mulai mempertimbangkan kembali menggunakan gas subsidi 3 kg yang sempat ia tinggalkan setahun lalu. Sebelumnya, ia beralih ke gas 12 kg karena kerap kesulitan mendapatkan gas melon yang langka dan distribusinya dinilai belum optimal.

“Karena punya juga tabung subsidi, jadi sementara berganti ke subsidi dulu. Tapi kalau subsidi kan sering kosong, jadi mau enggak mau tetap pakai yang 12 kg. Kalau ganti ke 5,5 kg harus beli tabungnya lumayan, jadi kalau hitung-hitungan, masih efisien yang 12 kg,” tuturnya.

Senada, Pudji mengaku harus memutar otak untuk mencari alternatif lain. Ia kini mempertimbangkan beralih ke gas elpiji 5,5 kg agar pengeluaran rutinnya tidak terus membengkak.

“Mau enggak mau harus cari alternatif yang lebih meringankan. Bisa jadi (pindah ke gas 5,5 kg). Yang jelas sih ya harus dihemat-hemat gasnya,” tuturnya.

Penjelasan Menteri ESDM tentang Harga LPG Nonsubsidi

Berdasarkan laman resmi Pertamina Patra Niaga yang dikutip Minggu (19/4/2026), harga elpiji nonsubsidi Bright Gas 12 kg di tingkat agen distribusi untuk wilayah Jawa Tengah, DKI Jakarta, hingga Jawa Timur kini mencapai Rp 228.000 per tabung. Harga tersebut naik cukup signifikan dari sebelumnya sekitar Rp 192.000 per tabung.

Sementara itu, di wilayah Aceh, Sumatera Utara, hingga Jambi, harga elpiji nonsubsidi bahkan mencapai sekitar Rp 230.000 per tabung.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa LPG 12 kg merupakan elpiji nonsubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat mampu.

“Saya mau tanya, kalau nonsubsidi itu untuk orang kaya atau untuk orang susah? Orang mampu kan,” ujar Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Menurut dia, negara hadir untuk seluruh rakyat, tetapi bantuan energi diprioritaskan bagi masyarakat kurang mampu.

“Gini loh, negara itu hadir untuk membantu semua rakyat, tetapi prioritasnya itu adalah kepada saudara-saudara kita yang tidak mampu. Kalau yang mampu, ya harusnya dia berkontribusi untuk saling membantu, itu saja kok,” ucapnya.

Ia memastikan harga LPG 3 kg bersubsidi tidak mengalami kenaikan di tengah gejolak global, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

“Kalau yang subsidi (harganya) tetap. Saya hanya bisa menjamin harga subsidi karena itu adalah perintah Presiden dan perintah aturan,” kata Bahlil.

Namun, ia menegaskan harga LPG nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar sehingga dapat mengalami penyesuaian.

Bahlil juga mengingatkan masyarakat berpenghasilan tinggi agar tidak menggunakan LPG subsidi 3 kg.

Share This Article
Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *