Perilaku konsumtif di era digital: tantangan finansial muda dan solusi ekonomi syariah

Hendra Susanto
4 Min Read

Perubahan Gaya Hidup Masyarakat Indonesia

Selama satu dekade terakhir, gaya hidup masyarakat Indonesia mengalami perubahan yang sangat signifikan. Perkembangan teknologi digital dan akses ke marketplace telah memudahkan kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal belanja. Kini, orang tidak perlu lagi pergi ke pasar, cukup dengan menggulirkan layar, mengklik keranjang belanja, dan barang akan dikirim langsung ke rumah. Meski memberikan kenyamanan, perubahan ini juga membawa masalah baru, yaitu perilaku konsumtif yang semakin marak. Banyak orang merasa uangnya habis, tetapi ketika ditanya apa saja yang dibeli, tidak ada yang benar-benar terpakai. Hal ini mulai menjadi tren yang mengkhawatirkan, terutama bagi generasi muda yang masih dalam proses pengelolaan keuangan.

Digitalisasi dan Literasi Keuangan

Indonesia saat ini sedang mengalami digitalisasi dan penghubungan keuangan digital. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2023 menyatakan bahwa literasi keuangan masyarakat hanya mencapai 49,68%, sementara inklusi keuangan mencapai 85,10%. Artinya, meskipun akses ke layanan finansial semakin luas, kemampuan masyarakat dalam mengelola keuangan belum optimal. Seperti seseorang diberi mobil, tetapi tidak tahu cara mengendarainya. Banyak fasilitas keuangan digunakan untuk konsumsi jangka pendek tanpa perencanaan masa depan. Masalah ini semakin diperparah oleh media sosial yang sering menampilkan momen-momen yang terjebak dalam utang dan kesulitan finansial.

Pengaruh Lingkungan Digital

Tidak hanya faktor internal seperti keinginan untuk tampil kece atau mencari kenyamanan, lingkungan digital juga turut berkontribusi pada perilaku konsumtif. Iklan-iklan e-commerce kini lebih personal, mengikuti selera pengguna berdasarkan riwayat pencarian mereka. Algoritma yang canggih bahkan bisa tahu apa yang kita mau sebelum kita meminta. Tidak hanya itu, budaya checkout bareng di TikTok, haul ke toko, dan promo tanggal kembar setiap bulan juga memperkuat kecenderungan ini. Banyak orang awalnya hanya ingin melihat-lihat, tapi akhirnya ikut belanja karena malu tidak mendapatkan promo. Fenomena ini juga memperkenalkan istilah FOMO (Fear Of Missing Out), di mana orang merasa perlu belanja demi merasa relevan di tengah masyarakat.

Prinsip Ekonomi Syariah

Dalam pandangan Islam, konsumsi bukanlah sekadar memuaskan nafsu, tetapi memenuhi kebutuhan. Allah juga memberikan peringatan tentang pemborosan dalam QS. Al-Isra’ ayat 27, yang menyatakan bahwa pemboros adalah saudara setan. Pesan ini tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga moral dan spiritual. Dalam ekonomi syariah, harta harus digunakan untuk hal yang bermanfaat dan produktif, bukan hanya untuk kepuasan pribadi. Contohnya, kebiasaan nongkrong di kafe bisa terlihat sepele, tetapi jika dilakukan secara rutin, dapat menghabiskan dana besar. Uang yang seharusnya digunakan untuk tabungan atau investasi justru dialokasikan untuk kebutuhan yang tidak mendesak.

Solusi untuk Mengurangi Konsumtif

Untuk mengurangi perilaku konsumtif, solusi tidak hanya melarang belanja, tetapi juga melalui literasi keuangan dan pengendalian diri. Mahasiswa, misalnya, bisa mulai membuat anggaran bulanan menggunakan metode 50-30-20, yaitu 50% untuk kebutuhan, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan atau investasi. Prinsip frugal juga penting, seperti membawa botol sendiri, memilih transportasi umum, dan membeli barang tahan lama. Kerangka ekonomi syariah meliputi maslahah, tawazun, dan israf. Pengeluaran uang diperbolehkan asalkan digunakan untuk tujuan yang bermanfaat, seperti sedekah, usaha, atau investasi.

Kesimpulan

Perilaku konsumtif adalah hasil dari persepsi masyarakat modern, sedangkan gaya hidup hemat adalah hasil dari perubahan sosial dan dampak media digital. Namun, manusia selalu memiliki kemampuan untuk berubah. Dengan kesadaran, pengetahuan keuangan pribadi, dan prinsip syariah, individu dapat membuat keputusan yang lebih bermanfaat. Tidak semua generasi muda perlu menjadi konsumeris. Kita bisa menikmati hidup dengan cara yang wajar, sambil tetap mempertimbangkan prioritas dan waktu. Harta yang baik tidak hanya membuat hidup lebih menyenangkan, tetapi juga menyebabkan keberkahan.

Share This Article
Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *