Kontroversi Puskas Award 2018! Mohamed Salah Bikin Jalan Rizky Ridho Semakin Berat

Amanda Almeirah
6 Min Read

Sejarah Baru dalam Puskas Award 2025

Kontroversi Puskas Award 2018 kembali menjadi perbincangan setelah Rizky Ridho masuk sebagai salah satu dari 11 nominasi penerima Puskas Award 2025. Kontroversi yang pernah menimpa Mohamed Salah membuat jalan Ridho menuju trofi semakin berat karena sistem penilaian kini tidak lagi sepenuhnya di tangan fans.

FIFA Puskas Award adalah penghargaan untuk gol paling indah dalam satu tahun kalender dan menjadi salah satu ajang paling prestisius sejak dibentuk pada 2009. Penghargaan ini lahir sebagai bentuk apresiasi terhadap gol yang dinilai paling estetis dan spektakuler.

Tahun ini, publik Indonesia dibuat bangga ketika Rizky Ridho masuk nominasi berkat gol setengah lapangan untuk Persija Jakarta. Gol itu tercipta pada laga Super League 2024/2025 kontra Arema FC pada Maret 2025. Ridho mencatat sejarah sebagai pemain Indonesia pertama yang masuk nominasi Puskas Award. Momen ini langsung memantik dukungan besar dari fans sepak bola nasional.

Voting publik tetap punya bobot penting dan suara fans Indonesia menjadi modal besar untuk Ridho. Namun separuh nilai kini berasal dari panel FIFA Legends yang menilai tiga gol teratas hasil pilihan publik.

Perubahan mekanisme itu tidak muncul begitu saja. Akar masalahnya berada pada kontroversi besar Puskas Award 2018 ketika winger andalan Liverpool, Mohamed Salah keluar sebagai pemenang lewat voting penuh dari penggemar. Salah meraih 38 persen suara berkat gol individunya ke gawang Everton dalam derby Merseyside di Anfield. Ia memutar badan melewati dua pemain Everton sebelum melepas tembakan melengkung yang menghujam sudut jauh.

Banyak penggemar mempertanyakan apakah gol itu benar-benar pantas mengalahkan dua kandidat spektakuler lainnya. Gol salto Gareth Bale di final Liga Champions dan aksi akrobatik Cristiano Ronaldo saat melawan Juventus dinilai jauh lebih ikonik. Media sosial langsung dipenuhi perdebatan karena publik merasa penghargaan itu berubah menjadi ajang popularitas. Bahkan beberapa pendukung Liverpool mengakui kualitas gol Salah tidak selevel dua rivalnya.

James Milner menjadi salah satu yang membuat polemik semakin panas lewat cuitan sarkastisnya. “Selamat Mohamed Salah atas gol ketujuh terbaik dari musim lalu yang memenangkan penghargaan gol terbaik tahun ini,” tulis Milner yang langsung viral kala itu. Komentar itu memicu diskusi soal objektivitas pemilihan gol terbaik. Banyak yang menilai kemenangan Salah lebih didorong basis fans besar Liverpool ketimbang kualitas gol secara murni.

Zlatan Ibrahimovic juga ikut bersuara dengan nada tegas. Ketika ditanya apakah ia setuju Salah layak menang, ia menjawab singkat, “Tidak.” Ibrahimovic bahkan menambahkan kritik pedas terhadap daftar kandidat. Ia menyebut, “Jika gol saya tidak masuk daftar, daftar itu tidak menarik,” sambil memberi contoh golnya ke Los Angeles FC dan gol ke-500 dalam kariernya yang dianggap layak dipertimbangkan.

Rangkaian kritik itu membuat FIFA akhirnya mengubah sistem pemilihan demi menjaga kredibilitas penghargaan. Panel ahli kemudian ditunjuk untuk menilai kualitas teknis, tingkat kesulitan, dan estetika dari gol yang masuk daftar tiga besar. Sistem baru ini memberi kesempatan yang lebih adil bagi pemain dari negara non-elite. Namun pada saat yang sama tekanan juga meningkat karena penilaian tidak lagi bisa dimenangkan semata-mata lewat kekuatan fans.

Rizky Ridho kini berada di tengah mekanisme yang lebih ketat ini. Golnya tidak cukup hanya populer, tetapi juga harus mengesankan panel FIFA Legends agar bisa bersaing di putaran akhir. Fans Indonesia terkenal solid dalam urusan voting dan sangat mungkin membantu Ridho masuk tiga besar. Namun keputusan final berada di tangan para panelis yang memiliki parameter penilaian profesional.

Situasi ini membuat perjalanan Ridho jauh lebih berat dibanding era sebelum 2018. Jika sistem lama masih berlaku, dukungan publik Indonesia bisa menjadi penentu penuh hasil akhirnya. Kini Ridho harus menghadapi persaingan bukan hanya dari nama besar Eropa, tetapi juga dari standar penilaian teknis yang menjadi warisan kontroversi 2018.

Kejadian saat Salah menang menjadi pengingat popularitas tak lagi cukup untuk memastikan trofi. Meski begitu peluang Ridho tetap terbuka karena gol jarak jauhnya sudah mencuri perhatian dunia. Gol setengah lapangan dengan presisi seperti itu sering mendapat nilai tinggi dalam aspek kreativitas dan keberanian eksekusi.

Bagi penggemar sepak bola Indonesia, nominasi Ridho saja sudah menyentuh sejarah baru. Namun kesempatan mencetak prestasi lebih besar terbuka jika dukungan publik selaras dengan penilaian panel. Semua mata kini tertuju pada Puskas Award 2025 karena Indonesia akhirnya punya kandidat yang benar-benar kompetitif. Fans berharap Ridho mampu melangkah lebih jauh dan mengubah sejarah menjadi kenyataan.

ridho
Kontroversi kemenangan Salah pada 2018 menjadi pelajaran penting dalam perjalanan menuju penghargaan bergengsi ini. Dari kisah itu, Ridho dan fans Indonesia tahu jalan menuju trofi lebih sulit tetapi bukan mustahil ditaklukkan. Rizky Ridho kini berdiri di panggung dunia dengan peluang yang belum pernah dimiliki pemain Indonesia sebelumnya. Jika keberanian golnya dipadukan dengan dukungan besar publik, langkah menuju sejarah bisa benar-benar terjadi.

Share This Article
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *