Awal yang Suram dan Kekacauan Budaya
Lima tahun lalu, direktur olahraga Kristjaan Speakman mengalami hari pertama kerja yang kacau, yang seolah menjadi metafora sempurna bagi kondisi klub saat itu. Saking asyiknya menelepon pemilik baru Kyril Louis-Dreyfus di kereta, ia melewatkan stasiun pemberhentiannya dan harus turun 30 mil jauhnya di tengah hujan lebat tanpa mantel. Di lapangan, situasi lebih buruk lagi; Sunderland baru saja kalah dari tim juru kunci Wigan Athletic dan terdampar di papan tengah League One.
Saat Louis-Dreyfus mengambil alih pada Februari 2021, ia menemukan sebuah institusi yang sakit parah. Budaya kerja di dalam gedung latihan Academy of Light telah hilang; koridor penuh dengan sampah, pintu rusak, dan meja kerja staf lama dibiarkan berantakan. Speakman menggambarkan suasana saat itu memiliki semua ciri dari “bisnis yang gagal” dan klub tanpa arah yang jelas.
Momen terendah yang paling diingat oleh Louis-Dreyfus adalah saat Sunderland bertandang ke Accrington Stanley. Kala itu, tim dan manajemen merasa “senang” hanya dengan hasil imbang melawan klub kecil tersebut. Itu adalah tamparan keras yang menyadarkan manajemen baru bahwa “seragam dan lencana klub besar” tidak akan memenangkan pertandingan di lapangan yang keras dan menuntut fisik.
Tugas membalikkan keadaan ibarat mencoba menghentikan kapal yang sedang tenggelam. Louis-Dreyfus mengakui bahwa ia mungkin meremehkan parahnya situasi dari luar, terutama dengan adanya pandemi Covid-19 dan degradasi ganda. Namun, rasa syukur tetap ada bagi staf yang bertahan dan peduli, yang menjadi fondasi awal untuk membangun kembali puing-puing kejayaan klub.
Strategi Jangka Panjang dan Faktor Xhaka
Kunci kebangkitan Sunderland adalah kesabaran dan strategi rekrutmen yang sangat spesifik. Manajemen tidak tergoda untuk mencari jalan pintas, melainkan fokus pada model “beli-muda” yang terus dipertahankan hingga kini. Bedanya, jika dulu mereka merekrut Trai Hume dengan harga £150.000, kini mereka berani menggelontorkan £20 juta untuk talenta seperti Noah Sadiki, menunjukkan evolusi finansial yang sehat.
Namun, lompatan kualitas terbesar musim ini adalah keberhasilan mendatangkan Granit Xhaka dari Bayer Leverkusen. Transfer ini sangat instrumental dan melibatkan peran langsung Louis-Dreyfus yang memiliki koneksi Swiss dengan sang pemain. Xhaka adalah satu-satunya pemain yang tidak takut dengan risiko degradasi saat bergabung; ia melihat potensi besar klub dan siap menjadi pemimpin di lapangan.
Direktur sepakbola Florentino Ghisolfi menegaskan bahwa daya tarik Sunderland kini telah kembali. Meski banyak agen memperingatkan risiko degradasi, visi klub dan lingkungan performa yang dibangun berhasil meyakinkan pemain. Kehadiran Xhaka memberikan ketenangan dan mentalitas juara bagi skuad yang didominasi pemain muda termuda di liga selain Chelsea.
Strategi ini bukan hanya soal mengumpulkan bakat, tetapi juga membangun karakter. Ghisolfi mencontohkan Dan Ballard sebagai representasi identitas Sunderland: kerja keras, ketahanan, dan “mesin pembunuh” di lapangan. Kombinasi antara talenta muda berbakat dan pemimpin berpengalaman inilah yang membuat Sunderland mampu bersaing di level tertinggi Liga Primer saat ini.
Membangun Infrastruktur dan Koneksi Emosional
Selain pembenahan skuad, manajemen melakukan investasi besar-besaran pada infrastruktur fisik yang sempat terbengkalai. Lift yang rusak bertahun-tahun di tempat latihan — simbol kemunduran klub — kini tinggal kenangan. Fasilitas gym baru, lapangan berkualitas tinggi, ruang ganti modern, hingga peningkatan area hospitality di stadion menjadi bukti komitmen pemilik untuk membawa klub ke standar modern.
Namun, pembangunan fisik ini diimbangi dengan pembangunan kembali budaya dan koneksi emosional. Ghisolfi berperan layaknya manajer umum yang aktif turun ke ruang ganti. Saat jeda pertandingan melawan Wolves misalnya, ia turun langsung untuk mengingatkan pemain agar “terhubung dengan para penggemar,” menyadari bahwa energi dari tribun adalah senjata paling mematikan dalam sepakbola.
Atmosfer di Stadium of Light kini kembali bergemuruh layaknya Roker Park di masa lalu. Energi kolektif ini dianggap sebagai hal tersulit untuk ditemukan dalam sepakbola, namun begitu didapat, kekuatannya sangat dahsyat. Manajemen sadar bahwa atmosfer ini adalah “makhluk hidup” yang harus terus dijaga dan tidak boleh dianggap remeh.
Speakman menekankan bahwa kesuksesan lima tahun ini bukan hasil dari satu momen besar, melainkan ribuan keputusan kecil yang tepat setiap harinya. Dari efisiensi staf hingga motivasi pemain, semuanya dibangun dengan tujuan yang sama. Kini, seluruh elemen klub — dari pemilik hingga staf lapangan — bergerak dalam satu arah yang positif: ke atas.
Tantangan Desember dan Ambisi Masa Depan
Desember 2025 akan menjadi ujian validitas sesungguhnya bagi Sunderland. Jadwal “neraka” menanti dengan laga melawan Liverpool, Manchester City, dan rival abadi Newcastle United secara beruntun. Meski sejarah pertemuan tidak memihak — Sunderland belum menang di Anfield sejak 1983 atau di kandang City sejak 1998 — posisi mereka di klasemen memberikan kepercayaan diri baru.
Tantangan terbesar bagi Louis-Dreyfus dan timnya adalah “memutus siklus” tim promosi yang biasanya langsung terdegradasi. Meski target awal adalah mencapai 40 poin untuk selamat, ambisi klub perlahan bergeser. Dengan posisi di enam besar, Sunderland kini mulai berani bermimpi lebih tinggi, namun tetap waspada agar tidak tergelincir kembali.
Derby melawan Newcastle pada pertengahan Desember akan menjadi indikator seberapa jauh Sunderland telah melangkah. Jika pada Januari 2024 mereka disapu bersih dengan mudah di Piala FA, kini situasinya berbeda. Sunderland duduk di atas Newcastle di klasemen, sebuah inversi nasib yang tak terprediksi dan menjadi bukti nyata kemajuan pesat di Wearside.
Louis-Dreyfus menegaskan komitmen jangka panjangnya, menyatakan niatnya untuk tetap berada di klub lima tahun lagi. Keputusan rekrutmen bahkan sudah melihat bakat-bakat usia 15-16 tahun di Piala Dunia U-17, sebuah investasi yang baru akan berbuah 6-7 tahun mendatang. Ini menegaskan bahwa Sunderland tidak hanya membangun tim untuk hari ini, tetapi untuk satu dekade ke depan.
Belajar dari Model Brighton dan Brentford
Dalam perjalanan transformasinya, Sunderland tidak malu untuk mengakui bahwa mereka belajar dari klub-klub lain. Speakman secara terbuka menyebut Brighton, Brentford, dan Bournemouth sebagai role model. Klub-klub ini telah menunjukkan kepemimpinan yang cerdas dan konsistensi strategi, hal tersulit untuk dilakukan dalam industri sepakbola yang fluktuatif.
Jika Sunderland kini mulai dibandingkan dengan Brighton, Speakman menganggapnya sebagai “pujian besar.” Hal ini menunjukkan bahwa model pengelolaan klub yang mereka terapkan — berbasis data, pengembangan pemain muda, dan keberlanjutan finansial — sudah berada di jalur yang benar dan mulai diakui oleh komunitas sepakbola.
Klub menyadari sepenuhnya aturan finansial baru (SCR) yang akan berlaku mulai musim 2026/27. Beruntung, Sunderland promosi dalam kondisi finansial yang sehat, memungkinkan mereka untuk bermanuver dengan lincah di pasar transfer tanpa melanggar regulasi, berbeda dengan banyak klub lain yang terbelit masalah keuangan.
Pada akhirnya, transformasi Sunderland adalah tentang mengembalikan kebanggaan wilayah Timur Laut Inggris. Dari kekalahan memalukan di kasta ketiga hingga bersaing di zona Eropa Liga Primer, Sunderland membuktikan bahwa dengan manajemen yang tepat, kapal yang karam pun bisa diangkat kembali dan berlayar lebih jauh dari sebelumnya.