Makan pedas bisa kurangi risiko penyakit jantung dan otak, ini penjelasan ilmuwan

Wahyudi
5 Min Read

Penemuan Menarik tentang Manfaat Makanan Pedas bagi Kesehatan Jantung dan Otak

Para peneliti menemukan bahwa konsumsi makanan pedas secara rutin berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan jantung dan otak. Temuan ini berasal dari studi berbasis populasi yang dilakukan di Provinsi Sichuan, China, dengan melibatkan puluhan ribu orang dewasa. Dalam penelitian tersebut, para peneliti mengamati pola makan orang dewasa dalam jangka waktu tertentu dan mengaitkannya dengan risiko penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular (penyakit jantung dan otak).

Hasilnya, orang yang lebih sering mengonsumsi makanan pedas, khususnya cabai, cenderung memiliki risiko lebih rendah mengalami penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah otak dibandingkan yang jarang mengonsumsi. Penelitian ini sejalan dengan kajian yang dilakukan Marialaura Bonaccio dari IRCCS Neuromed, Italia. Ia selama bertahun-tahun meneliti dampak dari cabai terhadap kesehatan jantung di Eropa.

Bonaccio menyatakan bahwa temuan dari China tersebut memperkuat dugaan bahwa cabai dapat memberikan efek protektif bagi sistem kardiovaskular, meski tetap perlu dilihat dalam konteks gaya hidup dan budaya masing-masing masyarakat.

Konsumsi Cabai dan Risiko Penyakit Jantung

Dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Zhonghua Liu Xing Bing Xue Za Zhi tahun 2025, tim peneliti menganalisis data pada 54.859 orang dewasa. Dari data tersebut, mereka menemukan bahwa dibandingkan dengan kelompok yang jarang mengonsumsi makanan pedas, responden yang mengonsumsi enam hingga tujuh hari dalam seminggu memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit jantung iskemik dan penyakit serebrovaskular.

Penurunan risiko juga terlihat pada stroke iskemik, yakni kondisi ketika aliran darah ke otak tersumbat. Bahkan, semakin sering seseorang mengonsumsi makanan pedas, semakin rendah pula risiko stroke iskemik yang teramati. Menariknya, rasa pedas yang berintensitas sedang justru berkorelasi dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular secara keseluruhan.

Selain itu, kebiasaan mengonsumsi makanan pedas sejak usia lebih muda juga dikaitkan dengan risiko yang lebih rendah meski efek tersebut tidak ditemukan pada stroke hemoragik.

Peran Kapsaisin dalam Cabai

Sensasi pedas pada cabai berasal dari senyawa bioaktif bernama kapsaisin. Senyawa ini tidak hanya memengaruhi rasa, tetapi juga bekerja pada reseptor tertentu di dalam tubuh, termasuk pada saraf dan lapisan pembuluh darah. Sejumlah penelitian pada hewan juga menunjukkan bahwa stimulasi reseptor tersebut secara rutin dapat meningkatkan produksi oksida nitrat, senyawa yang berperan dalam melemaskan pembuluh darah dan melancarkan aliran darah.

Efek tersebut dikaitkan dengan penurunan tekanan darah, terutama pada individu dengan hipertensi. Pembuluh darah yang lebih rileks dan elastis dinilai mampu mengurangi beban kerja jantung serta menurunkan risiko kerusakan pembuluh darah dalam jangka panjang. Dengan demikian, manfaat kapsaisin tidak hanya dirasakan sebagai sensasi pedas sesaat, tetapi juga berdampak pada kesehatan pembuluh darah secara menyeluruh.

Didukung oleh Penelitian Sebelumnya

Temuan dari Sichuan ini memperkuat hasil penelitian sebelumnya. Penelitian yang diterbitkan dalam BMJ (Clinical research ed.) tahun 2015 menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi makanan pedas 6 hingga 7 hari per minggu memiliki risiko kematian 14 persen lebih rendah dibanding mereka yang jarang mengonsumsi. Penurunan risiko tersebut juga terlihat pada kematian yang disebabkan penyakit jantung iskemik dan penyakit pernapasan.

Sementara itu, penelitian kohort di Italia menemukan bahwa konsumsi cabai lebih dari 4 kali seminggu berkaitan dengan angka kematian total dan kematian akibat penyakit kardiovaskular yang lebih rendah. Menariknya, hubungan tersebut tetap bertahan meski peneliti memperhitungkan kepatuhan responden terhadap pola diet Mediterania.

Tidak Bisa Menyembuhkan Penyakit Jantung dan Otak

Namun, para peneliti menegaskan bahwa temuan tersebut tidak berarti cabai dapat menyembuhkan penyakit jantung atau otak. Penelitian yang dilakukan bersifat observasional sehingga hubungan sebab-akibat belum dapat dipastikan. Namun, konsistensi temuan di berbagai negara menunjukkan bahwa konsumsi makanan pedas secara teratur kerap berkaitan dengan hasil kesehatan yang lebih baik.

Para ahli menilai bahwa manfaat tersebut kemungkinan berasal dari kombinasi efek biologis kapsaisin dan pola hidup masyarakat yang terbiasa mengonsumsi cabai. Tingkat kepedasan juga menjadi catatan penting. Manfaat kesehatan justru terlihat pada konsumsi cabai dengan intensitas ringan hingga sedang, bukan ekstrem.

Bagi masyarakat yang ingin mencoba, penggunaan cabai sebagai bumbu masakan sehari-hari dapat menjadi langkah sederhana. Meski demikian, orang dengan kondisi tertentu seperti gangguan lambung tetap disarankan menyesuaikan konsumsi dengan toleransi tubuh dan berkonsultasi dengan tenaga medis bila diperlukan.

Share This Article
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *