Krisis Kelahiran di Timur Tengah: Dari 7 Anak Jadi Nyaris Nol

Amanda Almeirah
6 Min Read

Perubahan Mencengangkan di Timur Tengah

Di kawasan Timur Tengah, terjadi perubahan yang sangat signifikan dalam tingkat kesuburan. Para ahli menyebutnya sebagai “revolusi senyap”, yang tidak melibatkan unjuk rasa atau perubahan pemerintahan, tetapi berlangsung secara diam-diam di dalam rumah tangga. Fenomena ini berkaitan dengan penurunan jumlah anak yang dilahirkan oleh perempuan selama masa usia suburnya.

Tingkat Kesuburan Total (TFR) adalah indikator penting yang menggambarkan jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan antara usia 15 hingga 49 tahun. Di Timur Tengah, angka ini telah menurun drastis sejak tahun 1960-an. Dulu, perempuan di wilayah ini rata-rata melahirkan sekitar tujuh anak, tetapi pada awal 2010-an, angka tersebut turun menjadi tiga. Penurunan ini terjadi di hampir semua negara di kawasan tersebut.

Penurunan tingkat kesuburan bukanlah fenomena baru, tetapi di kawasan Timur Tengah, penurunan ini tercatat sebagai yang terbesar dalam 30 tahun terakhir. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Middle East Fertility Society pada Oktober tahun lalu menunjukkan bahwa TFR di beberapa negara di kawasan tersebut turun antara 3,8 persen hingga 24,3 persen antara tahun 2011 dan 2021. Yordania, Irak, dan Yaman mencatat penurunan terbesar.

Menurut data Bank Dunia, pada tahun 2023, lima dari 22 negara anggota Liga Arab memiliki TFR di bawah 2,1, angka kelahiran yang diperlukan untuk mempertahankan tingkat populasi. Empat negara lainnya mendekati angka tersebut. Contohnya, Uni Emirat Arab memiliki TFR hanya 1,2, jauh di bawah tingkat penggantian populasi. Angka ini bahkan lebih rendah daripada beberapa negara Eropa seperti Jerman, yang pada tahun 2024 diperkirakan memiliki TFR sebesar 1,38 anak per perempuan usia subur.

Mengapa Orang di Timur Tengah Punya Lebih Sedikit Bayi?

Para ahli telah mengajukan beberapa hipotesis tentang penyebab penurunan ini. Hipotesis-hipotesis tersebut umumnya terbagi menjadi dua kategori: ekonomi dan politik, serta sosial dan budaya.

Kategori pertama mencakup hal-hal seperti perang, ketidakpastian politik, dan kekhawatiran tentang dunia yang tidak aman. Perubahan ekonomi juga menjadi faktor utama, seperti penghapusan subsidi nasional di Mesir dan Yordania, inflasi, atau berkurangnya pekerjaan di sektor publik di negara-negara penghasil minyak. Perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan juga memengaruhi pasangan muda di kawasan ini, yang tinggal di daerah yang mengalami pemanasan lebih cepat dibanding banyak wilayah lainnya.

Kategori kedua mencakup perubahan sosial dan budaya, seperti ketersediaan dan penerimaan kontrasepsi yang semakin luas, perceraian, serta reformasi dalam status perempuan, termasuk akses perempuan ke pendidikan dan partisipasi mereka dalam angkatan kerja. Urbanisasi juga berperan, karena di daerah pedesaan di Yordania dan Mesir, tingkat fertilitas sering kali dua kali lipat dibandingkan di kota-kota besar.

Selain itu, media sosial juga mungkin memengaruhi pandangan tentang keluarga ideal. Beberapa analis berargumen bahwa akses terhadap informasi tentang gaya hidup “Barat” mengubah cara pandang masyarakat terhadap keluarga.

Masa Depan Populasi di Timur Tengah

Ahli seperti Marcia Inhorn, profesor antropologi dari Universitas Yale, menjelaskan bahwa semua faktor ini saling terkait. Ia menyebut istilah “waithood” yang merujuk pada kondisi di mana generasi muda tidak mampu mengumpulkan dana untuk menikah karena tekanan ekonomi. Hal ini menyebabkan penundaan pernikahan atau bahkan tidak menikah sama sekali.

Selain itu, minat untuk memiliki keluarga besar juga menurun. Banyak orang lebih memilih keluarga kecil dengan kualitas tinggi, di mana mereka dapat memberikan hal-hal terbaik bagi anak-anak mereka.

Seorang ekonom politik, Nicholas Eberstadt, menulis bahwa manusia akan memasuki era baru dalam sejarah, yang disebut “era depopulasi”. Ia menyatakan bahwa untuk pertama kalinya sejak Wabah Hitam pada abad ke-14, populasi planet ini akan menurun.

Para peneliti dari Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan bahwa dampak dari penurunan kelahiran masih cukup ambigu. Di satu sisi, ada kekhawatiran bahwa hal ini dapat menghambat kemajuan ekonomi karena akan ada lebih sedikit pekerja, ilmuwan, dan inovator. Di sisi lain, populasi yang lebih kecil dapat mengurangi tekanan pada lingkungan dan sumber daya.

Namun, tingginya proporsi lansia dinilai akan mengancam keberlanjutan jaring pengaman sosial dan sistem pensiun. Masalah ini diperkirakan akan lebih berat di Timur Tengah, di mana anak muda biasanya merawat orang tua mereka secara langsung.

Eberstadt mengatakan bahwa kinerja ekonomi di beberapa negara yang mulai mengalami sub-replacement fertility cenderung lesu. Ia memprediksi bahwa dalam satu generasi ke depan, banyak masyarakat di kawasan Timur Tengah akan mengalami penuaan, bahkan mungkin mulai menyusut jumlah penduduknya.

Meskipun begitu, Eberstadt tetap optimis dengan hati-hati. Ia mengatakan bahwa ia mulai meneliti masalah ini sejak lama, saat semua orang khawatir tentang ledakan populasi. Namun, ia percaya bahwa kepanikan tersebut tidak beralasan karena penurunan populasi bukan berarti orang-orang bereproduksi seperti kelinci, tetapi mereka hanya berhenti mati seperti lalat. Ledakan populasi sebenarnya adalah ledakan kesehatan.

Layanan kesehatan terus berkembang, seiring dengan meningkatnya pendidikan dan pengetahuan. Semua hal ini akan menunjang prospek kemakmuran manusia di masa depan, meskipun jumlah penduduk semakin menurun. Di dunia yang menyusut dan menua, tentu akan ada banyak penyesuaian yang harus dilakukan, namun kita adalah spesies yang cukup adaptif.

Share This Article
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *