Perkembangan Sektor Kendaraan Listrik di Indonesia
Jakarta — Sejumlah perusahaan emiten seperti PT Indika Energy Tbk. (INDY) dan PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) mulai memperluas bisnisnya dengan menargetkan pasar kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia. Namun, pemerintah saat ini sedang merancang penghentian sejumlah insentif yang sebelumnya diberikan kepada industri tersebut.
INDY memasuki bisnis kendaraan listrik melalui anak usahanya, PT Ilectra Motor Group (IMG), sejak 2018 dengan memproduksi motor listrik bermerk Alva. Perseroan juga telah aktif mengembangkan berbagai stasiun pengisian daya, seperti Alva Boost Charge Station dan Alva Intelligent Charging System (AICS). AICS memungkinkan pengguna mengatur pengisian daya melalui aplikasi My ALVA App.
Selain itu, INDY melalui anak usahanya PT Energi Makmur Buana meluncurkan merek baru INVI, yang mendistribusikan bus listrik KG Mobility lengkap dengan charging station-nya. Sementara itu, TOBA mengembangkan bisnis kendaraan listrik melalui anak usahanya, PT Energi Kreasi Bersama, yang memproduksi motor listrik bermerek Electrum. Dalam pengembangan Electrum, TOBA bekerja sama dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO).
PT NFC Indonesia Tbk. (NFCX) juga turut serta dalam pengembangan bisnis kendaraan listrik melalui anak usahanya, PT Volta Indonesia Semesta, yang memproduksi motor listrik Volta. Di sisi lain, ada juga emiten yang fokus pada penjualan produk kendaraan listrik. Contohnya adalah PT Gaya Abadi Sempurna Tbk (SLIS), yang memproduksi kendaraan listrik dengan merek Selis.
Kebijakan Pemerintah dan Penghentian Insentif
Saat ini, pasar kendaraan listrik di Indonesia tidak lagi didukung oleh insentif dari pemerintah. Untuk motor listrik, pemerintah sebelumnya memberikan insentif sebesar Rp7 juta per unit sejak 2023, tetapi kebijakan tersebut berakhir pada 2024. Selain itu, insentif berupa pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) untuk mobil listrik juga telah berhenti di Desember 2025.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pemerintah tidak akan melanjutkan insentif kendaraan listrik pada 2026. Anggaran insentif tersebut direncanakan dialihkan untuk mendukung pengembangan program mobil nasional. Insentif yang dihentikan mencakup fasilitas pembebasan bea masuk impor kendaraan listrik secara utuh atau CBU yang sebelumnya diturunkan dari tarif normal sebesar 50% menjadi 0%.
Analisis Pasar dan Prospek Sektor EV
Analis Kiwoom Sekuritas, Miftahul Khaer, menyatakan bahwa minimnya insentif EV sempat menekan saham-saham yang terkait karena pasar sangat sensitif terhadap kebijakan yang berdampak langsung ke daya beli dan adopsi kendaraan listrik. Namun, memasuki 2026, sentimen nihilnya insentif relatif mulai mereda seiring sinyal pemerintah yang masih menjaga arah kebijakan transisi energi dan hilirisasi, meskipun skema insentif ke depan kemungkinan lebih selektif dan tidak seagresif fase awal.
“Kami kira secara prospek sektor ini masih akan tergolong positif meski memang cenderung masih akan sangat bergantung pada insentif dan benefit yang diberikan oleh pemerintah,” ujar Miftahul.
Untuk saham-saham seperti SLIS, INDY, hingga TOBA, menurutnya prospeknya akan sangat bergantung pada posisi mereka di rantai nilai EV. Emiten yang memiliki eksposur hulu dan hilir yang jelas, serta model bisnis berkelanjutan cenderung lebih resilien dibanding emiten yang hanya mengandalkan story insentif.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai emiten-emiten seperti SLIS hingga TOBA mesti memaksimalkan inovasi bisnis agar produknya bisa diterima pasar. “Karena ini sangat penting bisa meningkatkan performa penjualan produk EV,” ujarnya.
Performa Saham dan Sentimen Pasar
Di sisi lain, terdapat sentimen lain yang mampu mendorong pendapatan deretan emiten EV itu yakni penurunan suku bunga acuan yang mendorong pelaku pasar meningkatkan aktivitas konsumsi, selain konsumsi primer.
Saat ini, deretan saham EV mencatatkan kinerja beragam. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham SLIS menguat 4,12% ke level Rp101 per lembar pada perdagangan hari ini, Senin (5/1/2026). Kemudian, harga saham TOBA naik 5,26% ke level Rp800 per lembar. Di sisi lain, harga saham INDY turun 0,88% ke level Rp2.240 per lembar. Harga saham NFCX turun 3,07% ke level Rp1.735 per lembar dan saham GOTO turun 1,45% ke level Rp68 per lembar.