Oracle Corporation Menghadapi Tantangan dalam Ekspansi Bisnis Kesehatan
Oracle Corporation, salah satu perusahaan teknologi terkemuka di dunia, kini menghadapi tantangan signifikan dalam ekspansi bisnisnya di sektor kesehatan. Meskipun fokus utama perusahaan saat ini berada pada komputasi awan dan kontrak kecerdasan buatan yang besar, divisi rekam medis elektronik yang dibangun dari akuisisi Cerner Corp. justru mengalami penurunan pangsa pasar serta kehilangan sejumlah pimpinan senior.
Pengambilalihan Cerner Corp. oleh Oracle pada 2022 senilai USD 28 miliar atau sekitar Rp 472,08 triliun menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi perusahaan di sektor kesehatan. Chairman Oracle, Larry Ellison, sempat menyebut transaksi ini sebagai “mesin pertumbuhan baru” yang bertujuan untuk memperbarui sistem rekam medis yang dinilai usang. Namun, di tengah ambisi tersebut, tekanan mulai terlihat.
Menurut laporan dari Bloomberg, Selasa (3/3/2026), divisi rekam medis Oracle mengalami kehilangan sejumlah pimpinan senior. Executive Vice President Sanga Viswanathan dan Senior Vice President Suhas Uliyar disebut meninggalkan perusahaan, meski pengunduran diri mereka belum diumumkan secara resmi. Selain itu, tiga Senior Vice President lain, yaitu Quais Taraki, Ofer Michael, dan Max Romanenko, juga hengkang dari unit tersebut. Taraki dan Romanenko kemudian bergabung dengan EDB, sebuah perusahaan perangkat lunak basis data. Oracle Corporation menolak berkomentar atas kepergian para eksekutif tersebut.
Rangkaian keluarnya pimpinan ini terjadi ketika tekanan pasar terhadap Oracle Health semakin nyata. Laporan KLAS Research pada Agustus 2025 menyebut pangsa pasar unit tersebut telah menurun “secara substansial.” Hingga akhir 2024, sistem rekam medis Oracle digunakan oleh rumah sakit yang hanya mewakili sekitar 20 persen kapasitas rawat inap rumah sakit di Amerika Serikat. Sebaliknya, pesaing utamanya, Epic Systems Inc., digunakan oleh jaringan rumah sakit yang menguasai lebih dari separuh kapasitas rawat inap nasional.
Meski demikian, Ellison tetap agresif mempertahankan visinya. Bos Oracle itu sebelumnya mengatakan akuisisi Cerner akan menghasilkan “basis data rekam kesehatan nasional” yang diyakini dapat meningkatkan kualitas perawatan pasien di seluruh Amerika Serikat. Dalam konferensi perusahaan pada Oktober lalu, Ellison menegaskan, “Ya, kami sedang membangun ulang Cerner, tetapi kami juga mengembangkan sistem akuntansi dan sistem sumber daya manusia yang dirancang khusus bagi rumah sakit.”
Optimisme serupa disampaikan co-Chief Executive Officer Mike Sicilia. Dalam paparan kinerja Desember lalu, ia menyatakan pemesanan dan pendapatan dari sektor kesehatan diperkirakan akan “berakselerasi secara material” pada kuartal berjalan setelah peluncuran alat transkripsi catatan klinis berbasis kecerdasan buatan dan sistem rekam medis baru.
Fokus Oracle sendiri dalam setahun terakhir lebih banyak tertuju pada ekspansi infrastruktur komputasi awan dan pembangunan pusat data guna memenuhi kontrak kecerdasan buatan berskala besar dengan klien seperti OpenAI. Pergeseran prioritas ini menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi strategi di sektor kesehatan yang padat regulasi dan kompleks.
Unit kesehatan tersebut kini dipimpin oleh Seema Verma, mantan pejabat Medicare dan Medicaid pada masa pemerintahan pertama Donald Trump, dan melapor kepada Sicilia. Sementara itu, pengembangan produk diawasi oleh T.K. Anand yang melapor langsung kepada Ellison. Secara keseluruhan, sekitar 18.000 karyawan berada di bawah struktur organisasi ini.
Dengan ambisi global dan investasi ratusan triliun rupiah, tantangan Oracle Health menjadi cerminan bahwa transformasi teknologi di sektor kesehatan tidak hanya bergantung pada modal dan visi besar, tetapi juga pada eksekusi, stabilitas kepemimpinan, serta kepercayaan pasar yang terus diuji.