Jejak Penyebaran Islam di Laweyan Solo: Safari Jumatan PB XIV

Nurlela Rasyid
4 Min Read

Safari Jumatan di Masjid Laweyan, Kedalaman Makna dan Sejarah yang Tersembunyi

Pakubuwono XIV Hangabehi melakukan Safari Jumatan di Masjid Laweyan pada Jumat (2/1/2026). Kegiatan ini bukan hanya sekadar agenda keagamaan biasa, tetapi memiliki makna historis dan spiritual yang mendalam. Di balik keputusan Raja Keraton Surakarta tersebut, terdapat kisah unik yang menggambarkan hubungan antara mimpi dan kepercayaan.

Pakubuwono XIV mengungkapkan bahwa keputusannya untuk melaksanakan Salat Jumat di Masjid Laweyan berasal dari ilham yang ia terima melalui mimpi. Ia sebelumnya berencana untuk menunaikan ibadah di masjid-masjid Kagungan Dalem Keraton Surakarta. Namun, setelah menerima mimpi tersebut, ia memutuskan untuk berkunjung ke Masjid Laweyan.

“Berkeinginan saja di sini. Masjid ini bagian dari keraton juga. Kebetulan tadi malam saya dapat mimpi. Sebetulnya sudah dikasih pilihan dengan Kanjeng Sis, kita ingin salat di masjid-masjid Kagungan Dalem Keraton. Tadi malam dikasih mimpi, tahu-tahu di sini ya sudah. Baru tadi pagi kita kasih tahu ke ADC dan para pendherek semua ke Masjid Laweyan,” jelasnya.

Masjid Laweyan tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga memiliki nilai sejarah yang tinggi. Di dalam kompleksnya terdapat Pasarean Dalem Ki Ageng Henis, tokoh ulama sekaligus leluhur penting raja-raja Mataram. Kyai Ageng Henis merupakan putra Kyai Ageng Sela, ayah Kyai Ageng Pemanahan, dan kakek dari Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam.

Keberadaan pasarean inilah yang menjadikan Masjid Laweyan memiliki nilai sejarah tinggi dan erat kaitannya dengan perjalanan Islam serta dinasti Mataram di tanah Jawa.

Jejak Sejarah Mataram Islam di Masjid Laweyan Solo

Pasarean Dalem Kyai Ageng Henis yang berada di kompleks Masjid Laweyan, Kota Surakarta, menjadi salah satu situs sejarah penting yang menyimpan jejak awal perkembangan Islam sekaligus cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram Islam. Hingga kini, lokasi tersebut masih ramai dikunjungi peziarah dan peneliti sejarah.

Kyai Ageng Henis dikenal sebagai tokoh ulama dan bangsawan Jawa pada abad ke-16. Ia merupakan kakek dari Panembahan Senapati, pendiri Kerajaan Mataram Islam. Peran Kyai Ageng Henis sangat besar dalam penyebaran ajaran Islam di wilayah Laweyan dan sekitarnya, serta dalam membangun fondasi spiritual bagi keturunan raja-raja Mataram.

Pasarean Dalem Kyai Ageng Henis terletak satu kompleks dengan Masjid Laweyan, yang juga dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Surakarta. Penempatan makam tokoh ulama di area masjid mencerminkan tradisi Islam-Jawa, di mana masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat dakwah dan aktivitas sosial masyarakat.

Perpaduan Budaya Jawa dan Islam

Secara arsitektur, pasarean ini menampilkan perpaduan unsur budaya Jawa dan Islam. Tembok keliling, gapura, serta tata letak makam menunjukkan ciri khas pemakaman bangsawan Jawa. Suasana di dalam kompleks terasa tenang dan sakral, mencerminkan penghormatan masyarakat terhadap sosok Kyai Ageng Henis.

Keberadaan Pasarean Dalem Kyai Ageng Henis memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Situs ini menjadi bukti kuat hubungan erat antara ulama dan kekuasaan pada masa awal Islam di Jawa. Dari tempat inilah, nilai-nilai keislaman diwariskan dan kemudian berkembang menjadi dasar legitimasi Kerajaan Mataram Islam.

Tempat Ziarah

Saat ini, Pasarean Dalem Kyai Ageng Henis masih berfungsi sebagai tempat ziarah, terutama pada waktu-waktu tertentu seperti bulan Sura. Selain itu, kawasan ini juga menjadi tujuan wisata religi dan sejarah, serta sumber pembelajaran bagi generasi muda tentang sejarah Islam dan kebudayaan Jawa.

Dengan keberadaannya di tengah kawasan Laweyan, Pasarean Dalem Kyai Ageng Henis tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi juga simbol penting perjalanan sejarah Islam dan kerajaan di tanah Jawa yang terus dijaga hingga kini.

Share This Article
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *