Marcello Tahitoe Ucapkan Terima Kasih pada Aurelie Moeremans

Muhammad Muhlis
6 Min Read

Pernyataan Ello Mengenai Buku Aurelie Moeremans

Marcello Tahitoe, yang dikenal dengan nama panggung Ello, akhirnya memberikan pernyataan terkait buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans. Buku ini telah menjadi sorotan publik setelah versi Bahasa Indonesia resmi dirilis. Ello, mantan kekasih Aurelie, menyampaikan ucapan selamat atas rilis karya literasi tersebut.

Ditemui usai tampil di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Ello memilih untuk memberikan tanggapan singkat mengenai popularitas buku tersebut. Ia tampak tidak ingin membahas lebih lanjut di hadapan awak media.

“Oke habis ini gua harus cabut ya. Tipis tapi padat,” ujar Ello saat ditemui di kawasan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Ello menyampaikan apresiasinya terhadap karya Aurelie tanpa masuk ke pembahasan isi buku, termasuk kisah sensitif mengenai pengalaman child grooming yang diceritakan di dalamnya.

“Oke, saya cuma mau bilang selamat atas rilis karya literasinya. Luar biasa diterima apresiasinya,” tambahnya.

Setelah menyampaikan pernyataannya, Ello pun pamit. Ia menegaskan ingin segera pulang untuk berkumpul bersama keluarganya.

“Sekarang saya mau pulang, ketemu sama istri dan anak saya. Terima kasih,” tutupnya.

Isu Child Grooming dalam Buku Broken Strings

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Broken Strings menjadi buah bibir di kalangan netizen Indonesia karena mengangkat kisah kelam yang dialami Aurelie Moeremans. Dalam buku tersebut, ia menceritakan pengalaman mengalami child grooming dan manipulasi emosional oleh seorang pria yang namanya disamarkan sebagai Bobby.

Tidak hanya itu, Aurelie juga menyinggung sejumlah tokoh dalam perjalanan hidupnya, termasuk kisah asmara setelah lepas dari sosok Bobby. Bagian tersebut diduga turut membahas hubungannya dengan Ello.

Aurelie Moeremans dan Ello diketahui pernah menjalin hubungan pada 2015. Namun, kisah cinta keduanya harus berakhir setelah berjalan hampir empat tahun.

Langkah Berani Aurelie Moeremans

Keberanian aktris Aurelie Moeremans mengungkap sisi gelap masa lalunya lewat buku Broken Strings kini memicu gelombang besar di ranah kebijakan publik. Tak lagi sekadar viral di media sosial, isu sensitif mengenai child grooming ini resmi meledak dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Senayan, Kamis (15/1/2026).

Adalah Rieke Diah Pitaloka, anggota Komisi XIII DPR RI, yang dengan lantang menyuarakan keresahan publik di hadapan Komnas Perempuan dan Komnas HAM. Sosok yang akrab disapa Oneng ini tampak emosional saat menguliti bahaya predator anak yang selama ini bersembunyi di balik kedok kedekatan emosional.

Suara dari Masa Lalu yang Dicuri

Isu ini mencuat ke permukaan setelah Aurelie menerbitkan e-book gratis berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth. Dalam memoar tersebut, Aurelie secara jujur menceritakan bagaimana ia menjadi korban child grooming sejak usia 15 tahun, yang berujung pada pernikahan di bawah umur penuh kekerasan dan trauma mendalam.

Rieke mengapresiasi langkah berani Aurelie yang telah mendobrak tembok tabu di Indonesia. “Saya ingin menyampaikan, kasus yang sedang ramai di media sosial adalah child grooming. Ini adalah sesuatu yang tabu untuk Indonesia selama ini. Tapi ada seorang perempuan bernama Aurelie Moeremans yang mengeluarkan buku e-book secara gratis yang berjudul Broken Strings Fragments of a Stolen Youth bagaimana masa mudanya dihancurkan, bukan hanya dirampas,” ungkap Rieke di tengah persidangan.

Kritik Tajam untuk Komnas Perempuan dan Komnas HAM

Dengan nada bicara yang meninggi, Rieke mempertanyakan sikap diam lembaga negara terhadap fenomena ini. Baginya, child grooming bukan sekadar masalah asmara biasa, melainkan modus operandi kejahatan sistematis.

“Ini adalah memoar yang terindikasi kisah hidup yang nyata. Dan ini bisa terjadi pada siapa saja, juga kepada anak-anak kita, ketika negara diam, kita yang ada di dalam posisi harusnya bersuara, memberikan introspeksi kita diam, saya belum dengar ada suara dari Komnas HAM dan Komnas Perempuan secara utuh, secara serius kepada kasus ini,” tegas Rieke.

Ia menjelaskan bahwa pelaku atau groomer biasanya membangun kepercayaan dalam waktu lama untuk mengeksploitasi korban secara seksual.

“Child grooming ini bukan tindak pidana yang berdiri sendiri melainkan modus operandi, prosesnya sistematis, ketika pelaku atau groomer membangun kedekatan emosional kepercayaan dan ketergantungan pada anak atau remaja. Tujuan akhir adalah kekerasan atau eksploitasi seksual,” tambahnya.

Sentilan Pedas untuk Terduga Pelaku dan Ancaman Intimidasi

Rieke juga menyoroti adanya upaya pembelaan diri dari terduga pelaku yang justru mengarah pada normalisasi kekerasan. Ia bahkan menyinggung adanya intimidasi terhadap rekan artis lain, seperti Hesti Purwadinata, yang ikut menyuarakan dukungan bagi Aurelie.

Bahkan, Rieke tidak ragu untuk mengusulkan pemanggilan sosok yang diduga sebagai pelaku, yakni Roby Tremonti, untuk dimintai keterangan dalam rapat DPR.

“Bisa ada hukuman berlapis. Yang terindikasi pelaku itu berkoar-koar, kalau perlu komnas perempuan pangil dong. Atau kalau boleh dipanggil ke sini. Karena menurut saya dia campaign soal child grooming kalau seperti ini caranya, normalisasi kekerasan seksual atas nama pernikahan berbasis keyakinan agama,” ujar Rieke tajam.

Di akhir pernyataannya, Rieke memberikan peringatan keras bagi siapa pun yang melakukan praktik serupa di luar sana.

“Pelaku di luar sana, enggak bisa anteng-anteng ya,” pungkasnya.

Respons Haru Aurelie Moeremans

Mendengar perjuangannya mendapat panggung di level tertinggi legislatif, Aurelie Moeremans tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. Melalui pesan singkat, ia menyampaikan apresiasinya kepada Rieke karena telah membantu memastikan isu ini tidak lagi disepelekan.

“Terima kasih,” tulis Aurelie singkat namun penuh makna.

Kini, bola panas ada di tangan pemerintah dan lembaga terkait untuk memastikan bahwa Broken Strings berikutnya tidak akan pernah ada lagi di bumi Indonesia.


Share This Article
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *