Pentingnya Gizi dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak bisa terlepas dari yang namanya gizi. Gizi adalah fondasi utama dalam mewujudkan kesehatan yang prima. Kata gizi berasal dari bahasa Arab, “ghidza” yang bermakna makanan yang menyehatkan. Zat gizi bersumber dari berbagai unsur kimia bahan pangan yang dibutuhkan tubuh untuk menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan serta mengatur proses kehidupan.
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, gizi belum dianggap penting. Akibatnya, masalah gizi masih menjadi problem tersendiri bagi bangsa ini. Status gizi ditentukan oleh asupan makanan yang dikonsumsi. Pola makan yang tidak seimbang mengakibatkan masalah bagi kesehatan. Kekurangan atau kelebihan asupan zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak, dan serat) dan zat gizi mikro (vitamin dan mineral) dalam waktu lama mengakibatkan beban ganda gizi. Kondisi inilah yang sedang dihadapi bangsa Indonesia.
Di mana saat bersamaan, Indonesia berkutat dengan masalah kurang gizi, seperti stunting (gagal tumbuh), wasting (gizi buruk), underweight (berat badan kurang), dan anemia pada anak dan remaja. Disamping juga berhadapan dengan kasus obesitas (kelebihan gizi). Kekeliruan dalam bergizi juga dapat memunculkan berbagai penyakit degeneratif (non infeksi) di kemudian hari. Diabetes, penyakit kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah), kanker, dan gangguan tulang dan sendi adalah sebagian contoh dari penyakit yang hadir akibat kesalahan pola makan.
Gizi Seimbang: Pedoman Makan yang Tepat
Gizi seimbang ditandai dengan pola makan yang menyelaraskan berbagai kebutuhan tubuh sesuai dengan porsinya. Selama ini, sebagian besar masyarakat Indonesia dibiasakan makan nasi (karbohidrat) dalam jumlah banyak, tapi sedikit protein (ikan, telur, daging), serta kurang vitamin dan mineral. Kita belum merasa makan jika belum melahap nasi. Padahal baru saja menghabiskan sepiring mi goreng, setongkol jagung, sejumlah roti atau sumber energi lainnya. Makan masih sebatas menghilangkan rasa lapar dan melepaskan hawa nafsu.
Perhatian terhadap aspek gizi dan kebugaran belum terlalu dihiraukan. Pola makan tinggi karbohidrat bila tidak dibarengi dengan konsumsi sayur dan buah berakibat pada munculnya berbagai penyakit degeneratif yang berakibat pada menurunnya status kesehatan. Beras masih menjadi sumber utama energi harian masyarakat Indonesia. Lebih 98 persen rumah tangga di Indonesia mengonsumsi beras. Merujuk pada laman badanpangan.go.id, rata-rata konsumsi per kapita per bulan mencapai 6,6 kg di tahun 2023.
Sementara untuk asupan protein, berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2022, konsumsi protein per kapita per hari masyarakat Indonesia sudah di atas standar kecukupan konsumsi protein nasional, 62,21 gram (standar nasional 57 gram). Namun masih rendah untuk konsumsi protein hewani. Food and Agriculture Organization (FAO) mencatat, konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia masih tergolong rendah di dunia. Orang Indonesia hanya mengonsumsi telur 4-6 kg per orang per tahun, daging dibawah 40 gr per orang per tahun, dan susu serta produk turunannya 0-50 kg per orang per tahun.
Konsep “Isi Piringku” sebagai Panduan Gizi Seimbang
Untuk mencukupi kebutuhan gizi seimbang, pola makan harus mengacu pada konsep “Isi Piringku”. “Isi Piringku” adalah pedoman gizi seimbang yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Pedoman ini adalah penyempurnaan dari konsep “4 Sehat 5 Sempurna” yang telah dipromosikan oleh almarhum Prof Poorwo Soedarmo. Bapak Gizi Indonesia, yang sejak 50-an telah merintis dan memopulerkan masalah pentingnya gizi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam sekali makan, “Isi Piringku” diisi dengan 50% makanan pokok dan lauk pauk. Dimana seperempat piring berupa karbohidrat seperti nasi dan sejenisnya. Seperempatnya lagi berisi unsur protein. Sedangkan setengah piring lainnya diisi dengan sayur (dua pertiga) dan sepertiganya buah. Cukupi hidrasi air putih dua liter sehari atau delapan gelas. Membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), aktivitas fisik (olahraga), dan menjaga serta memantau berat badan ideal. Hal terpenting lainnya membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak.
Sadar Gizi: Perlu Ditanamkan Sejak Dini
Sadar gizi belum menjadi bagian dari gaya hidup bangsa Indonesia. Belanja untuk kebutuhan gizi masih belum prioritas. Sebagian masyarakat masih mengutamakan beli rokok, fesyen, produk kecantikan atau membeli pulsa agar tetap eksis di dunia maya. Menanamkan sadar gizi pada masyarakat harus dimulai sejak dini. Selain faktor utama akibat kemiskinan, rendahnya asupan gizi orang Indonesia karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang gizi.
Keluarga adalah basis dalam memperbaiki status gizi suatu bangsa. Karenanya perlu dikembangkan model pendidikan gizi yang melibatkan keluarga dan masyarakat dengan dukungan dari lembaga pemerintah dan swasta. Karena kurangnya pengetahuan tentang gizi, kita bisa menjumpai seorang ibu yang menjual telur hasil ternaknya untuk membeli ikan asin atau ada ayah yang lebih mengutamakan rokok daripada susu bayinya.
Kampanye secara masif dan berkelanjutan juga harus giat dilakukan ditengah maraknya iklan rokok, produk kecantikan, fesyen dan ajakan hidup konsumtif lainnya. Pola pikir dan pola tindak masyarakat harus diubah, bahwa gizi juga bagian dari gaya hidup. Asupan gizi yang optimal harus sudah dipenuhi sejak dalam kandungan hingga akhir hayat. Tercukupinya gizi menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang sehat, kreatif, inovatif, produktif, dan bestari. Bangsa yang bermartabat, unggul dan berdaya saing.