Biografi KH As’ad Syamsul Arifin: Tokoh Situbondo

Muhammad Muhlis
5 Min Read

Sejarah dan Jejak Kiai As’ad Syamsul Arifin

Di ujung timur Pulau Jawa, sejarah sering kali dihidupkan oleh sosok-sosok yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga menjadi poros kekuatan sosial dan kebangsaan. Salah satu tokoh yang jejaknya masih terasa hingga hari ini adalah KH As’ad Syamsul Arifin, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Nama beliau tak hanya melekat pada dunia pesantren, tetapi juga pada perjalanan panjang NU dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Lahir di Makkah dan Kembali ke Tanah Air

KH As’ad lahir di kota Makkah pada tahun 1897 Masehi sebagai buah hati dari KH. R. Syamsul Arifin (dikenal juga sebagai Raden Ibrahim) dan Nyai Siti Maimunah, sepasang suami istri yang berasal dari Desa Kembang Kuning di Pamekasan, Madura. Kelahirannya terjadi ketika kedua orangtuanya sedang melaksanakan ibadah haji di tanah suci. Setelah kelahiran putranya, pasangan tersebut memutuskan untuk menetap di Makkah selama empat tahun penuh. Mereka menunggu hingga sang bayi cukup usia dan kuat untuk menempuh perjalanan panjang kembali ke tanah air. Barulah di tahun 1901, saat Kiai As’ad menginjak usia empat tahun, keluarga ini pulang ke kampung halaman mereka di Pamekasan, Madura.

Pemberian nama “As’ad” untuk sang putra memiliki kisah yang menarik dan penuh makna. Konon, nama tersebut terinspirasi dari sebuah mimpi yang dialami oleh KH. R. Syamsul Arifin ketika sang istri sedang mengandung. Dalam mimpinya, beliau menyaksikan istri tercintanya melahirkan seorang bayi yang tubuhnya dipenuhi bulu tebal menyerupai macan, atau lebih tepatnya singa. Di pundak bayi tersebut tertera tulisan Arab “Asad” yang bermakna “Singa”. Berdasarkan mimpi yang dianggap sebagai pertanda ini, KH. R. Syamsul Arifin memilih nama tersebut untuk putranya yang baru lahir.

Pendirian Pesantren dan Perkembangan Wilayah

KH. R. Syamsul Arifin dikenal sebagai pengasas Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah yang berlokasi di Situbondo. Pesantren ini tercatat sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam terbesar yang ada di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur. Berdasarkan riwayat yang beredar, pada tahun 1908 Masehi, KH. R. Syamsul Arifin melakukan pembukaan lahan hutan di kawasan Situbondo, tepatnya di Kecamatan Asembagus. Area hutan yang dibuka tersebut terletak di Desa Sukorejo. Seiring berjalannya waktu, setelah Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah resmi berdiri dan berkembang, wilayah di sekitar pesantren pun mengalami transformasi. Masyarakat mulai membangun tempat tinggal mereka di area tersebut sehingga kawasan itu menjadi semakin ramai dan berkembang menjadi pemukiman. Pada akhirnya, kepemimpinan dan pengelolaan pondok pesantren ini diturunkan kepada Kiai As’ad.

Silsilah Keluarga yang Mulia

Dari sisi garis keturunan, Kiai As’ad memiliki silsilah yang sangat mulia karena merupakan keturunan dari dua tokoh besar dalam Wali Sanga. Dari pihak ayahnya, KH. R. Syamsul Arifin, ia mewarisi darah Sunan Kudus, sedangkan dari pihak ibunya, Nyai Siti Maimunah, ia memiliki garis keturunan Sunan Ampel. Kedua garis silsilah yang mulia ini bersatu pada sosok Syekh Maulana Ibrahim Asmoro. Silsilah keturunan Kiai As’ad dapat ditelusuri secara lengkap hingga ke Syekh Maulana Malik Asmoro. Beliau memiliki lima orang istri. Mereka (istri-istri) tidak dinikahi dalam satu kali pernikahan, melainkan secara bertahap.

Kehidupan Pribadi dan Keluarga

Istri pertamanya adalah putri dari KH. Abdul Majid, Banyuanyar, Pamekasan, bernama Tuhfa. Mereka menikah pada tahun 1938. Namun, pernikahan ini hanya berlangsung dua tahun, dan dikaruniai seorang anak tetapi meninggal. Kemudian, Kiai As’ad menikah lagi dengan perempuan bernama Zubaidah. Dari pernikahannya yang kedua ini, ia dikaruniai 9 orang anak, tetapi dua orang (bernama Aini dan Nasihin) meninggal saat kecil. Untuk ketiga kalinya, Kiai As’ad menikah lagi dengan perempuan dari Desa Mimbaan, Situbondo. Namanya adalah Zainab. Dari pernikahan ini, ia dikaruniai seorang putra yang diberi nama Moh. Kholil. Kemudian, ia menikah lagi dengan seorang santrinya yang bernama Khoiriyah dan dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Abdurrahman, namun sayangnya meninggal pada saat masih kecil. Istri kelima Kiai As’ad bernama Junaidah. Perempuan ini berasal dari Besuki, Situbondo. Dari pernikahannya ini, Kiai As’ad tidak dikaruniai keturunan hingga ajal menjemputnya.

Kiai As’ad wafat pada tanggal 4 Agustus 1990 di Situbondo, dalam usia 93 tahun. Pada waktu wafat, ia menjabat sebagai Dewan Penasihat (Musytasar) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Saat ini, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah dipimpin oleh cucu cucunya yang bernama KH. Achmad Azaim Ibrahimy. Atas jasa-jasa dan perjuangannya selama hidup, pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menobatkan Kiai As’ad sebagai Pahlawan Nasional. Penganugerahan tanda jasa dan tanda kehormatan Bintang Mahaputra itu berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 91/TK/Tahun 2016 tanggal 3 November 2016.

Share This Article
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *