Burung Paok Sangihe dan Siau Kini Diakui sebagai Subspesies Erythropitta celebensis, Ini Penjelasannya

Hartono Hamid
4 Min Read

Perubahan Status Spesies Burung di Indonesia

Beberapa spesies burung yang sebelumnya dianggap sebagai spesies mandiri kini mengalami perubahan status. Contohnya, paok Sangihe dan paok Siau kini digabungkan kembali sebagai subspesies dari paok Sulawesi (Erythropitta celebensis). Hal ini menunjukkan adanya penyesuaian dalam pengklasifikasian burung berdasarkan data ilmiah terbaru.

Sebaliknya, beberapa spesies justru diturunkan statusnya menjadi subspesies. Empat takson lain, seperti myzomela rote dan burung-madu wakatobi, tidak lagi dianggap sebagai spesies mandiri karena masih membutuhkan bukti ilmiah tambahan. Perubahan ini dilakukan setelah melalui peninjauan ulang identitas dan batas antarspesies.

Dinamika Keanekaragaman Hayati di Indonesia

Pembaruan terbaru daftar burung di Indonesia menunjukkan dinamika penting dalam dunia keanekaragaman hayati. Hingga Januari 2026, jumlah spesies burung di Tanah Air tercatat mencapai 1.834 spesies, dengan 538 di antaranya merupakan spesies endemis yang hanya ditemukan di Indonesia.

Sebaran burung endemis tertinggi tercatat di wilayah Sulawesi dengan 159 spesies, disusul Maluku (117), Jawa dan Bali (80), Papua (75), Nusa Tenggara (62), Sumatra (54), dan Kalimantan dengan lima spesies. Data ini menegaskan posisi Indonesia sebagai negara dengan kekayaan burung endemis terbesar di dunia.

Ancaman terhadap Populasi Burung

Meski jumlah spesies tetap stabil, kondisi keterancaman sejumlah spesies tetap menjadi perhatian serius. Sebanyak 159 spesies burung Indonesia kini berstatus terancam punah secara global. Rinciannya, 29 spesies masuk kategori Kritis (CR), 49 spesies Genting (EN), dan 81 spesies Rentan (VU).

Perubahan status ini dipengaruhi oleh pembaruan data ilmiah yang memberikan gambaran lebih akurat tentang kondisi populasi di alam. Perubahan penting terjadi dalam aspek kajian ilmiah dan taksonomi. Lima spesies baru ditambahkan ke dalam daftar, sementara enam spesies lainnya dikeluarkan setelah melalui peninjauan ulang identitas dan batas antarspesies.

Contoh Perubahan Taksonomi

Salah satu contoh perubahan terjadi pada kelompok kangkok di Kalimantan. Kangkok gelap (Hierococcyx bocki) kini dipisahkan menjadi dua spesies setelah ditemukan perbedaan vokal yang signifikan. Populasi di Kalimantan ditetapkan sebagai spesies baru, yaitu kangkok tiga-nada (Hierococcyx tiganada).

Perubahan serupa juga ditemukan pada kelompok myzomela di Kepulauan Banda. Berdasarkan kajian terbaru, populasi di Pulau Tanimbar dan Pulau Babar memiliki perbedaan suara yang jelas dan tidak saling merespons, sehingga kini diklasifikasikan sebagai dua spesies terpisah, yakni Myzomela annabellae dan Myzomela babarensis.

Selain itu, puyuh-siul dulit (Rhizothera dulitensis) turut dimasukkan ke dalam daftar burung Indonesia setelah penelitian menunjukkan kemungkinan habitatnya mencakup wilayah Kalimantan, meskipun catatan perjumpaan masih terbatas.

Upaya Konservasi dan Penyelarasan Global

Tekanan terhadap populasi burung di Indonesia pun masih menjadi perhatian serius. Perubahan penggunaan lahan yang berdampak pada hilangnya habitat, serta perburuan untuk perdagangan burung peliharaan, menjadi ancaman utama bagi kelangsungan berbagai spesies.

Head of Conservation & Development Burung Indonesia, Adi Widyanto, menegaskan bahwa publikasi status burung ini memiliki peran penting dalam praktik konservasi. Dokumen ini menjadi rujukan bagi berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga organisasi konservasi, dalam menyusun program perlindungan, survei, hingga identifikasi satwa.

“Data ini juga menjadi dasar dalam penilaian Daftar Merah IUCN serta penentuan kawasan penting bagi keanekaragaman hayati,” ujarnya.

Penyelarasan Daftar Burung Dunia

Sebagai bagian dari upaya global, penyelarasan daftar burung dunia kini mengacu pada AviList yang diluncurkan pada 11 Juni 2025. Kehadiran daftar ini bertujuan menyatukan perbedaan taksonomi global, sehingga data burung Indonesia dapat dibandingkan secara lebih konsisten di tingkat internasional.

Share This Article
Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *