Desa Simpang Yul Kesulitan Jaringan, Warga Harus Pindah Ke Desa Lain

Ratna Purnama
5 Min Read

Kondisi Jaringan Internet yang Buruk di Desa Simpang Yul, Bangka Barat

Suasana kota atau desa yang terasa hening bisa menjadi indikasi dari berbagai masalah yang sedang dihadapi masyarakat. Di Desa Simpang Yul, Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, keheningan tersebut tidak hanya terasa dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari kondisi jaringan internet dan telepon yang lambat. Pada Rabu (15/4) siang, warga dan pengunjung merasakan kesulitan dalam mengakses layanan komunikasi digital.

Kondisi ini membuat banyak titik di desa tersebut menjadi blank spot, yaitu area tanpa sinyal sama sekali. Bahkan, saat bangkapos.com berkunjung ke lokasi, layanan telepon dan pesan melalui WhatsApp tidak dapat digunakan di beberapa titik. Pesan yang dikirim hanya menunjukkan tanda loading berputar, sementara panggilan telepon gagal tersambung dengan notifikasi agar memastikan perangkat memiliki koneksi internet.

Masalah ini bukanlah hal baru bagi masyarakat setempat. Selama bertahun-tahun, mereka telah mengeluhkan kualitas jaringan yang buruk. Banyak warga terpaksa berpindah ke desa atau kelurahan lain hanya untuk mendapatkan sinyal. Hal ini sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama karena banyak fasilitas publik seperti sekolah, kantor desa, dan Puskesdes yang memerlukan akses internet.

Sekretaris Desa (Sekdes) Desa Simpang Yul, Sarip, menjelaskan bahwa kondisi buruknya sinyal di desa ini telah terjadi sejak bertahun-tahun lalu. Akibatnya, pihak desa sering tertinggal informasi dan lambat dalam memberikan pelayanan kepada warga. “Semenjak awal 2017, sinyal sempat bagus. Parahnya dimulai tiga tahun ke belakang dari 2024, 2025, dan sekarang 2026 nambah full lelet,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa aplikasi seperti Srikandi yang digunakan oleh pemerintah desa sering mengalami penundaan karena ketergantungan pada koneksi internet. “Kami harus menunggu hingga 32 menit, dan apabila mati lampu, kami terpaksa menunda pelayanan, kecuali yang manual dan ada kadesnya,” tambahnya.

Dampak Luas dari Lemahnya Jaringan

Lemahnya jaringan internet tidak hanya mengganggu pelayanan administratif, tetapi juga berdampak pada kehidupan sehari-hari warga. Sekolah, instansi pemerintah, dan masyarakat umumnya menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dan mengakses informasi. Namun, karena sinyal yang tidak stabil, informasi sering kali terlambat diterima.

“Kami di desa ingin input data, harus ke Kelurahan Kelapa, lebih dekat dari Desa Simpang Yul, kalau ke Tempilang jauh,” jelas Sarip. Ia juga menyebutkan bahwa berbagai upaya telah dilakukan, termasuk mengadu ke DPRD Bangka Barat. Meskipun respon baik, hasilnya masih menunggu tindak lanjut.

Camat Tempilang, Rusian, mengatakan bahwa di wilayah Kecamatan Tempilang masih terdapat sejumlah titik di desa-desa yang mengalami sinyal lemah. Contohnya adalah kawasan wisata Pantai Pasir Kuning, serta beberapa dusun di Desa Simpang Yul dan arah Desa Penyampak hingga Tanjung Nyiur. Kondisi ini dinilai sangat mengganggu aktivitas digital masyarakat.

Menurut Rusian, kebutuhan akan sinyal yang kuat sangat penting, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Oleh karena itu, ia berharap ada upaya untuk memperkuat sinyal di wilayah tersebut. “Mudah-mudahan semuanya bersinergi memperkuat sinyal itu, para penyedia juga bisa memahami, dan melalui penguatan oleh pemerintah,” ujarnya.

Upaya Perbaikan Jaringan

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Bangka Barat, Indra Cahaya, mengatakan bahwa telah dilakukan rapat bersama DPRD dan Pemdes Simpang Yul, membahas terkait susah sinyal. Dalam pertemuan tersebut turut diundang pihak provider, namun tak datang. Untuk menjelaskan persoalan susah sinyal.

Indra menyebutkan bahwa pelaporan tentang blank spot perlu dilakukan ke Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). “Pelaporan dapat dilakukan melalui aplikasi yang terhubung dalam grup komunikasi nasional. Termasuk tindak lanjut yang juga dilakukan melalui grup WhatsApp sebagai salah satu upaya penanganan wilayah blank spot,” katanya.

Analisis: Negara Belum Hadir di Ruang Digital Desa

Eddy Supriadi, Dosen Universitas Pertiba (Uniper), mengkritik situasi ini dengan menyatakan bahwa negara belum sepenuhnya hadir di ruang hidup digital masyarakat desa. Masalah sinyal lemot, akses sulit, dan komunikasi terganggu bukan hanya isu teknis, tetapi juga menggambarkan ketimpangan akses digital.

Di tengah narasi transformasi digital, pemerintah sering menampilkan capaian yang impresif. Namun, angka-angka tersebut terasa jauh dari kenyataan di lapangan, terutama di desa-desa seperti Simpang Yul. Bagi warga, internet sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketika jaringan tidak stabil, yang terganggu bukan hanya sinyal, tetapi juga akses terhadap peluang dan masa depan.

Di titik inilah persoalan menjadi serius. Ketimpangan akses digital bukan sekadar isu teknologi, melainkan persoalan keadilan. Warga desa dipaksa hidup dalam keterbatasan, sementara di kota, internet sudah menjadi infrastruktur dasar seperti listrik dan jalan. Perbedaan ini menciptakan jurang baru, bukan lagi sekadar ekonomi, tetapi jurang digital yang menentukan siapa yang bisa maju dan siapa yang tertinggal.




Share This Article
Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *