Ekspor Sulsel Turun Akibat Konflik Global dan Permintaan Jepang-China Melemah

admin
4 Min Read

Penurunan Ekspor Sulawesi Selatan di Tengah Tantangan Global

Kinerja ekspor Sulawesi Selatan (Sulsel) pada awal tahun 2026 mengalami penurunan yang signifikan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel menunjukkan bahwa secara kumulatif, nilai ekspor Januari hingga Februari 2026 mencapai 209,89 juta dolar AS. Angka ini turun sebesar 21,57 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025, yang mencapai 267,61 juta dolar AS.

Meski terjadi kenaikan bulanan, penurunan secara tahunan tetap terlihat. Pada Februari 2026, nilai ekspor Sulsel tercatat sebesar 142,15 juta dolar AS, meningkat 109,84 persen dibandingkan Januari 2026 yang hanya mencapai 67,74 juta dolar AS. Namun, angka tersebut masih lebih rendah 0,92 persen dibandingkan Februari 2025 sebesar 143,47 juta dolar AS.

Faktor Penyebab Penurunan Ekspor

Menurut Arief R Pabettingi, Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) DPD Sulselbar, penurunan ekspor Sulsel dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal dan struktural. Salah satu penyebab utama adalah konflik di Timur Tengah yang terus memanas, yang berdampak pada jalur dan stabilitas perdagangan global.

“Kondisi ekspor Sulsel memang turun akibat beberapa faktor, terutama konflik Timur Tengah yang membuat alur perdagangan terkoreksi,” ujarnya kepada media di Makassar, Senin (6/4/2026).

Selain faktor geopolitik, penurunan daya beli negara tujuan utama ekspor juga menjadi penyebab signifikan. Jepang dan China, yang selama ini menjadi pasar utama, mengalami penurunan permintaan terhadap komoditas dari Sulsel.

“Daya beli negara pengimpor seperti Jepang dan China juga menurun, sehingga permintaan ikut berkurang,” jelasnya.

Struktur Ekspor yang Rentan Fluktuasi

Dari sisi struktur ekspor, Sulsel masih sangat bergantung pada komoditas bahan mentah berbasis sumber daya alam, seperti perikanan, perkebunan, pertanian, dan pertambangan. Ketergantungan ini membuat ekspor rentan terhadap fluktuasi harga global.

Komoditas nikel menjadi penyumbang terbesar, dengan kontribusi sekitar 70 persen terhadap total ekspor Sulsel. Pada Februari 2026, nilai ekspor nikel mencapai 103,42 juta dolar AS.

Arief menyebut, ketika harga nikel mengalami penurunan di pasar global, dampaknya langsung terasa pada nilai ekspor dan juga berimbas pada pendapatan daerah. “Jika harga nikel turun, pasti membuat pendapatan daerah (PAD) Sulsel juga ikut turun,” katanya.

Data Ekspor Berdasarkan Negara dan Komoditas

Sebelumnya, Kepala BPS Sulsel, Aryanto, mengakui secara bulanan ekspor Sulsel mengalami peningkatan yang cukup tinggi, namun secara tahunan menurun. “Namun jika dibandingkan dengan Februari 2025 yang sebesar 143,47 juta dolar AS, terjadi penurunan sebesar 0,92 persen,” kata Aryanto.

Dari sisi negara, Jepang masih menjadi tujuan utama ekspor Sulsel dengan nilai 105,04 juta dolar AS, disusul Tiongkok sebesar 27,40 juta dolar AS. Selanjutnya Taiwan sebesar 2,18 juta dolar AS, Korea Selatan 1,79 juta dolar AS, dan Bangladesh sebesar 1,71 juta dolar AS.

Dari sisi komoditas, ekspor Sulsel masih didominasi oleh nikel dengan nilai 103,42 juta dolar AS. Komoditas lainnya yakni kakao sebesar 9,79 juta dolar AS, besi dan baja 6,93 juta dolar AS. Kemudian biji-bijian berminyak 6,63 juta dolar AS, serta garam, belerang, dan kapur 4,80 juta dolar AS.


Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *