Jalan Aroepala Penuh Debu, Warga Harap Segera Selesai Tanpa Macet

Amanda Almeirah
4 Min Read

Kondisi Jalan Aroepala yang Menimbulkan Debu Tebal

Aktivitas pengerjaan jalan di Jalan Aroepala memicu munculnya debu tebal, yang mengganggu pengguna jalan. Perbaikan jalan ini merupakan bagian dari anggaran preservasi jalan provinsi paket 1 Sulawesi Selatan (2025-2027) dengan total nilai sebesar Rp430,7 miliar. Proyek tahun jamak (Multi Years Contract – MYC) ini mencakup penanganan 13 ruas jalan sepanjang 300,24 km yang tersebar di wilayah selatan, termasuk Makassar, Gowa, dan Sinjai.

Pengerjaan ruas Jl Hertasning-Aroepala sudah memasuki tahapan proyek, yaitu pengerukan aspal jalan, pembongkaran paving block, dan perataan kontur badan jalan sepanjang 1,8 km. Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi menerapkan skema Run On – Run Off (buka tutup jalan) untuk mengurai kemacetan parah. Sementara itu, konsultan proyek terkadang menyiram badan dan bahu jalan guna menjaga kualitas udara dan kenyamanan warga serta pengguna jalan.

Dari pantauan di lokasi, kondisi ruas jalan tampak hampir dipenuhi debu dari setiap kendaraan yang melaju. Permukaan jalan yang masih berupa tanah dan kerikil menyebabkan debu beterbangan saat kendaraan melintas, terutama roda dua dan kendaraan berat. Terlihat sebuah bus Trans Sulsel melaju perlahan di tengah kepulan debu. Sementara itu, pengendara motor tampak berhati-hati dan mengenakan penutup wajah guna mengurangi dampak debu yang cukup pekat.

Selain itu, aktivitas lalu lintas di kawasan tersebut tetap berjalan meski kondisi jalan kurang nyaman. Beberapa kendaraan bahkan harus mengurangi kecepatan untuk menghindari jalan yang tidak rata. Di sisi jalan, kendaraan proyek terlihat terparkir berjejer.

Pengalaman Pengguna Jalan

Salah satu pengguna jalan, Munandar, mengatakan jalur Hertasning-Aroepala dilewati tiap harinya. “Iye, lewat sini setiap hari kalau pergi kerja,” katanya. Banyaknya debu di wilayah tersebut, kata dia, membuatnya harus lebih berhati-hati. “Banyak sekali (debu), pas dikerja ini jalan,” katanya. Meski begitu, ia tak mempermasalahkan hal tersebut karena ruas jalan yang rusak itu akhirnya dikerjakan. “Ya semoga cepat rampung saja ini jalan biar ndak macet lagi,” jelasnya.

Penjelasan dari Kepala Seksi Preservasi Jalan

Kepala Seksi Preservasi Jalan Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), ZN Ahmad Wildani, menjelaskan bahwa panjang ruas Jl Aroepala adalah 1,8 km. Ruas Jl Aroepala membentang mulai dari eks Kantor Dinas Pendidikan Kota Makassar, kemudian memanjang hingga tugu badik perbatasan Kota Makassar – Kabupaten Gowa. Kondisi ruas jalan begitu memprihatinkan, utamanya di sekitar Rumah Sakit Primaya dan di depan Aroepala Food Court.

Jalan berlubang sempat ditambal sementara dengan paving block, hanya saja kondisinya sudah memburuk. Paving terbongkar dan membahayakan pengendara. Saat hujan, air menggenang kian memperburuk kondisi jalan. “Kita perlu jelaskan, bahwa untuk Jalan Hertasning sepanjang 1,8 km sampai di eks Kantor Disdik itu sudah ditangani pengaspalan. Untuk selanjutnya sampai perbatasan Gowa itu juga masuk dalam Paket 1, dan akan ditangani,” ujar Ahmad Wildani dalam keterangannya pada Minggu (29/3/2026).

Metode Perbaikan Jalan

Perbaikan ruas Jalan Aroepala menggunakan dua metode. Sebagian ruas akan diaspal, sebagian lainnya menggunakan beton (rigid pavement). “Kalau Hertasning pengaspalannya telah selesai, selanjutnya perbaikan pedestrian dan pembersihan saluran. Untuk Aroepala akan ditangani 1,8 km dengan dua macam penanganan yakni aspal dan beton. Belum dimulainya penanganan jalan di sana karena kita menunggu pengerjaan saluran terlebih dahulu, untuk salurannya menggunakan U-Ditch beton dan sementara dalam tahap pabrikasi,” jelasnya.


Share This Article
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *