Jaringan listrik Aceh kembali menyala, PLN mulai operasikan pembangkit

Ratna Purnama
5 Min Read

Pemulihan Jaringan Kelistrikan Aceh Berjalan Lancar

Pemulihan jaringan kelistrikan Aceh terus berlangsung dengan progres yang signifikan. Salah satu langkah penting dalam proses ini adalah pemulihan jaringan transmisi bertegangan 150 kilovolt (kV) Pangkalan Brandan–Langsa yang berhasil dilakukan oleh PT PLN (Persero) pada Rabu (17/12) pukul 13.30 WIB.

Dengan kembali terhubungnya interkoneksi sistem kelistrikan Aceh ke backbone sistem besar Sumatra, tahapan pemulihan kelistrikan Aceh memasuki fase pengoperasian kembali pembangkit listrik. Hal ini menjadi langkah krusial dalam mengembalikan kekuatan sistem kelistrikan Aceh pasca-bencana.

Peran Penting Jaringan Transmisi

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menyampaikan bahwa jaringan transmisi Pangkalan Brandan–Langsa merupakan penopang utama interkoneksi sistem kelistrikan Sumatra dan Aceh. Oleh karena itu, pemulihannya menjadi langkah penting dalam pemulihan sistem secara keseluruhan.

“Tersambungnya kembali transmisi Pangkalan Brandan–Langsa adalah titik penting dalam pemulihan kelistrikan Aceh. Jalur ini menjadi backbone interkoneksi Sumatra–Aceh, sehingga pemulihannya membuka jalan bagi tahapan lanjutan pemulihan sistem secara menyeluruh,” ujar Darmawan di Aceh Tamiang pada Rabu (17/12).

Proses Pemulihan yang Menantang

Pemulihan interkoneksi tersebut dilakukan melalui pembangunan tower darurat pada sejumlah titik transmisi yang terdampak banjir dan longsor. Proses ini dilakukan di tengah kondisi lapangan yang menantang, mulai dari akses lokasi yang terbatas, kontur medan yang labil pascabencana, hingga curah hujan yang tinggi sehingga menyebabkan genangan air dan lumpur yang ekstrem.

“Dalam prosesnya, pembangunan tower darurat ini dilakukan di tengah kondisi lapangan yang menantang, mulai dari akses lokasi yang terbatas, kontur medan yang labil pascabencana, hingga curah hujan yang tinggi sehingga menyebabkan genangan air dan lumpur yang ekstrem,” jelas Darmawan.

Tahapan Pengoperasian Pembangkit

Setelah jaringan transmisi berhasil tersambung kembali, PLN memasuki tahap pengoperasian kembali pembangkit listrik, khususnya PLTU Nagan Raya. Proses ini membuat sistem kelistrikan Aceh berangsur-angsur pulih. Untuk pengoperasian yang optimal, dibutuhkan durasi sekitar 48 jam ke depan melalui proses pemanasan, sinkronisasi dengan sistem, serta pengujian kinerja.

Tahapan ini menjadi prasyarat sebelum sistem dapat dibebani lebih lanjut agar aliran listrik tetap andal dan tidak memicu gangguan lanjutan.

“Pemulihan kelistrikan harus dilakukan berurutan. Setelah interkoneksi aman, kami masuk ke pengoperasian pembangkit agar pasokan yang dihasilkan benar-benar optimal dan dapat menopang sistem secara andal,” tegas Darmawan.

Penyaluran Listrik ke Masyarakat

Selanjutnya, pasokan listrik akan secara bertahap disalurkan ke jaringan distribusi melalui 20 unit gardu induk, 558 unit penyulang, dan 15.717 unit gardu distribusi yang melayani masyarakat di seluruh wilayah Aceh.

Untuk mendukung seluruh proses pemulihan, lebih dari 1.600 petugas PLN masih terus bersiaga hingga pemulihan listrik pascabencana di Aceh dapat dituntaskan. Darmawan menjelaskan juga bahwa semangat masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana menjadi inspirasi para insan PLN yang bertugas.

“Kami belajar dari semangat dan perjuangan masyarakat Aceh yang tidak pernah padam untuk bangkit dari kondisi bencana ini. Maka tim PLN tidak pernah menyerah karena ini bukan hanya soal memulihkan pasokan listrik, namun ini adalah simbol api perjuangan rakyat Aceh,” ungkapnya.

Dukungan dari Unit Lain

General Manager PLN Unit Induk Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (UIP3B) Kalimantan, Riko Ramadhano Budiawan, menyampaikan bahwa keberhasilan pemulihan interkoneksi sistem kelistrikan Aceh merupakan hasil dari kerja kolaboratif lintas unit PLN yang bergerak cepat dan solid di lapangan. Ia menjelaskan, UIP3B Kalimantan turut berkontribusi langsung dalam upaya pemulihan tersebut dengan mengirimkan tim bantuan khusus.

“Sebagai bentuk dukungan terhadap pemulihan sistem kelistrikan Aceh, PLN UIP3B Kalimantan menurunkan 15 personel Emergency Restoration System (ERS) untuk membantu percepatan perbaikan tower dan jaringan transmisi yang terdampak bencana,” ujar Riko.

Riko menambahkan, para personel ERS UIP3B Kalimantan diterjunkan untuk memperkuat pekerjaan pembangunan tower darurat dan pengamanan jaringan transmisi di lokasi-lokasi terdampak, terutama pada area dengan tingkat kesulitan medan yang tinggi.

Menurutnya, pengalaman dan kompetensi personel ERS menjadi faktor penting dalam menjaga keandalan sistem selama masa pemulihan.

“Penugasan ini merupakan wujud komitmen PLN dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional. Kami memastikan personel yang diterjunkan memiliki kompetensi, kesiapan fisik, serta mengedepankan aspek keselamatan kerja di tengah kondisi lapangan yang menantang,” tegasnya.

Harapan dan Komitmen PLN

Lebih lanjut, Riko menegaskan bahwa semangat gotong royong dan solidaritas antarsatuan kerja PLN menjadi kunci utama dalam menghadapi situasi darurat pascabencana.

Ia berharap, dengan pulihnya interkoneksi dan berjalannya tahapan pengoperasian pembangkit, pasokan listrik di Aceh dapat kembali andal dan mendukung pemulihan aktivitas masyarakat.

“PLN akan terus hadir dan bekerja tanpa henti hingga sistem kelistrikan Aceh benar-benar pulih secara menyeluruh. Ini adalah bentuk tanggung jawab kami untuk memastikan listrik tetap menjadi penggerak kehidupan dan pemulihan ekonomi masyarakat,” pungkas Riko.

Share This Article
Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *