Hari terakhirku di sana…
Syukur, semua berjalan baik. Tingkat keberhasilannya mencapai 85%. Tidak begitu mengecewakan menurutku. 15% dari keseluruhan proses mengalami kendala cuaca. Mau bagaimana lagi.
Momen-momen sibuk telah berlalu. Hari ini selesai pada pukul 10.15. Dilanjutkan kembali sore hari pada pukul 15.00.
Waktu luang ku habiskan di kamar. Menikmati pemandangan alam dari balkon. Mengenakan bathrobe yang disediakan hotel berwarna putih, yang selama tugas dimana pun, jarang sekali ku gunakan. Pakaian bersih ku hanya tersisa satu setel. Jadi harus dihemat untuk kepulangan esok.
Siklusnya ku pikir selalu sama. Datang dengan antusias, mata berbinar-binar. Mendekati detik-detik kepulangan, mulai terasa berat hati melepaskan.
Memikirkan hal itu, seluruh perjalanan ku di sini diputar ulang cepat di kepala. Mulai dari hari pertama hingga detik ini.
Satu tarikan napas panjang ku ambil. Aku akan merindukan banyak hal tentang tempat ini. Suasana, pemandangan, makanan, keramahan tim yang bertugas.
Segelas kopi hitam tanpa gula berjarak sejengkal tangan ku raih, ku teguk bersamaan dengan suasana hati yang menggelayut.
Properti ini berada di dataran tinggi. Satu-satunya Luxury Resort di kawasan itu. Label prestise tersebut disandang hingga artikel ini dibuat.
Sekelilingnya berupa perbukitan hijau pekat, yang mana bila ditarik lebih jauh, berubah menjadi lekuk-lekuk kontur pegunungan.
“Win, di sini weather-nya ‘on-off’, ‘on-off’ ya…” ujar lawan bicara via sambungan telepon, jauh-jauh hari sebelum kedatangan ku.
“It’s ok Bapak… Justru itu yang Darwin cari, tantangan!” timpalku cepat antusias.
Sekali waktu ku temukan sebuah foto. Letaknya jauh dari Indonesia. Paro, Bhutan tepatnya. Sebuah scene alam pegunungan menjulang tinggi. Hanya ada bangunan tunggal di sana, sebuah kuil. Foto diambil medium shoot. Kabut menyelimuti nyaris 75% bagian pegunungan tersebut.
ALAMAK! Runtuh sudah kata-kataku. Tak ada satu rangkaian kalimat yang sanggup ku utarakan untuk menggambarkan visualnya. Penggabungan 3 elemen yang saling melengkapi, bersatu secara harmonis.
Foto itu ku temukan beberapa tahun lalu. Hingga tahun-tahun berikutnya, perasaan ku melihat foto itu masih sama. Tidak berubah sedikit pun. Tetap takjub. Termangu dalam lamunan imaji tak bertepi.
Sejak saat itu, tanpa ku sadari, aku begitu terobsesi dengan kabut.
Nah kebetulan! Property ini nyaris saban hari didatangi kabut. Kondisi cuacanya begitu dinamis. Tidak bisa diterka. Dari cerah, bisa tiba-tiba mendung. Tiba-tiba cerah lagi, mendadak hujan. Lantas tertutup kabut.
Itu sebabnya kenapa di awal tadi, aku antusias meski weather-nya dibilang ‘on-off’, ‘on-off’.
Bisa kah aku me-re-create foto Paro — Bhutan dengan versi ku sendiri?
Kenyataan berkata lain. Brand Photography GuideLines ber-statement bahwa haruslah ‘ditangkap’ dalam kondisi cuaca cerah. Langit wajib biru.
Syarat mutlak itu bikin aku ketar-ketir. Komat-kamit tiap hari ke arah angkasa yang membentang.
Room ku #232. Building #3. Di sudut barat.
Proses check-in berjalan lancar dan mengesankan. Aku di assist seorang Senior staff Front Desk menuju kamar.
Maksud hati tak ingin merepotkan orang lain. Biar dilepas saja. Tapi apa mau dikata. Area resort ini besar. Tidak semudah berkata lurus, nanti belok kiri terus ke kanan, sampai. Tidak, tidak seperti itu. Resort ini luas. Sangat luas.
Sejarah singkat resort ini ku lahap bersamaan dengan ayun langkah kaki hingga key card di tap pada sensor depan pintu, tibalah aku di kamar yang akan ku tempati beberapa hari ke depan.
“Selamat istirahat, Bapak Darwin, senang Bapak ada di sini”, ujar Senior staff mengakhiri, pamit undur diri usai memberikan room tour.
Pintu kamar sudah ku tutup, namun satu kalimatnya tadi cukup mengusik pikiran. Terngiang-ngiang terus di telinga.
“Semua soft drink di minibar, complimentary, Bapak Darwin,” terangnya tadi.
Seumur-umur, itu kali pertama aku ‘dihadiahi’ ucapan macam itu.
Suasana hening menyergap.
Aku terdiam beberapa saat. Dalam posisi berdiri, aku menepuk-nepuk kedua paha secara asal. Menimbang-nimbang apa perlu ambil foto kamar ku sendiri sebelum teracak-acak?
Satu sisi, 3–4 hari ke depan aku bakal ‘dihajar’ penuh motret seluruh area Resort. Pasti bakalan puas ambil gambar sampai mabok ampun-ampun.
Sisi lain, set up kamar ini begitu menarik hati. Terlalu cantik dilewatkan begitu saja.
Tak apalah. Hitung-hitung pemanasan. Kedua tanganku gatal. Ingin iseng utak-atik sesuatu. Toh di hari kedatangan ku ini belum ada jadwal berarti. Diberi kesempatan istirahat penuh.
Ku pikir room ini sekelas Deluxe atau Premiere Deluxe, melihat dari luas dan kelengkapan furniture nya. Dugaan ku salah. Aku menempati kamar tipe Superior.
4 botol kaca mineral water ukuran sedang terjejer rapih. Kopi dan teh nya pakai premium local product.
Si produk kopi nya unik. Baru ini ku temukan.
Jadi ketika kita robek kemasan packaging, di dalamnya ada kantung serupa tea bag. Sisi atas kantung itu kita sobek, terbuka lah isi kantung yang di dalamnya ada kopi tubruk. Sisi kanan-kiri si kantung itu ada karton yang bisa kita tarik untuk digantungkan ke bibir gelas. Tinggal di seduh deh tuh si kopi. Jadi ampasnya tetap berada di dalam kantung, sari kopi nya keluar mengisi dalam gelas. Kalau dirasa sudah cukup, si kantung itu tinggal diambil lalu dibuang.
Working desk area nya nyaman. Ada smartTV, ceiling fan dan juga AC central.
Ceiling fan dan AC central tidak ku gunakan. Ini dataran tinggi. Sudah dingin sejuk. Yang ku perlukan pemanas ruangan malah, kalau ada.
Televisi pun demikian. Sudah lama aku tak pernah menyentuh benda itu di hotel mana pun. Aku ke sini untuk kerja. Bukan cari hiburan atau ber-plesiran. Entah lah, sudah otomatis jadi kebiasaan alam bawah sadar.
Hiburan ku lebih ke duduk sendiri di area favorit, melamun. Memikirkan ini—itu apa yang mungkin terlewat atau masih ada area lain yang bisa dimaksimalkan.
Bathroom nya aku suka. Bersih terawat dan luas. Kelengkapan penunjangnya komplit.
Shower room nya lega. Aku tak bisa hitung persis ukurannya. Yang pasti dia berbentuk memanjang. Panjangnya mungkin ada nyaris dua rentang dua lengan orang dewasa. Sementara lebarnya satu rentang dua lengan orang dewasa kurang sedikit. Lantai nya ber-tekstur kesat warna putih gading. Jadi tidak licin saat kaki memijak.
Selagi memotret kamar ku, handphone berdenting. Pesan masuk ke Whatsapp.
“Win, lunch yuuuuk …”
“Ok ok Bapak. 20 more minutes boleh Bapak? Ini lagi iseng motoin kamar, nanggung, bentar lagi selesai, hehehe” balas ku.
“It’s ok Win, please take your time. No need rush”
“Copied, thank you Bapak. See you soon”
Dari penugasan ini aku belajar banyak. Dan aku amat mensyukuri akan hal ini. Khususnya dari lubuk hati paling dalam.
Ilmu yang diperoleh tidak diajarkan dari text book manapun, melainkan pengalaman dan jam terbang.
Beliau ini termasuk kalangan Elite Senior di bidang Hospitality Industry. Mata nya peka. Teramat teliti akan sesuatu hal yang ternyata masih saja luput dari pandangan ku.
Beliau paham betul mana angle taste untuk Sales, mana angle taste untuk keperluan Marketing. Semua tentang jam terbang.
Experience ini merupakan buah paling manis bagiku di penghujung tahun 2025.
Pintu baru telah terbuka …
Selamat datang di Banyan Group.