Kondisi Jembatan Gantung yang Putus Berdampak pada Sekolah dan Warga
Di Dusun Datar Mangkung, Desa Tumingki, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), kondisi jembatan gantung yang putus memberikan dampak besar bagi kehidupan masyarakat setempat. Terutama bagi siswa dan guru SDN 1 Tumingki, yang terpaksa menggunakan getek bambu sebagai alat penyeberangan di Sungai Amandit.
Pada Rabu (21/1/2026), saat mengunjungi SDN 1 Tumingki, terlihat para murid, tenaga pendidik, dan warga setempat menyeberang sungai dengan menggunakan getek bambu. Murid kelas rendah berkumpul untuk pulang sekolah, mereka mulai naik getek dibantu oleh salah satu Babinsa dari Koramil Padang Batung, yaitu Kopral II Herlan, yang menarik getek hingga ke seberang sungai.
Di seberang, orang tua sudah menunggu anak-anak mereka. Beberapa anak cukup berani menyeberang sendiri, namun kebanyakan harus bergantian karena hanya tersedia satu buah getek. Getek ini menjadi satu-satunya akses untuk menyeberang.
Kepala Sekolah SDN 1 Tumingki, Rahmadi, menjelaskan bahwa kondisi ini sangat berdampak bagi guru dan murid. Mereka membutuhkan waktu ekstra saat menyeberang di pagi hari, terlebih ketika harus bersamaan dengan warga desa yang sedang beraktivitas.
“Kami harus tepat waktu untuk absensi, sementara anak-anak juga perlu keselamatan. Ini cukup mengkhawatirkan,” ujarnya.
Banyak guru dan murid berasal dari luar Dusun Datar Mangkung. Total jumlah murid di SDN 1 Tumingki mencapai 38 orang. Sebagian besar murid yang harus menyeberang berasal dari Dusun Majulung dan Lambuk. “Di Dusun Datar Mangkung lebih sedikit, jika dibandingkan adalah 3:1,” tambahnya.
Rahmadi berharap jembatan gantung dapat segera dibangun kembali. Getek tidak hanya digunakan untuk menyeberangkan orang, tetapi juga untuk mengangkut hasil kebun, pertanian, membeli bahan pokok, atau bahkan mengangkut sepeda motor.
Jembatan Masih Putus Akibat Banjir
Sebelumnya, jembatan di Dusun Datar Mangkung masih terputus akibat banjir yang terjadi di Kecamatan Loksado pada akhir Desember 2025. Sisa-sisa material bangunan masih ada di dua sisi sungai, meskipun bangunan kayu ulin tersebut nampak utuh.
Kepala Desa Tumingki, Muhammad Yadi, menyatakan bahwa kondisi ini membuat warga Datar Mangkung terisolir. Untuk menyeberang ke Dusun Majulung dan menuju jalan utama Loksado, warga harus menggunakan getek bambu.
Getek dibuat swadaya oleh warga setempat dengan tali yang dibentangkan dari pohon ke pohon menyeberangi Sungai Amandit yang lebarnya sekitar 30 meter. Tali ini menjadi pegangan dan penarik selama penyeberangan.
Menurut Yadi, selama penggunaan getek, belum pernah terjadi kecelakaan air seperti tercebur atau terbalik. Namun, warga tetap berhati-hati dan melihat debit air. Jika air deras dan tinggi, mereka menunggu sampai kondisi normal.
Biaya pembuatan getek diperkirakan sekitar Rp 2 juta dari swadaya masyarakat. Termasuk dalam biaya pembelian tali dan pembuatan bambu. Pernah sekali tali putus, lalu warga membeli dan memasang kembali.
Keterbatasan Getek Bambu
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa warga Datar Mangkung bergantian menggunakan getek tersebut, karena hanya bisa memuat maksimal enam orang dewasa. Anak-anak bisa masuk hingga 10 orang, meskipun akses ini sangat vital bagi warga.
Berdasarkan informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) HSS, kerusakan akibat banjir mencakup putusnya jembatan gantung di Datar Mangkung, Desa Tumingki, serta jembatan gantung di Niih, dan satu rumah warga di Kecamatan Loksado.