Laporan Merah Akhir Tahun, Timbangan Jadi Cermin, Niat Menuju 2026

Ratna Purnama
6 Min Read

Refleksi Kesehatan dan Kesadaran Diri di Akhir Tahun

Akhir tahun selalu menjadi momen yang tepat untuk melakukan refleksi. Saat-saat ini memberikan ruang hening bagi kita untuk menengok kembali kebiasaan sehari-hari, sekaligus menilai apa yang perlu diperbaiki sebelum memasuki tahun berikutnya. Di tengah kesibukan pekerjaan dan tugas sebagai orangtua, sering kali kita lupa untuk meluangkan waktu untuk diri sendiri. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk bercermin dan mengevaluasi.

Tahun ini, cermin itu hadir dalam bentuk yang tidak terduga: sebuah rapor kesehatan dengan dua catatan merah. Awal dari pengalaman ini terjadi pada September 2025 ketika saya melakukan skrining riwayat kesehatan melalui aplikasi BPJS Kesehatan. Skrining ini bertujuan untuk mendeteksi risiko penyakit dan mencegah dampak lanjutan, terutama bagi kelompok usia 45-59 tahun seperti saya.

Prosesnya cukup mudah dan praktis karena bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Pada tahap awal, saya hanya perlu mengisi formulir yang berkaitan dengan riwayat hipertensi, stroke, dan penyakit jantung iskemik. Jawabannya sederhana, hanya ya atau tidak.

Sebulan kemudian, saya menerima pesan WhatsApp dari akun resmi BPJS Kesehatan. Pesan tersebut berisi hasil skrining yang telah saya lakukan. Ada indikasi adanya risiko penyakit yang memerlukan konsultasi lebih lanjut dengan dokter di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), atau melalui layanan telekonsultasi.

Bulan berikutnya, saya melakukan konsultasi dan pemeriksaan kesehatan di puskesmas terdekat. Hasilnya, saya kembali menerima pesan WhatsApp berupa rapor kesehatan yang menjelaskan kondisi tubuh saya saat itu. Dalam rapor tersebut, terdapat dua nilai merah. Keduanya menjadi penanda adanya kesenjangan antara hasil pemeriksaan dan nilai normal.

Catatan merah itu berkaitan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang berada di atas batas ideal dan lingkar perut yang melebihi 90 sentimeter. Rapor kesehatan tersebut merekomendasikan penurunan berat badan melalui pola makan sehat dan seimbang, disertai aktivitas fisik minimal 30 menit per hari sebanyak 3-5 kali dalam seminggu. Selain itu, konsultasi rutin dengan ahli gizi atau dokter keluarga juga dianjurkan.

Hasil pemeriksaan lainnya seperti tekanan darah, gula darah, dan indikator penyakit tidak menular masih dalam kategori hijau atau normal. Di usia kepala lima, saya mulai menyadari bahwa tubuh tidak lagi bisa diajak berkompromi. Dengan tinggi sekitar 160 sentimeter, berat badan saya kini melebihi 70 kilogram, yang terasa semakin jauh dari ideal.

Lingkar perut pun telah melampaui batas aman bagi laki-laki dewasa. Dampaknya terasa nyata: tubuh terasa lebih berat, perut tampak buncit, pakaian kian sempit, dan tubuh lebih cepat lelah. Berat badan berlebih atau obesitas ternyata tidak memilih siapa korbannya. Ia bisa datang kepada siapa saja, termasuk orangtua seperti saya.

Dalam kehidupan sehari-hari, penyebabnya sering kali sederhana: asupan yang tidak seimbang dengan aktivitas fisik. Aktivitas di kantor relatif minim dan lebih banyak dihabiskan dengan duduk. Sesekali turun ke lapangan dan berjalan kaki, tetapi tidak dilakukan secara rutin. Perjalanan menuju tempat kerja lebih sering ditempuh dengan sepeda motor atau mobil. Sementara, jalan pagi atau olahraga biasanya baru sempat dilakukan pada akhir pekan.

Di sisi lain, hari libur saya cukup aktif. Saya memelihara ikan di dua kolam, mengurus satu kandang dengan puluhan ekor ayam, dan merawat berbagai tanaman hias. Aktivitas-aktivitas ini memberi kesenangan sekaligus ketenangan, namun rupanya belum cukup untuk menyeimbangkan asupan harian yang masuk ke tubuh.

Pola makan saya tergolong wajar, bahkan terasa normal. Pagi hari saya sarapan ringan dan minum kopi tanpa gula. Di kantor, sering tersedia makanan ringan, minuman manis, atau kopi. Makan siang lengkap, disusul makanan ringan saat sore hari, lalu makan malam lengkap di rumah. Di sela-sela itu, terkadang masih ada mi instan yang terasa sulit ditolak.

Faktor lain yang tidak kalah berperan adalah stres. Kelelahan bekerja, pikiran tentang kebutuhan anak dan istri, serta keinginan yang tidak selalu bisa terwujud, kerap menumpuk menjadi beban pikiran. Dalam kondisi seperti itu, porsi makan sering bertambah tanpa benar-benar disadari.

Sampai kemudian, kesadaran itu datang perlahan, bukan melalui sakit atau diagnosis berat. Saya hanya merasa lebih cepat lelah, pakaian semakin sempit, dan penampilan terasa kurang proporsional. Menariknya, saat mengikuti skrining dan pemeriksaan kesehatan gratis pada November lalu, sebagian besar hasil pemeriksaan saya dinyatakan normal. Namun, tetap ada satu catatan penting: berat badan yang perlu diturunkan.

Di titik inilah pengukuran – timbangan berat badan benar-benar menjadi cermin. Ia tidak memarahi dan tidak menakut-nakuti, melainkan menunjukkan kondisi apa adanya. Dari sana saya sampai pada satu kesadaran sederhana: ini bukan semata-mata soal penampilan, melainkan tentang menjaga tubuh agar tetap mampu menjalani peran sebagai orangtua dengan lebih baik.

Karena itu, saya tidak ingin memasang resolusi yang berlebihan. Untuk tahun 2026, saya hanya memiliki satu niat: menurunkan berat badan secara bertahap. Targetnya sederhana – berat badan 65 kilogram dan lingkar perut maksimal 90 sentimeter. Sebuah tujuan yang mudah diikrarkan, tetapi saya sadar memerlukan usaha, konsistensi, dan kesabaran.

Saya tidak mengejar perubahan drastis. Saya hanya ingin lebih sadar dalam makan, lebih rutin bergerak, dan lebih jujur pada tubuh sendiri. Jika langkahnya kecil namun konsisten, saya percaya arah hidup pun dapat berubah.

Menutup tahun 2025, saya belajar bahwa berdamai dengan diri sendiri adalah awal dari perubahan. Timbangan bukan musuh, melainkan pengingat. Dan 2026, bagi saya, bukan tentang menjadi sempurna – melainkan tentang hidup yang lebih sehat, lebih sadar, dan lebih seimbang.

Share This Article
Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *