Libur Lebaran, Pengelola Parkir Eks Menara Kopi Jogja Bahagia Diserbu Bus Wisata

Lani Kaylila
4 Min Read

Perubahan Kebijakan Parkir Mengubah Dinamika Ekonomi di TPK Eks Menara Kopi

Penerapan kebijakan baru yang melarang bus wisata masuk ke kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta telah menghasilkan dampak signifikan terhadap pengelolaan parkir dan aktivitas ekonomi di sekitar area tersebut. Salah satu lokasi yang mengalami perubahan adalah Tempat Parkir Khusus (TPK) Eks Menara Kopi Kotabaru. Setelah hampir sembilan bulan sepi, kawasan ini kembali ramai dengan kedatangan bus wisata selama libur Lebaran 2026.

Dampak Positif dari Kebijakan Baru

Setelah kebijakan sterilisasi bus wisata diberlakukan, pengelola dan pedagang di TPK Eks Menara Kopi merasakan peningkatan aktivitas yang signifikan. Dalam dua hari saja, sekitar 50 armada bus telah masuk ke area parkir tersebut. Pada hari Senin (23/3), tercatat 20 bus yang parkir, sedangkan pada malam berikutnya jumlahnya meningkat menjadi 29 armada.

Wakil Ketua Paguyuban Keluarga Besar ABA, Agil Haryanto, menyampaikan bahwa kehadiran bus wisata memberikan nafas baru bagi warga dan pelaku usaha di kawasan tersebut. Ia menjelaskan bahwa kebijakan ini membawa dampak positif yang sangat dirasakan oleh masyarakat setempat.

Keberadaan Bus Wisata Membuka Peluang Ekonomi

Agil menekankan bahwa karakter wisatawan yang menggunakan bus sangat berbeda dengan pengguna mobil pribadi. Hal ini membuat para pedagang di kawasan TPK Eks Menara Kopi sangat bergantung pada kunjungan rombongan bus. Menurutnya, wisatawan yang datang dengan bus lebih cenderung membeli oleh-oleh dan pakaian, yang merupakan fokus utama dari aktivitas dagang di kawasan tersebut.

“Kita mengutamakan untuk armada bus. Karena kalau mobil itu biasanya pengunjungnya adalah wisata kuliner, sementara di tempat kita ini sentralnya oleh-oleh, pakaian. Jadi kami pedagang itu memang mengharapkan wisatawan dari bus, karena segmen pasarnya mereka jualannya seperti itu,” ujar Agil.

Skema Distribusi Parkir yang Ditetapkan Pemkot

Pemerintah Kota Yogyakarta telah menyiapkan skema distribusi parkir yang bertujuan untuk mengurangi beban lalu lintas di kawasan inti Sumbu Filosofi. Bus dari arah barat diarahkan ke TKP Ngabean, sementara dari arah timur secara bertahap dialihkan dari kawasan Senopati ke lokasi alternatif seperti Terminal Giwangan, THR Purawisata, dan TPK Eks Menara Kopi.

Selain itu, Pemkot Yogyakarta juga sedang menjajaki kerjasama dengan sejumlah titik lain yang dinilai memiliki daya tampung memadai, seperti Gembira Loka Zoo, yang dinilai siap menjadi kantong parkir tambahan saat terjadi lonjakan kendaraan wisata.

Fasilitas Transportasi untuk Mendukung Wisatawan

Untuk mendukung pergerakan wisatawan dari parkiran menuju jantung Malioboro, Agil menyebutkan bahwa fasilitas transportasi sudah tersedia. Beberapa opsi transportasi yang dapat digunakan antara lain Trans Jogja, becak, serta jalan kaki.

Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Agil berharap kebijakan ini akan tetap berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Ia berharap agar aturan yang diterapkan dapat memberikan dampak positif dalam jangka panjang, tidak hanya selama masa libur Lebaran, tetapi juga pada akhir pekan atau waktu-waktu lainnya.

“Semoga saja aturan itu sesuai dengan apa yang dijanjikan Pak Wali untuk mendukung programnya Ngarsa Dalem. Tentang kawasan Sumbu Filosofi memang sudah tidak layak untuk dimasuki armada bus. Insyaallah mungkin ramai bus yang masuk ini sampai hari Minggu (29/3) nanti. Tapi setelah libur Lebaran ini, kalau memang aturan itu benar-benar diterapkan, ya mungkin minimal akhir pekan (weekend) itu sudah bisa berjalan seperti biasa, tetap ada armada yang masuk,” harap Agil.

Share This Article
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *