Mengungkap Sisi Lain dan Peluang Karier Host Live

Eka Syaputra
6 Min Read



Siapa yang suka belanja online melalui live streaming? Atau mungkin kamu termasuk orang yang senang bertanya detail kepada host, meminta penjelasan ukuran, mencoba warna lain, tapi akhirnya tidak jadi membeli dan hanya menunggu di keranjang? Haha.

Kita harus mengakui bahwa pekerjaan sebagai host live kini semakin populer dan menjamur di mana-mana. Berbagai sektor mulai mencari talenta yang bisa berbicara dengan lancar di depan kamera. Tidak hanya toko online yang menjual produk, tetapi akun media sosial organisasi, instansi pemerintah, portal berita, hingga lembaga edukasi juga ikut terlibat dalam mencari wajah-wajah yang bisa menjadi jembatan komunikasi mereka.

Fenomena ini menunjukkan adanya evolusi besar dalam dunia bisnis, khususnya teknik pemasaran. Namun tanpa kita sadari, teknik dasarnya sudah sering digunakan sejak dulu.

Saya masih ingat saat kecil ketika diajak Ibu ke pasar tradisional. Ibu ingin membeli baju lebaran, tiba-tiba langkahnya terhenti pada sebuah kerumunan. Ada satu sosok legendaris di pasar, yaitu Penjual Lem Ajaib.

Gaya penjual itu sangat unik. Dengan alat tempur lengkap, seperti mikrofon headset yang menempel di pipi, speaker portable yang cukup besar, dan tentu saja alat peraganya, ember plastik bolong yang mengucurkan air.

Tukang lem itu langsung mengoleskan lem ajaibnya. Lalu memeragakan gaya pesulap di TV sambil berkata, “Simsalabim!” Ember itu tidak bocor lagi! Semua pengunjung pasar terpana melihatnya. Aksi itu dilakukan berulang-ulang. Bukan hanya Ibu dan pengunjung lainnya yang terkagum-kagum, saya pun merasa tertarik dan tertawa karena penasaran bagaimana caranya.

Yang lebih ajaib dari lemnya adalah kata-kata persuasifnya. Kalimat-kalimat yang meluncur dari mulutnya cepat dan penuh percaya diri. Pengunjung pasar yang awalnya hanya ingin lewat, tiba-tiba terhenti. Kaki rasanya berat, mata terkunci menatap atraksi itu. Seperti ditarik oleh magnet yang harus menempel pada induknya. Tanpa sadar, tangan kita merogoh saku dan membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Zaman kini telah berubah. Panggung pertunjukan itu kini berpindah ke layar ponsel. Bedanya, kini calon pembeli tidak perlu berdesak-desakan, tidak perlu mencium aroma pasar, dan tidak perlu takut dompet dicopet.

Dengan kemajuan teknologi dan koneksi internet, kita bisa mengikuti atraksi penjualan di mana saja. Kamu bisa menontonnya sambil rebahan pakai piyama di kamar, saat sedang makan siang di kantor, atau bahkan saat sedang bengong di dalam toilet.

Host Live masa kini adalah reinkarnasi modern dari Tukang Obat/Lem masa lalu. Medianya berubah, teknologinya makin canggih, tapi seninya tetap sama: seni menghipnotis manusia lewat layar kaca agar mau menekan tombol “Beli Sekarang”.

Host Live juga semakin dibutuhkan karena perubahan kebiasaan masyarakat. Calon pembeli sudah bosan membaca brosur statis atau caption Instagram yang panjang lebar. Netizen butuh manusia asli yang bisa diajak ngobrol, ditanya-tanya, dan memberikan respon secara real-time.

Mungkin masih ada yang berpikir bahwa menjadi Host Live adalah pekerjaan yang mudah. Hanya menghadapi layar ponsel, tanpa bertemu langsung dengan pembeli. Menawarkan produk dan membaca satu persatu pertanyaan dari netizen.

Namun ternyata tidak semudah itu. Host Live membutuhkan talenta dan seni tersendiri. Bahkan terbilang lebih sulit dibandingkan dengan penjual lem di pasar tradisional. Menghipnotis penonton untuk membeli produk lewat layar ponsel adalah tantangan terberat.

Host Live tidak secara langsung bertemu dengan calon pembeli. Mereka kehilangan akses untuk membaca gestur tubuh, ekspresi wajah, atau emosi lawan bicaranya secara real-time. Mereka tidak bisa membaca langsung karakter pembelinya apakah sedang antusias atau bosan.

Yang mereka hadapi hanyalah benda mati (kamera), deretan nama akun asing, dan komentar singkat yang berjalan cepat. Di situlah letak seninya. Bagaimana membuat benda mati dan teks berjalan itu terasa hidup dan menghasilkan transaksi.

Berangkat dari rasa ingin tahu yang besar tentang dunia ini, saya memutuskan untuk turut mengikuti pelatihan Host Live. Di sana, saya mendapatkan banyak pelajaran sekaligus praktik langsung menawarkan produk saat live.

Dan kesimpulannya? Ternyata memang sungguh tidak semudah itu.

Tantangan fisiknya langsung terasa. Mulai dari kaki yang pegal luar biasa karena harus berdiri tegak dalam waktu lama. Belum lagi rasa gerah dan kepanasan karena kita dikelilingi oleh sorotan lampu studio yang terang benderang.

Namun, tantangan mentalnya jauh lebih berat. Seorang Host Live tidak boleh berhenti berbicara. Ada momen di mana saya harus terus mengoceh dengan ceria, menjelaskan produk, dan mengajak ngobrol, meskipun indikator penonton di layar menunjukkan angka nol.

Bayangkan rasanya harus tetap semangat berapi-api seolah-olah sedang di depan ribuan orang, padahal kenyataannya tidak ada satu pun yang menonton. Itulah seni sesungguhnya dari profesi ini. Menjaga energi tetap tinggi di tengah kesunyian digital.

Profesi Host Live memang memberikan lampu hijau bagi kamu yang punya bakat public speaking. Namun ternyata jago ngomong saja gak cukup! Dibutuhkan stamina fisik yang prima, mental baja untuk tetap tampil meski tanpa penonton, dan strategi cerdas untuk mengubah penonton yang cuma numpang lewat menjadi pembeli yang melakukan transaksi.

PR pentingnya adalah seberapa pandai membangun koneksi, menjelaskan informasi rumit dengan bahasa santai, dan menjaga audiens betah menonton.

Melihat prospek lowongan pekerjaan sebagai host live yang sangat terbuka untuk jangka panjang, rasanya sudah waktunya untuk mempersiapkan bekal tentang profesi ini. Tidak ada yang sia-sia dengan ilmu. Tidak ada yang sia-sia juga dalam mencoba.

Penasaran gimana caranya mulai? Di artikel berikutnya, penulis akan berbagi tips-tips jitu untuk calon Host Live!

Siapkan dirimu dari sekarang!

Share This Article
Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *