Perang Terbuka di Timur Tengah
Perang terbuka pecah setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel menghantam Iran, yang mengguncang stabilitas Timur Tengah. Situasi ini memicu ketegangan global yang mencapai titik didih dalam hitungan jam. Operasi militer besar-besaran tersebut dilaporkan menghantam sejumlah target strategis, mulai dari fasilitas militer hingga pusat kekuasaan elite Iran. Ledakan dahsyat menggema di berbagai wilayah, memicu kepanikan massal dan status siaga penuh di seluruh negeri.
Pernyataan Trump tentang Kematian Khamenei
Ketegangan semakin menggemparkan ketika mantan Presiden AS, Donald Trump, menyampaikan pernyataan mengejutkan kepada publik dunia. Trump secara terbuka mengumumkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, disebut tewas dalam rangkaian serangan tersebut. Klaim itu langsung memicu gelombang reaksi keras, baik dari dalam Iran maupun komunitas internasional. Pihak Iran menyatakan perlawanan total dan bersiap melakukan balasan besar terhadap kepentingan musuh.
Trump menulis di platform Truth Social: “Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati.” Ia menambahkan, “Ini bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi bagi seluruh warga Amerika yang luar biasa, dan orang-orang dari berbagai negara di dunia yang telah dibunuh atau cacat akibat ulah Khamenei dan geng preman haus darahnya.”
Penyangkalan Iran dan Reaksi Dunia
Namun, Kementerian Luar Negeri Iran terus bersikeras bahwa Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian dalam kondisi aman dan sehat. Khamenei, yang berusia 86 tahun, telah memimpin Iran sejak 1989. Ia adalah sekutu dekat pemimpin tertinggi pertama Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang memimpin revolusi 1979 untuk menggulingkan pemerintah dan mendirikan Republik Islam Iran.
Sebelumnya pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan bahwa sejauh yang ia ketahui, Khamenei masih hidup. “Semua pejabat tinggi masih hidup,” katanya. “Jadi semua orang sekarang berada di posisinya, kami menangani situasi ini, dan semuanya baik-baik saja,” tambahnya.
Target Serangan AS-Israel
Khamenei menjadi target serangan AS-Israel. Trump dalam unggahannya di Truth Social juga menulis: “Kami mendengar bahwa banyak dari IRGC, Militer, serta Pasukan Keamanan dan Polisi mereka, tidak lagi ingin berperang, dan mencari imunitas dari kami. Seperti yang saya katakan tadi malam, ‘Sekarang mereka bisa mendapatkan imunitas, nanti mereka hanya akan mendapatkan kematian!'”
Masa Depan Iran
Khamenei terpilih sebagai pemimpin tertinggi setelah kematian Ruhollah Khomeini pada Juni 1989. Ia menjadi penerus favorit setelah Khomeini mendepak Ayatollah Agung Hossein-Ali Montazeri, yang sempat kritis terhadap kebijakan Khomeini. Khamenei dikabarkan telah menunjuk tiga ulama senior sebagai kandidat untuk menggantikannya jika ia terbunuh pada Juni 2025.
Sosok Khamenei
Khamenei lahir dari keluarga ulama pada tahun 1939. Ia menemukan panggilannya sebagai pemimpin agama saat menjadi oposisi politik terhadap Pahlavi, seorang otokrat yang didukung AS. Menurut biografi resminya, Khamenei pernah disiksa pada usia 24 tahun saat menjalani masa penjara pertamanya karena aktivitas politik di bawah kekuasaan Shah.
Setelah revolusi, posisi Khamenei naik dengan cepat hingga menjadi Wakil Menteri Pertahanan, yang membuatnya dekat dengan IRGC. Pada tahun 1981, dengan dukungan Khomeini, ia menjadi Presiden Iran. Di usia 50 tahun, Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi Iran. Ia memegang otoritas penuh atas program nuklir Iran dan menafsirkan bagaimana hukum serta kode agama diterapkan.

Operasi Epic Fury
Presiden Donald Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Israel meluncurkan “operasi tempur besar” terhadap Iran pada 28 Februari setelah pengerahan kekuatan Amerika terbesar di Timur Tengah sejak invasi pimpinan AS ke Irak pada 2003. Trump juga menyerukan agar rakyat Iran menggulingkan pemerintah mereka.
Ledakan dan sirene peringatan juga dilaporkan di beberapa negara Timur Tengah tempat AS memiliki pangkalan militer. Pentagon menamai operasi terhadap Iran sebagai “Epic Fury.” Militer Israel memberi sandi “Roaring Lion.” Israel awalnya meluncurkan operasi tersebut dan kemudian bergabung dengan AS.
Tujuan Trump di Iran
Gedung Putih telah meningkatkan tekanan terhadap Iran selama berbulan-bulan. Trump beberapa kali mengatakan ia tidak puas dengan cara otoritas Iran menindak keras para demonstran pada Desember tahun lalu. Ia juga menyatakan ingin Iran menyetujui kesepakatan baru terkait program nuklirnya. Namun, sejumlah pakar keamanan nasional mempertanyakan logika strategis Trump dalam menyerang Iran. Bagi Israel, alasannya mungkin lebih jelas: negara itu sejak lama memandang Iran sebagai ancaman eksistensial karena ancaman berulang untuk melenyapkan Israel.