Ratusan orang ikut perayaan HUT ke-80 Sultan HB X

Hartono Hamid
5 Min Read

Perayaan Ulang Tahun Sultan HB X dengan Kirab Budaya

Ribuan orang yang berasal dari para pamong desa dan lurah memadati kawasan Malioboro hingga Keraton Yogyakarta dalam rangka mengikuti kirab budaya untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Acara ini berlangsung pada hari Kamis, 2 April 2026.

Para pamong dan lurah tersebut mengenakan pakaian adat khas Jawa dan membawa berbagai hasil bumi sesuai potensi daerah masing-masing. Mereka diarak sepanjang jalan Malioboro – Titik Nol Kilometer – hingga Bangsal Pagelaran Keraton Yogya.

Sultan HB X tiba di lokasi sekitar pukul 07.45 WIB didampingi permaisuri GKR Hemas, kelima putrinya, dan para menantu. Sultan dan keluarganya mengenakan batik bernuansa hijau. Acara yang berlangsung sejak pagi ini dihadiri oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Turut hadir pula para Wali Kota dan Bupati se-DIY beserta wakilnya yang kompak mengenakan setelan beskap serba putih.

Sejak pagi, kawasan Malioboro, Titik Nol Kilometer, dan Jalan Kauman juga Panembahan Senopati sudah ditutup oleh petugas untuk rekayasa lalu lintas. Di sekitar Alun-Alun Utara, deretan janur kuning tampak dipasang menghiasi area tersebut. Para peserta kirab diperkirakan mencapai 10 hingga 12 ribu orang dari total 392 kalurahan dengan masing-masing mengirimkan 20-30 perwakilan.



Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan HB X, menerima rombongan kirab budaya pamong desa dan lurah yang membawa berbagai hasil bumi di Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta, 2 April 2026. Tempo/Pribadi Wicaksono

Berbagai Macam Hasil Bumi yang Dibawa

Mereka membawa hadiah berupa hasil bumi dan produk UMKM khas wilayah masing-masing yang disebut Gelondong Pangarem-arem, untuk dipersembahkan kepada Sultan HB X sebagai bentuk kecintaan rakyat kepada raja. Seluruh persembahan ini diterima oleh abdi dalem di pintu keluar untuk dikumpulkan menjadi satu.

Berbagai macam hasil bumi dibawa menggunakan tambir (wadah bulat dari anyaman bambu) maupun dibentuk menyerupai gunungan, seperti bawang merah, umbi-umbian, pisang, padi, hingga makanan khas seperti adrem dan lemet.

Rombongan dari Kota Yogya misalnya membawa produk UMKM dan diawali dengan gunungan jajan pasar. Dari Kabupaten Sleman, Kulon Progo, dan Bantul, rombongan membawa aneka buah dan sayur. Rombongan Kabupaten Bantul tampil unik membawa gunungan bawang merah (brambang) seberat 1 kuintal. Selain itu, rombongan dari Kabupaten Gunungkidul membawa hasil bumi dan kerajinan.

Hasil bumi unik lainnya yang menarik perhatian adalah durian yang dibawa oleh Kelurahan Banjaroyo, Kalibawang, Kulon Progo, yang merupakan komoditas utama wilayah tersebut. Juga lele asap, slondok, dan pisang jagung yang dibawa oleh Kelurahan Banjarharjo, Kalibawang, Kulon Progo.

Pengalaman Peserta Kirab

Salah satu peserta kirab yang juga Dukuh Dusun Gadungan Pasar Canden Bantul, Arif Winarto mengatakan gunungan bawang merah yang dibawa merupakan representasi hasil bumi unggulan mereka. “Gunungan ini sebagai tanda cinta kami saat sowan (bertemu) Ngarsa Dalem (Sultan HB X) sekaligus bentuk terima kasih karena sudah diberi tanah untuk dikelola,” kata Arif, seraya menambahkan gunungan tersebut dibuat oleh lima orang selama dua hari.

Menarik Minat Wisatawan

Kemeriahan kirab ini tidak hanya menarik perhatian warga lokal dari berbagai kabupaten di DIY, tetapi juga wisatawan mancanegara. Rubiyati, seorang warga Banguntapan, Bantul, datang bersama sejumlah rekannya sejak pukul 07.00 WIB, karena ingin menyaksikan langsung momen perayaan ulang tahun Sultan dalam bentuk kirab budaya itu. “Saya ingin lihat langsung, penasaran dan ternyata bagus sekali, ikut berbahagia untuk ulang tahun Sultan,” kata dia.

Wisatawan asal Meksiko, Maria, yang baru berada di Jogja selama dua hari, juga mengaku terpikat dengan suasana kirab yang ia ketahui dari temannya di Indonesia. Ia bahkan menyebut tradisi ini memiliki kemiripan dengan budaya di negaranya. “Di Meksiko ada juga tradisi seperti ini, menarik sekali karena ada kemiripan,” kata dia.

Penjelasan Ketua Umum Paguyuban Lurah dan Pamong Kalurahan

Ketua Umum Paguyuban Lurah dan Pamong Kalurahan Nayantaka DIY, Gandang Hardjanata mengatakan persembahan ini didasarkan pada potensi daerah masing-masing tanpa diwajibkan jenis tertentu. “Hasil bumi yang dibawa sebagai simbol terima kasih karena selama ini kalurahan sudah bisa menggunakan tanah Keraton,” kata dia.

Share This Article
Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *