Remaja Kulon Progo Lumpuh 9 Tahun Usai Digigit Ular Saat Tidur

Muhammad Muhlis
6 Min Read

Kehidupan Ananda Yue Riastanto yang Menginspirasi



Ananda Yue Riastanto kini berusia 16 tahun. Di saat teman sebayanya sedang menikmati masa SMA, Nanda, sapaan akrabnya, harus terbaring di kamarnya di Pedukuhan Dhisil, Kalurahan Salamrejo, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Pada Senin (9/1), ia menghabiskan hari-harinya di atas springbed di kamar sederhana dengan cat biru.

Di hidung Ananda tertancap selang nasogastric tube (NGT) yang bertugas menyuplai makanan dan obat ke tubuhnya. Tubuhnya yang kurus terbaring ke kiri, dengan tisu di bawah pipinya sebagai alas untuk menampung air liur. Seluruh aktivitas Ananda bergantung pada orang tuanya, terutama sang ibu.

Pada sore hari, sesekali Ananda keluar rumah menggunakan kursi roda dengan bantuan orang tuanya. Saat ditemui, Ananda berada di rumah bersama ibunya, Deni Rianingsih (41). Ayahnya, Sugianto (42), sedang bekerja di sebuah bengkel tak jauh dari rumah. Adik perempuannya yang duduk di kelas 1 SD masih bersekolah.

Ananda dan keluarganya tinggal di rumah berdinding batako yang sederhana namun asri. Lingkungan rumah mereka dikelilingi pohon jati hingga kelapa.

9 Tahun Lalu…



Ingatan Deni Rianingsih kembali ke sembilan tahun silam. Pada 5 Januari 2017 pukul 03.00 WIB, putra pertamanya, Ananda Yue Riastanto, yang kala itu masih duduk di kelas 1 SD, tiba-tiba terbangun. “Kejadian jam tiga pagi tahu-tahu anaknya bangun, ‘Ibu, saya digigit ular!’. Memang ada ularnya, bekasnya (gigitan) juga ada,” kata Ria, sapaan akrab Deni.

Ria langsung membawa anaknya ke RSUD Wates untuk mendapatkan perawatan. Saat tiba di rumah sakit, kondisi Nanda masih terbilang baik. Namun, setelah setengah jam masuk, kondisinya memburuk. “Anaknya sampai nggak ada (napasnya), terus diusahakan bisa balik lagi. Hidup lagi,” ceritanya.

Ria berusaha tegar saat menceritakan peristiwa nahas tersebut. Namun, kesedihan masih tampak dalam suaranya yang sering bergetar dan matanya yang berkaca-kaca.

Pagi harinya, sekitar pukul 10.00 WIB, Ananda dirujuk ke RSUP Dr Sardjito dan dirawat selama 32 hari. Setelah pulang, kondisinya berubah drastis. Ananda kehilangan kemampuan motorik dan penglihatan akibat gigitan ular weling yang menyebar ke sistem sarafnya.

“Sarafnya yang kena, total. Makanya pakai NGT. Terus dulu badannya kaku-kaku. Sekarang sudah agak lemas. Sudah lumayan,” katanya.

Kondisi tersebut membuat Ananda terpaksa putus sekolah saat duduk di kelas 1 SD. “(Harusnya) sekarang SMA kelas 1,” katanya.

Butuh Waktu 5 Tahun untuk Ikhlas



Bagi Ria, dibutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk menerima kondisi yang menimpa Ananda. Di awal, ia mengaku sangat terpukul. “Jatuh-bangun. Awal-awalnya dulu berat, berat, berat. Saya sama suami kayak hidup nggak jalan. Mau ngapa-ngapain males. Ibarat kata (saya) hidup nggak mau mati segan. Kayak gitu-gitu,” bebernya.

Ria sempat menyalahkan diri sendiri, orang lain, hingga keadaan. “Kayak nggak terima. Tapi semakin ke sini, semakin ke sini, belajar. Kalau nggak dilepaskan nanti beban, beban ke saya ke batin, malah lama-lama saya yang stres,” katanya.

Perjalanan menuju ikhlas tidak mudah. “Kadang-kadang pas drop saya ya nangis, marah,” ucapnya. “Mungkin dalam lima tahunan baru mulai pelan-pelan (menerima),” tambahnya.

Belakangan, kondisi Ananda justru menurun. Tulang belakangnya mengalami kelengkungan atau skoliosis. “Konsul kemarin ke Wates. Memang ada efek sampingnya di situ karena baring lama dan adik terus tumbuh,” katanya.

“Yang bisa kita lakukan sekarang adalah supaya tidak memburuk,” tambahnya.

Berharap Mukjizat



Meski telah bertahun-tahun berlalu, harapan agar Ananda sembuh atau setidaknya membaik tetap ada dalam diri Ria. “Harapan itu pasti ada. Kita nggak tahu dikabulkan atau nggak. Soalnya sudah sekian tahun, saya sadar dengan keadaan sekian tahun ini untuk pulih seperti dulu itu kayaknya dibilang kecil harapannya. Tapi tetap harapan itu ada dan itu yang membuat saya bertahan sampai saat ini,” kata Ria.

Ria pun mengaku bersedia jika ada bantuan dari pemerintah atau pihak lain untuk membawa Ananda berobat, bahkan hingga ke luar negeri. “Mau kalau ada,” katanya.

Di sisi lain, sejumlah bantuan telah diterima keluarga Ananda. Termasuk dari Bupati Kulon Progo yang pada Sabtu (7/2) lalu datang bersama Baznas. “Ada dari Baznas, ada kambing, terus diusulkan jalan (depan rumah) dari Dinsos,” kata Ria.

Kata Bupati Kulon Progo

Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, berharap bantuan kambing tersebut dapat membantu perekonomian keluarga Ananda. “Putra Bapak Sugianto adalah titipan Allah yang harus menjadi perhatian kita bersama. Pemerintah daerah melalui Baznas menyalurkan bantuan dua ekor kambing agar dapat dipelihara dan menjadi satu harapan bagi keluarga dalam menjalani kehidupan,” kata Agung dalam keterangannya.

Selain itu, pemerintah daerah juga akan membangun jalan cor di depan rumah keluarga Ananda guna meningkatkan aksesibilitas, mengingat berat badan Nanda yang terus bertambah.

Baznas Kulon Progo juga merencanakan rehabilitasi rumah keluarga Sugianto melalui Program Aladin yang dijadwalkan pada Maret 2026 untuk meningkatkan kelayakan hunian.

Share This Article
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *