Saat Ajengan Menenun Puisi

Hendra Susanto
6 Min Read

Tradisi Puisi dalam Kehidupan Ulama Nusantara

Pada masa lalu, ketika saya mondok di Pesantren Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya, saya dan para santri diajari kitab-kitab syair seperti tajwid, alfiyah, dan nadzam klasik lainnya. Belajar melalui syair ternyata memudahkan hafalan sekaligus menata logika keilmuan. Nazham bukan hanya indah, tetapi juga sistematis; ia membungkus ilmu dalam ritme yang memudahkan pemahaman.

Belum lagi Al-Barzanji karya Sayyid Ja’far Al-Barzanji, ulama keturunan Nabi Muhammad saw yang hidup pada abad ke-17. Karya prosa-liris ini begitu populer di Nusantara: pujian, doa, dan kisah perjalanan hidup nabi dari kelahiran hingga wafat disampaikan dalam barisan kalimat yang indah dan menggetarkan.

Di tanah air, kita juga mengenal ulama besar, seperti Syekh Nawawi al-Bantani. Dia menulis banyak kitab yang memuat nazham dan pembahasan mendalam, mulai dari Uqud al-Lujain tentang rumah tangga, Nihayatuz Zain, Sullamul Munajat, hingga Tafsir Marah Labid, satu-satunya tafsir berbahasa Arab karya ulama Indonesia yang mendunia.

Bukan hanya ulama klasik, banyak pula karya ulama Nusantara abad ke-19 dan 20 yang ditulis dalam bentuk syair. Pada 1963, KH Ahyauddin menulis Al-Naghim, kumpulan syair kebangsaan yang mengajarkan nasionalisme kepada para santri. Kitab itu memuat lagu-lagu daerah dan nasional, ajaran Islam, sampai terjemahan lagu Indonesia ke aksara Arab — sebuah upaya kreatif menanamkan cinta tanah air melalui estetika syair.

Ada juga karya Syaikhana Kholil, Mukhtasar fi ‘Auza-nil ‘Arudh, yang berisi tips praktis merangkai syair. Kitab Nurullaili ad-Daaji wa Miftahu Baabil Yasaari menerjemahkan Al-Barzanji dan Qasidah Burdah ke dalam bahasa Arab dan Jawa Pegon.

Tentu saja, masih banyak kitab kuning Nusantara yang seluruh babnya digubah dalam bentuk syair. Tradisi ini berlanjut. Banyak ulama modern tetap menulis puisi, seperti Hamzah Fansuri — peletak dasar syair Melayu — KH D. Zawawi Imron, Gus Mus, Buya Hamka, hingga KH Abdullah bin Nuh. Mereka ini menunjukkan bahwa relasi ulama dan puisi bukanlah hubungan pinggiran, melainkan denyut tradisi intelektual Islam Nusantara.

Liris Sunda

Di Jawa Barat, kita mengenal diksi ajengan untuk menyebut ulama. Dan ternyata, banyak ajengan yang menulis syair. Salah satunya, ajengan Acep Zamzam Noor yang lama bergiat di dunia kepenyairan. Sebelumnya, kita mengenal KH M. Nuh Ad Dawami yang menulis syair berbahasa Sunda berhuruf Pegon. Ada pula ajengan Ishaq Farid Cintawana yang menulis nazham Jurumiyah. Para ajengan ini tak banyak muncul di media, tetapi khazanah kepenyairan mereka kaya dan berlapis.

Kini, lahir penulis muda seperti Ahmad Faisal Imran dengan Maliun Hawa, atau Ahmad Fauzi Imran yang dikenal melalui fiksi mini berbahasa Sunda. Bahkan, KH Maman Imanulhaq pun pernah menulis puisi sebelum terjun ke politik. Lalu, yang terbaru ialah Asep Salahudin. Dia adalah sosok sufistik, karismatik, sekaligus humoris. Selama ini, saya lebih sering membaca esai-esainya di media cetak. Namun, belakangan ini, sejumlah puisinya berseliweran di Facebook, lalu terbit di koran.

Asep yang juga Rektor Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah (IAILM) Suryalaya Tasikmalaya ini, baru saja melahirkan buku puisi terbarunya, berjudul Di Seberang Damar.

Menarik

Buku karya Asep ini menarik karena memadukan perjalanan lahiriah dan pengalaman batin yang mendalam. Puisinya kadang teduh, kadang menyimpan kemarahan halus yang ditulis dengan kedisiplinan spiritual. Kita ambil contoh puisi “Sangkan­riang”: sambil mengenakan selendang perempuan itu berbisik, “selamat tinggal” / kemudian cepat-cepat berlari lalu raib di gunung puteri / aku tak kunjung yakin, sangkuriang tidak akan kembali lagi / ia laki-laki yang mengimani ingatan itu tak lekang…

Puisi ini mengolah mitologi Sunda dengan lirisisme pekat. Begitu pula puisi “Hening”: aku ingin mengingatmu / aku ingin lebih lama atau selamanya dalam napasmu…

Bahasa yang digunakan ajengan Asep ini mengalir spontan ngaguluyur, tetapi tetap menyimpan kedalaman makna. Buku puisinya yang berjudul Di Seberang Damar berisi 106 puisi yang merangkum gejolak nafsu, keimanan, romantisme, dan keresahan; semuanya menjelma keheningan reflektif.

Membaca buku ini seperti memasuki ruang perenungan seorang ulama yang menyimbangkan nalar, rasa, dan mistisisme. Ia menulis bukan untuk pencitraan, tetapi untuk menyampaikan pengalaman batin yang jujur, sebuah tradisi ulama-penyair yang perlahan hilang dari perhatian publik.

Kehadiran Asep dalam Kehidupan Sastra Sunda

Kehadiran Asep dalam khanazah sastra Sunda juga mengingatkan bahwa tradisi keilmuan pesantren dan dunia kepenyairan bukan dua kutub yang bertentangan. Keduanya saling menghidupi: ilmu menajamkan rasa, sementara sastra memperluas makna iman.

Oleh karena itu, puisi-puisi Asep bukan hanya karya estetik, tetapi juga ruang perjumpaan antara akal, zikir, dan kepekaan batin. Pada akhirnya, buku ini menjadi pengingat bahwa puisi bukan sekadar estetika, tetapi jalan spiritual — cara menafsirkan dunia, mengasah jiwa, dan mewariskan kehalusan budi. Sebuah kontribusi penting bagi sastra Sunda dan khazanah keilmuan Islam Nusantara.

Share This Article
Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *