Kinerja Sektor Infrastruktur di Awal Tahun 2026
Kinerja sektor infrastruktur di awal tahun 2026 masih menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Meskipun demikian, kinerja operasional dari para emiten di sepanjang tahun ini diperkirakan tetap resilien. Hal ini terlihat dari data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Jumat (27/2/2026), yang menunjukkan bahwa indeks IDX Infrastruktur turun sebesar 15,51% sejak awal tahun alias year to date (YTD). Sebagai perbandingan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya turun 4,76% YTD.
Penyebab Penurunan Kinerja
Menurut Fundamental Analyst BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand, penurunan indeks IDXINFRA sebesar 15,21% YTD terutama disebabkan oleh tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar di subsektor konstruksi dan telekomunikasi. Suku bunga yang sensitif terhadap perubahan dan realisasi belanja infrastruktur pemerintah juga menjadi faktor utama.
“Kekhawatiran terhadap perlambatan proyek baru dan beban pembiayaan yang tinggi membuat investor cenderung melakukan rotasi ke sektor yang lebih defensif,” ujarnya. “Sehingga beberapa emiten utama menjadi pemberat indeks.”
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menambahkan bahwa penurunan kinerja indeks juga dipengaruhi oleh aksi profit taking dan faktor valuasi premium pada saham dengan bobot cukup besar.
Pemberat Utama IDX Infrastructures
Beberapa emiten yang menjadi pemberat utama indeks sejak awal tahun 2026 antara lain:
- PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA): Turun 48,13% YTD
- PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA): Terkoreksi 37,13% YTD
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): Turun 15,21% YTD
- PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL): Turun 15,47% YTD
- PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL): Turun 25%
- PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG): Turun 37,69% YTD
- PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR): Turun 13,68% YTD
- PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET): Turun 19,33% YTD
- PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA): Turun 17,56% YTD
- PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI): Turun 24,44% YTD
Peluang Pemulihan di Tahun 2026
Meski kinerja saat ini masih lesu, ruang peluang pemulihan pergerakan saham emiten infrastruktur tetap terbuka apabila percepatan proyek strategis nasional kembali berjalan dan biaya pendanaan mulai stabil.
Abida mengatakan bahwa subsektor utilitas, jalan tol, serta menara telekomunikasi berpotensi menjadi penopang IDXINFRA. Hal ini karena memiliki arus kas relatif stabil dan model bisnis berbasis pendapatan berulang (recurring income).
“Jika sentimen makroekonomi membaik, sektor ini berpotensi mengalami rebound teknikal maupun fundamental,” tambahnya.
Kinerja Fundamental Emitter
Di sisi lain, kinerja fundamental emiten IDXINFRA di tahun 2026 diperkirakan masih bervariasi. Emiten utilitas dan operator infrastruktur dengan basis kontrak jangka panjang cenderung lebih resilien. Sementara, emiten konstruksi masih menghadapi tantangan margin dan kebutuhan modal kerja.
Sentimen positif berasal dari keberlanjutan pembangunan dan kebutuhan layanan dasar. Namun, sentimen negatif meliputi volatilitas suku bunga, risiko refinancing, dan tekanan arus kas.
“Emiten dengan neraca sehat dan leverage terkendali berpotensi unggul, sementara yang memiliki beban utang tinggi masih tertinggal,” ujarnya.
Prospek IDXINFRA di Semester II 2026
Sukarno memperkirakan bahwa IDXINFRA berpotensi mengalami stabilisasi dengan peluang rebound bertahap di semester II 2026. Hal ini didukung prospek penurunan suku bunga, pertumbuhan trafik data yang solid, serta ekspansi ekosistem digital (data center & fiber).
Subsektor yang berpotensi menopang indeks adalah tower dan telekomunikasi (cash flow defensif), fiber/digital infra dan data center.
Kinerja Operasional Emitter
Secara umum, kinerja operasional sektor infrastruktur tetap resilien di tahun 2026. Emiten tower seperti MTEL, TOWR, dan TBIG diperkirakan mencatat pertumbuhan EBITDA stabil dengan deleveraging bertahap.
Selain itu, MORA dan INET mendapat katalis monetisasi jaringan fiber. BREN juga bisa mempertahankan pertumbuhan melalui ekspansi kapasitas energi.
Sebaliknya, pemain skala kecil seperti BALI berpotensi tertinggal karena keterbatasan skala dan likuiditas.
“Sentimen positif utama berasal dari pertumbuhan konsumsi data dan digitalisasi, sementara risiko utama tetap pada biaya bunga dan kebutuhan capital expenditure (capex) tinggi,” katanya.
Rekomendasi Investasi
Sukarno merekomendasikan beli untuk TLKM, JSMR, dan MTEL dengan target harga masing-masing Rp 4.000 per saham, Rp 5.300 per saham, dan Rp 735 per saham.