Saya Ingin Jadi Idola K-Pop, Tapi Merasa Dikhianati

admin
9 Min Read



Seiring dengan meningkatnya popularitas K-pop, Korea Selatan menjadi tujuan bagi banyak pemuda dari berbagai belahan dunia yang ingin masuk ke industri musik dan hiburan. Setiap tahun, ribuan anak muda mengikuti program pelatihan yang menjanjikan kesempatan untuk menjadi bintang.

Miyu, seorang remaja, memutuskan untuk pergi ke Korea Selatan pada 2024 dengan harapan besar. Namanya telah diubah untuk melindungi identitasnya. Dengan biaya sebesar Rp333 juta, dia mengikuti program selama enam bulan di sebuah akademi pelatihan K-pop di Seoul. Dalam program ini, dia diharapkan mendapatkan pelajaran vokal dan tari profesional serta kesempatan untuk mengikuti audisi di agensi besar.

Namun, harapan itu tidak terwujud. Miyu mengatakan bahwa audisi mingguan yang dijanjikan tidak pernah terjadi. Ia juga mengklaim bahwa pelajaran yang diberikan sangat jarang. Selain itu, ia mengaku dilecehkan secara seksual oleh seorang anggota staf senior. Perusahaan tersebut membantah semua tuduhan.

Tuduhan Miyu dan peserta lain di akademi tersebut menyoroti industri yang kurang diatur. Dalam industri ini, janji-janji besar sering kali disertai risiko yang besar. BBC berbicara dengan dua peserta pelatihan lain di akademi yang sama. Salah satunya juga mengaku mengalami pelecehan seksual oleh anggota staf yang sama. Sementara peserta ketiga mengklaim telah menyaksikan perilaku tidak pantas terhadap orang lain, meskipun dirinya sendiri tidak mengalaminya.

Semua peserta mengatakan bahwa program tersebut menawarkan kesempatan audisi, tetapi hal itu tidak terwujud. Pihak perusahaan membantah hal ini, dengan mengatakan bahwa ada kesempatan audisi dan hampir 200 peserta asing telah bergabung dalam program pelatihannya sejak awal 2010-an.



Lembaga pelatihan K-pop biasanya disebut sebagai Hagwon, atau akademi swasta, yang diatur oleh Kementerian Pendidikan. Hagwon bisa juga terdaftar sebagai agensi hiburan. Perusahaan tempat Miyu belajar terdaftar sebagai agensi hiburan, sehingga berada di luar aturan pendidikan Korea Selatan. Perusahaan tersebut merupakan salah satu dari sekitar 5.800 agensi yang diawasi oleh Kementerian Kebudayaan, yang kewenangannya jauh lebih terbatas.

Program pelatihan mereka tidak tunduk pada peraturan atau inspeksi, kata seorang pejabat setempat kepada BBC. Seorang pejabat dari Kementerian Pendidikan mengatakan bahwa peraturan saat ini tidak membatasi agensi perjalanan dan hiburan untuk mengajarkan bahasa dan tari kepada warga negara asing, sehingga sulit untuk mengatur “agensi tipe akademi” semacam itu.

“Saya bermimpi menjadi idola, tapi apa yang saya alami terasa lebih seperti penipuan,” kata Miyu, yang masih remaja. “[Di sinilah] saya mengejar mimpi saya, tapi ini juga membangkitkan kembali trauma saya.”

Inspirasi

Miyu tertarik pada K-pop sejak SMP. Lisa—penyanyi Thailand yang tiba di Korea saat remaja dan langsung terkenal di seluruh dunia bersama grup K-pop Blackpink—menginspirasi perjalanan Miyu. Lisa bukanlah anomali di K-pop saat ini. Twice memiliki tiga anggota dari Jepang dan satu anggota Taiwan. Kemudian, NewJeans memiliki penyanyi Vietnam-Australia. Adapun Hearts2Heart, yang debut tahun lalu, punya anggota dari Indonesia, yaitu Nyoman Ayu Carmenita.



Namun, mencapai puncak di industri K-pop sangat sulit. Ada sejumlah agensi yang bertarung sengit untuk mengendalikan industri ini. Itu artinya mereka harus bertaruh pada calon bintang agar mereka berhasil di Korea. Hybe, perusahaan hiburan terbesar di Korea Selatan dan label di balik nama-nama besar seperti BTS, tidak mengungkapkan berapa banyak trainee yang mereka bina pada kurun waktu tertentu. Namun, Hybe mengatakan kepada surat kabar Korea Herald pada 2023 bahwa hampir satu dari tiga trainee mereka adalah warga negara asing.

SM Entertainment, raksasa industri lainnya, memiliki akademi khusus untuk calon penampil K-pop. Agensi itu mengatakan mayoritas siswanya berasal dari luar negeri, tetapi tidak memberikan angka pasti. Meski demikian, jumlah trainee yang mendaftar semakin berkurang, menurut laporan industri yang diterbitkan pada Januari.

Pada 2024, para agensi melaporkan terdapat 963 trainee, sekitar setengah dari yang mereka rekrut pada 2020, yaitu 1.895 orang. Walau jumlah trainee asing yang dilaporkan oleh agensi meningkat dua kali lipat menjadi 42 orang antara 2022 dan 2024, jumlah tersebut masih merupakan sebagian kecil dari total angka.

Ini adalah proses seleksi yang sangat kompetitif, dan perusahaan mempertimbangkan biaya untuk membuat keputusan. Biasanya dibutuhkan sekitar dua tahun bagi seorang trainee untuk tampil perdana. Bahkan hanya 60% dari mereka yang berhasil, menurut laporan tersebut. Bagi peserta pelatihan asing, hambatannya bahkan lebih tinggi—bahasa, pembatasan visa, dan koneksi industri—yang semuanya berpotensi memperkecil peluang yang sudah tipis.



Pelecehan seksual

Kendati peluang menjadi idola K-pop sangat kecil, daya tarik ketenaran menarik begitu banyak orang seperti Miyu. Miyu dan dua peserta pelatihan lainnya yang diwawancarai BBC mengatakan bahwa akademi mereka hampir secara eksklusif melayani siswa asing dan tidak ada siswa Korea yang mendaftar. Sulit untuk mengetahui berapa banyak orang asing yang melakukan perjalanan ke Korea Selatan untuk mendaftar dalam program pelatihan ini karena mereka dapat melakukannya dengan visa turis. Ini memungkinkan setiap orang untuk tinggal hingga tiga bulan setiap mendapat visa turis dalam satu periode.

Tak lama setelah dia sampai di sana, Miyu mengklaim, kenyataan bertabrakan dengan apa yang dijanjikan kepadanya. Dia mengatakan standar pelatihan tari dan vokal tidak seperti yang dia harapkan, mengingat dia telah membayar cukup mahal. Dia mengatakan seorang anggota staf senior juga mulai terus-menerus memantau keberadaannya. Setelah sekitar tiga bulan mengikuti program tersebut, pria tersebut membawanya pergi keluar, klaimnya.

“Dia membawa saya ke toko serba ada sendirian dan mengatakan dia akan membelikan saya es krim. Saat saya memilih, dia meletakkan tangannya di pinggang saya dan berkata, ‘tubuh yang bagus’.”

Menurut Miyu, pria itu beberapa kali meneleponnya. Suatu kali, pria itu memintanya datang ke kantor, dengan alasan mereka perlu membahas pakaian untuk pemotretan. “Dia menyuruh saya duduk di pangkuannya untuk membahas kostum. Saya duduk di sandaran tangan kursi. Sejak hari itu, saya takut hanya mendengar suara laki-laki.”



Mantan trainee asing lainnya, Elin, yang namanya telah diubah untuk melindungi identitasnya, juga menuduh anggota staf yang sama melakukan tindakan tidak pantas terhadapnya. Dia mengatakan anggota staf itu memanggilnya ke ruang rapat dan meminta mereka untuk dibiarkan sendiri. Kemudian, pria itu menyentuh pinggangnya sambil menyebutkan kata Korea untuk “pinggul”, sembari mengatakan bahwa dia sedang mengajari Elin bahasa Korea.

“Saya sangat takut sehingga saya mengirim pesan kepada teman saya dan memintanya untuk segera datang,” kata Elin. Dia juga menuduh bahwa anggota staf itu masuk ke kamar asrama mereka—tuduhan yang juga diutarakan Miyu dan trainee ketiga yang diwawancarai BBC.

“Dia datang… kadang-kadang jam dua atau tiga pagi, mengatakan dia sedang memperbaiki lampu. Suatu kali dia masuk ke kamar saya saat saya tidur dan hanya memperhatikan saya,” kata Elin. Dia mengatakan bahwa pria itu meninggalkan ruangan tanpa melakukan apa pun. Tetapi setelah kejadian itu, Elin mengaku “tidak bisa tidur nyenyak karena saya sangat takut”.

Ketika BBC menghubungi perusahaan tersebut untuk meminta komentar, perwakilan hukum mereka membantah klaim tersebut, dengan mengatakan: “Perusahaan kami secara tegas melarang siapa pun memasuki asrama peserta pelatihan perempuan tanpa didampingi oleh anggota staf perempuan sebagaimana tercantum dalam peraturan internal kami.”

Elin juga mengklaim bahwa kamera CCTV yang merekam video dan audio telah dipasang di seluruh ruang latihan dan asrama perempuan. Tuduhan ini juga diutarakan Miyu. “CCTV menyala 24/7. Mereka juga merekam audio… Saya tidak menandatangani persetujuan untuk difilmkan 24/7,” kata Elin.

Elin menambahkan, anggota staf senior “akan mengawasi kami saat kami menari dan memberikan komentar melalui CCTV”. “Pada suatu saat, dia mengatakan kepada guru, ‘Ini tidak cukup seksi — Anda perlu mengajari tarian yang lebih seksi kepada para perempuan,” katanya.

Namun, perusahaan tersebut membantah bahwa anggota staf tersebut memasuki asrama perempuan. Lebih lanjut, perusahaan itu mengatakan bahwa kamera hanya dipasang di area umum, seperti pintu masuk dan dapur, untuk “alasan keamanan” setelah ada insiden masa lalu yang melibatkan penyusup. “Pemasangan tersebut diumumkan sebelumnya dan sepenuhnya dimaksudkan untuk melindungi para peserta pelatihan,” kata perwakilan hukum kepada BBC dalam tanggapan tertulis.

Elin mengatakan dia tidak pernah diberitahu tentang hal ini. Akhirnya, Elin keluar dari program tersebut dan meninggalkan Korea.

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *