Suderajat Penjual Es Gabus Alami Gangguan Mental, Istri Lebih Parah

Bayu Purnomo
6 Min Read

Fakta Terkait Gangguan Mental Suderajat dan Istrinya

Pihak kecamatan Bojonggede mengungkapkan fakta baru terkait kondisi mental yang dialami oleh Ajat Suderajat, seorang pedagang es gabus yang sempat viral. Selain Suderajat, istrinya juga mengalami gangguan serupa, bahkan lebih parah. Hal ini didasarkan pada hasil asesmen lintas instansi yang dilakukan oleh pihak kecamatan.

Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, menjelaskan bahwa perilaku Suderajat yang sering berubah-ubah dalam memberikan jawaban, termasuk saat berbincang dengan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, bukan semata-mata disebabkan oleh kebohongan. Menurutnya, ada dugaan gangguan mental pascatrauma yang memengaruhi kemampuan komunikasi verbal Suderajat dan istrinya.

“Hasil dari asesmen kami, itu terdapat indikasi disabilitas, baik pada Pak Suderajat maupun istrinya,” ujarnya. Kondisi tersebut membuat Suderajat kesulitan menyampaikan informasi secara runtut dan konsisten.

Bahkan, menurut keterangan RT dan RW setempat, tampak tanda-tanda keterbelakangan secara psikologis dan mental sejak lama. Kondisi ini diperparah dari tekanan setelah peristiwa yang menimpanya. “Apalagi kondisi istrinya bahkan terlihat lebih parah,” ungkap Tenny.

Keterangan dari Ketua RT dan RW setempat juga menguatkan adanya keterbelakangan secara psikologis dan mental pada Suderajat. Pihak kecamatan hanya menyebutkan indikasi, namun yang terlihat jelas adalah kondisi istrinya. Bahkan, Suderajat ketika diajak komunikasi oleh ketua RT dan RW di lingkungan sekitarnya terindikasi ada keterbelakangan secara psikologis dan mental.

“Jadi Pak Suderajat itu memiliki disabilitas dan memerlukan perhatian khusus memang. Serta tekanan setelah kejadian (trauma) dan banyaknya orang datang ke rumah saat itu (gak terbiasa ketemu orang banyak),” beber Tenny.

Pemerintah kecamatan berharap penjelasan tersebut dapat menghentikan spekulasi publik dan mengembalikan persoalan Suderajat pada konteks yang sebenarnya, yakni upaya penanganan warga kurang mampu melalui program perbaikan rumah yang sedang berlangsung.

Pertemuan Gubernur Jawa Barat dengan Suderajat

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menemui langsung Ajat Suderajat, penjual es gabus yang sempat menjadi korban dugaan penganiayaan aparat setelah dituduh menjual es berbahan spons. Dedi Mulyadi membagikan momen pertemuan itu melalui akun Instagram pribadinya.

Dalam video tersebut, Dedi terlihat memberikan uang segepok kepada Suderajat. Namun, setelah memberikan uang itu, Dedi mengambil sebagian lantaran dikhawatirkan uang itu malah dipakai sendiri oleh Suderajat tanpa membayar kewajibannya.

“Mau buat apa itu?” tanya Dedi Mulyadi. “Buat bayar sekolah pak,” kata Suderajat. Mendengar jawaban itu, Dedi Mulyadi justru mengambil kembali uang tersebut. Ia lalu mengatur sendiri peruntukkan bantuan itu agar benar-benar digunakan tepat sasaran.

“Bayar kontrakan setahun, nih saya aturin biar bapak beres. Nih buat kontrakan setahun, setahun kali 800 berapa? Rp 9,6 juta. Bayar sekolah dua ratus (ribu), bayar ke warung dua ratus (ribu), pas Rp 10 juta. Awas dibayarin ya. Bayar kontrakan. Atau saya uangnya ambil deh,” kata Dedi seraya mengambil kembali uang itu.

Dedi pun akan membayar kontrakan Suderajat sendiri. Ia khawatir bantuan yang diberikan disalahgunakan. “Aku langsung bayarin kontrakannya sama saya, takut enggak dibayarin. Ini saya kasih untuk bayaran sekolah sambil ngecek ke sekolahnya. Bayaran sekolahnya saya cek dulu, kontrakannya akan saya bayar satu tahun.”

“Saya enggak percaya ama bapak bayar kontrakan sama sekolah. Sama bayar ke warungnya nanti staf saya yang bayarin. Ini aja buat modal bapak Rp 5 juta buat modal dagang. Buat beli beras segala macam sampai sebulan,” jelasnya.

Tiga Kebohongan yang Diungkap oleh Dedi Mulyadi

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti sikap pedagang es gabus, Ajat Suderajat, yang sempat viral setelah dituduh menjual es berbahan spons. Dedi mengungkap tiga pernyataan Suderajat yang dinilai tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Bohong soal pendidikan anak

Suderajat sebelumnya menyebut anaknya bersekolah di SD negeri. Namun, menurut Dedi, sekolah anak Suderajat ternyata sekolah swasta. “Anaknya yang SD swasta, kata babe kemaren sekolahnya negeri. Ini (yang bener) sekolahnya swasta. Aku kan ngomong sama babeh ini, itu sekolah pasti swasta enggak mungkin bayaran. Sekolahnya swasta makanya bayar,” ujar Dedi Mulyadi seperti dikutip dari YouTube-nya pada Kamis (29/1/2026).

Namun, Dedi mengatakan semestinya anak Suderajat tak perlu membayar iuran meskipun mengenyam pendidikan di sekolah swasta. Ia pun berencana akan mengecek ke pemerintah Kabupaten Bogor jika memang masih dimintai iuran oleh pihak sekolah.

“Kalau belum gratis, nanti saya urusin ke Pemda Kabupaten Bogornya,” jelasnya.

Bohong soal status rumah

Suderajat sebelumnya mengaku mengontrak rumah selama bertahun-tahun. Namun, pengakuan Suderajat dibantah oleh Ketua RW setempat. “Sebenarnya orang tuanya (Suderajat) beliin rumah tahun 2007. Setelah dibelikan, dia tinggal bersama istrinya dan ketiga anaknya saat itu,” kata Ketua RW seperti dikutip dari YouTube Dedi Mulyadi pada Kamis (29/1/2026).

Mendengar penjelasan Ketua RW, Dedi langsung menegur Suderajat karena dianggap tidak jujur. “Babe bilangnya ngontrak, bohong sih. Kenapa sih be bohong terus,” katanya. Suderajat pun mengakui kesalahannya dan meminta maaf.

Bohong soal warisan

Selain itu, Suderajat juga mengaku hanya mendapatkan warisan sebesar Rp 200 ribu dari orang tuanya. Akan tetapi, Dedi menilai pernyataan itu tidak sesuai fakta lantaran orang tua Suderajat sudah membelikan rumah sejak 2007. “Babe ngebohong. Dia bilangnya saya dikasih warisan cuma Rp 200 ribu padahal dikasih rumah tahun 2007. Babe kemaren bilang hanya kebagian 200 ribu,” katanya.

Ia lalu menasehati Babe untuk bersikap jujur agar hidupnya lebih baik. Dedi Mulyadi pun turut menambahkan dana renovasi rumah kepada Suderajat yang kini mendapatkan program Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni) dari pemerintah daerah. Ia menitipkan dana tambahan renovasi kepada Ketua RW yang memimpin renovasi rumahnya.


Share This Article
Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *