Tahun Baru, Gizi Tanpa Harapan Palsu

Rizal Hartanto
5 Min Read

Perjalanan MBG di Tahun 2025

Tahun 2025 telah berlalu dengan segala dinamika yang terjadi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini memberikan banyak pelajaran bagi kita semua, baik dari sisi keberhasilan maupun kegagalan. Salah satu isu utama yang muncul adalah masalah tata kelola yang kurang optimal, khususnya dalam hal higiene dan sanitasi. Banyak sekolah penerima manfaat mengalami kasus keracunan yang menunjukkan bahwa pemahaman tentang kebersihan dan pengelolaan makanan belum sepenuhnya memadai.

Selain itu, penempatan tenaga non-profesional dari komunitas setempat tanpa pelatihan yang cukup juga menjadi perhatian serius. Hal ini membuat program MBG terasa seperti uji coba yang tidak terencana dan berisiko tinggi. Rekomendasi dari para ahli di luar Badan Gizi Nasional sering kali disalahpahami sebagai kritik, padahal sebenarnya tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kualitas program.

Masalah Tenaga Ahli Gizi

Masalah lain yang muncul adalah soal tenaga fungsional ahli gizi yang dianggap bisa diisi oleh sarjana apa pun dengan pelatihan kilat. Hal ini menyebabkan munculnya poster-poster menu di media sosial SPPG yang hanya menampilkan perhitungan kuantitas kalori, karbohidrat, protein, dan lemak tanpa memperhatikan kualitas bahan makanan. Akibatnya, banyak produk industri yang aneh dan tidak sesuai dengan prinsip gizi seimbang mulai muncul di berbagai SPPG.

Bahkan, buah impor seperti pir kuning menjadi sangat populer, sementara minuman kotak yang dilabeli sebagai susu ternyata hanya mengandung 30% susu dan tinggi gula serta perisa. Hal ini memicu kemarahan dari tenaga kesehatan dan kader posyandu, terutama ketika susu formula muncul di MBG kelompok balita. Padahal, anak di bawah 2 tahun masih dianjurkan untuk menyusu langsung dari ibunya.

Kritik Terhadap Penggunaan Susu

Susu juga menjadi topik panas dalam diskusi tentang MBG. Sejak adanya Permenkes 41/2014, jargon “4 sehat 5 sempurna” sudah seharusnya ditinggalkan. Namun, pemberian susu dalam menu MBG justru menjadi kontroversi. Pertama, tidak ada studi yang mendukung pemberian susu seperti yang ada saat ini, termasuk volumenya, kadar susu, imbuhan gula, dan frekuensi pemberiannya.

Kedua, tanpa supervisi yang memadai, akhirnya anak-anak penerima manfaat hanya mendapatkan minuman kotak rasa susu coklat yang tidak sesuai dengan tujuan awal. Ketiga, susu bisa menghambat penyerapan zat besi, yang justru bertentangan dengan tujuan mengatasi anemia. Keempat, masalah intoleransi laktosa juga menjadi pertanyaan besar: apakah memberi susu dua kali seminggu bisa menghindari masalah tersebut?

Evaluasi Program MBG

Evaluasi program perbaikan gizi seharusnya merujuk pada Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Dalam survei tersebut, ditemukan bahwa proporsi kebiasaan konsumsi minuman dan makanan manis lebih dari satu kali per hari mencapai 50% pada kelompok umur 3-9 tahun. Alasan konsumsi makanan berisiko antara lain karena “enak rasanya”, mudah didapat, lebih murah, dan tidak tahu risikonya.

Sementara itu, produk kemasan dengan kandungan garam per sajian di bawah 5% baru dianggap aman, sedangkan di atas 20% AKG sudah masuk level bahaya. Namun, di Indonesia, telur asin sering dibagikan sebagai menu balita oleh banyak SPPG, yang justru membahayakan kesehatan anak-anak.

Harapan untuk Masa Depan

Menapak tahun baru, menjelang kemerdekaan yang akan berusia 81 tahun, kita seharusnya tidak memiliki harapan semu. Atau hanya menguntungkan sebagian kelompok tertentu. Presiden sendiri memiliki visi Asta Cita, salah satunya adalah membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan.

Bahan pangan dari desa jauh lebih sehat dan bermanfaat, dari desa petani hingga nelayan. Anak-anak yang tumbuh kuat dari pangan sehat akan menurunkan risiko penyakit kronik di masa depan. Sudah cukup banyak kelompok masyarakat yang melek gizi. Jangan bungkam mereka apalagi diintimidasi jika menyampaikan aspirasi.

Saatnya mereka diberdayakan, diberi ruang untuk tumbuh bahkan mengedukasi publik yang belum punya literasi. Saatnya kolaborasi bukan hanya dengan pemilik modal yang bisa memberi komisi, melainkan benahi programnya, tata ulang cara kelolanya, dengarkan berbagai pihak yang memberi masukan berharga, agar MBG dicari dan dipuji, sungguh-sungguh memberi nutrisi bagi seluruh masyarakat penerima manfaat.

Share This Article
Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *