Waspada Campak: Mudah Menular, Cegah dengan Cara Ini

Wahyudi
8 Min Read

Ringkasan Berita

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 58 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di 39 kabupaten/kota di Indonesia. Penyakit ini menyebar di 14 provinsi, dan menunjukkan bahwa penyakit ini masih menjadi perhatian serius.

Campak adalah penyakit yang sangat mudah menular melalui udara. Masyarakat dan tenaga medis diminta untuk tetap waspada terhadap penyakit ini. Dalam beberapa bulan pertama tahun 2026, jumlah kasus campak sempat mencapai 2.740 kasus, namun akhirnya turun menjadi 177 kasus. Meskipun angka penurunan ini menunjukkan penanganan yang baik, Kemenkes tetap mengingatkan masyarakat, khususnya tenaga medis, agar tetap waspada.

Salah satu kasus yang menjadi perhatian serius adalah kematian seorang dokter laki-laki berinisial AMW (26 tahun) yang berdomisili di Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat karena suspect campak. Kasus ini memperkuat peringatan bahwa campak tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga orang dewasa yang belum divaksin atau belum pernah terinfeksi, dengan risiko komplikasi serius hingga fatal.

Penyakit Campak Sangat Mudah Menular

Meski sering dianggap sebagai penyakit anak yang biasa terjadi, campak sebenarnya merupakan penyakit infeksi yang sangat mudah menular dan dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik. Dokter spesialis anak konsultan infeksi dan penyakit tropis di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah, dr. I Wayan Gustawan menjelaskan bahwa campak disebabkan oleh virus measles yang menyerang saluran pernapasan.

“Campak ini sebenarnya merupakan suatu penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh infeksi virus namanya virus campak atau virus measles dimana biasanya dia menyerang infeksi saluran pernapasan atas yang disertai dengan gejala demam dan munculnya ruam,” ujar dr. Wayan Gustawan pada talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Minggu (15/3/2026).

Penularan Campak Lewat Udara

Campak dikenal sebagai penyakit yang sangat mudah menular. Penularannya terjadi melalui udara, terutama ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara. Virus dapat menyebar melalui percikan saluran napas dan terhirup oleh orang lain yang berada di sekitarnya.

Menurut dr. Wayan Gustawan, kemampuan penularan inilah yang membuat campak menjadi penyakit yang sangat cepat menyebar di masyarakat. “Cara penularan virus campak ini melalui saluran pernapasan, kalau kita sebut istilahnya airborn jadi menular lewat udara,” jelasnya.

Karena menyebar melalui udara, virus campak dapat dengan mudah berpindah dari satu orang ke orang lain dalam jarak yang dekat. Bahkan satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus kepada banyak orang di sekitarnya. “Dikatakan kalau seseorang yang menderita penyakit campak itu bisa menularkan ke sekitar 9 sampai 18 orang di sekitarnya,” kata dr. Wayan Gustawan.

Tidak Hanya Menyerang Anak-Anak

Campak memang paling sering terjadi pada anak-anak. Namun sebenarnya penyakit ini dapat menyerang siapa saja. Baik anak-anak, orang dewasa, hingga orang lanjut usia tetap berisiko tertular virus campak. Risiko tersebut terutama lebih tinggi pada orang dengan daya tahan tubuh yang lemah atau memiliki gangguan sistem imun.

Pada anak-anak, kasus campak memang lebih banyak ditemukan karena kelompok usia ini lebih rentan terhadap infeksi. Karena itu, orang tua perlu lebih waspada terhadap gejala awal penyakit ini agar bisa segera mendapatkan penanganan medis.

Perbedaan Campak dengan Penyakit Lain yang Mirip

Salah satu tantangan dalam mengenali campak adalah gejalanya yang mirip dengan penyakit lain yang juga menimbulkan demam dan ruam. Misalnya penyakit rubella atau demam scarlet. Karena itu dokter biasanya melihat perjalanan penyakit untuk membantu membedakannya.

Pada campak, demam biasanya muncul terlebih dahulu dan cenderung semakin tinggi. Ruam baru muncul beberapa hari kemudian setelah demam berlangsung. Berbeda dengan rubella yang biasanya ruam dan demam muncul hampir bersamaan di awal penyakit. Ciri khas lain dari campak adalah ruam yang muncul dari wajah terlebih dahulu sebelum menyebar ke seluruh tubuh.

Gejala Awal Campak yang Sering Tidak Disadari, Mirip Flu

Pada tahap awal, gejala campak sering kali mirip dengan penyakit infeksi pernapasan biasa seperti flu. Gejala awal yang paling umum adalah demam yang disertai keluhan lain seperti batuk dan pilek. Selain itu, mata juga bisa tampak merah seperti iritasi atau sakit mata.

Beberapa hari kemudian barulah muncul tanda khas campak berupa ruam atau bintik-bintik merah pada kulit. Ruam ini biasanya pertama kali muncul di wajah sebelum kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Bintik-bintik tersebut terlihat seperti titik-titik kemerahan yang cukup banyak dan dapat menyebar secara bertahap.

Masa Inkubasi Campak

Gejala campak tidak langsung muncul setelah seseorang terpapar virus. Ada masa inkubasi atau masa tunggu sebelum gejala pertama muncul. Pada campak, masa inkubasi biasanya berlangsung sekitar satu hingga dua minggu. Artinya seseorang yang baru terpapar virus campak tidak langsung mengalami gejala pada hari yang sama.

Gejala biasanya baru muncul sekitar 7 hingga 14 hari setelah terpapar virus. Hal ini membuat penularan campak sering terjadi tanpa disadari karena seseorang bisa saja sudah membawa virus sebelum gejala terlihat jelas.

Fase yang Perlu Diwaspadai

Dalam perjalanan penyakit campak terdapat beberapa fase, mulai dari fase inkubasi, fase munculnya gejala, hingga fase penyembuhan. Fase yang perlu paling diwaspadai adalah saat ruam mulai muncul. Pada fase ini, pasien biasanya mengalami demam tinggi disertai ruam yang menyebar di tubuh. Selain itu, bisa juga muncul gejala lain seperti batuk atau diare.

Fase ini biasanya terjadi sekitar hari kelima hingga hari ketujuh sejak awal demam. Pada periode tersebut, risiko munculnya komplikasi juga mulai meningkat sehingga anak perlu dipantau dengan lebih ketat.

Komplikasi Campak yang Perlu Diwaspadai

Campak bukan sekadar penyakit dengan demam dan ruam pada kulit. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi antara lain radang paru atau pneumonia, diare, serta radang telinga tengah. Selain itu, campak juga dapat menyebabkan infeksi pada sistem saraf pusat yang dikenal sebagai encephalitis.

Kondisi ini termasuk komplikasi serius yang dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat. Karena itu, orang tua dianjurkan segera memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala demam disertai ruam yang mencurigakan.

Cara Mencegah Campak

Dosen Program Studi Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer Unika Atma Jaya, Dr.dr. Regina Satya Wiraharja, M.Sc. mengatakan kewaspadaan menjadi penting, khususnya saat intensitas interaksi sosial meningkat seperti pada masa hari raya. Pencegahan utama campak adalah melalui vaksinasi. Vaksin MMR dinilai paling efektif untuk membentuk kekebalan tubuh, dengan jadwal pemberian pada anak usia 9 bulan, 2 tahun, serta 5–6 tahun.

Selain itu, masyarakat juga dianjurkan untuk menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker saat mengalami gejala infeksi saluran pernapasan. “Asupan gizi seimbang, termasuk vitamin A, juga berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh,” tuturnya.

Jika mengalami gejala yang mengarah pada campak, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan dan membatasi kontak dengan orang lain guna mencegah penularan lebih lanjut. Dengan meningkatnya mobilitas selama hari raya, kewaspadaan terhadap campak menjadi langkah penting agar masyarakat tetap dapat merayakan momen kebersamaan dengan aman dan sehat.


Share This Article
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *