“Waspada Penyakit Kawasaki: ‘Penyamar Ulung’ yang Mengancam Jantung Anak”

Nurlela Rasyid
2 Min Read

Para orang tua dan tenaga kesehatan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit Kawasaki pada anak. Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Dr. dr. Najib Advani, Sp.A, Subsp.Kardio(K), M.Med(Paed), mengungkapkan bahwa penyakit ini sering kali terlambat terdeteksi karena memiliki sifat sebagai “penyamar ulung” yang menyerupai berbagai infeksi umum lainnya.

Tantangan Diagnosis dan Kemiripan Gejala Dalam sebuah seminar daring yang diadakan di Jakarta pada Selasa, Prof. Najib menjelaskan bahwa penyakit Kawasaki sering kali tidak dikenali pada fase awal. Banyak kasus di lapangan menunjukkan bahwa gejala awal Kawasaki kerap disalahartikan sebagai campak, infeksi virus biasa, atau bahkan radang usus buntu jika pasien mengeluhkan nyeri perut dan diare.

“Gejala utamanya adalah demam menetap yang berlangsung sedikitnya lima hari. Yang menjadi pembeda adalah demam ini tidak membaik meski pasien sudah diberikan antibiotik,” jelas Prof. Najib, yang juga merupakan bagian dari Unit Kerja Koordinasi Kardiologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Ketidakpastian diagnosis ini diperparah oleh kemunculan tanda klinis yang tidak selalu serempak. “Gejalanya bisa muncul bertahap, tidak selalu sekaligus. Hari ini mungkin hanya demam, besok baru muncul ruam, lalu lusa mata memerah. Dinamika inilah yang sering membuat diagnosis terlewat pada pemeriksaan pertama,” tambahnya.

Risiko Fatal pada Jantung Keterlambatan dalam mengenali Kawasaki bukan tanpa risiko. Prof. Najib menekankan bahwa setiap hari yang terbuang tanpa diagnosis yang tepat akan meningkatkan risiko komplikasi serius pada jantung anak. Penyakit Kawasaki menyerang pembuluh darah (vaskulitis), dan jika tidak segera ditangani dengan prosedur yang tepat, dapat menyebabkan kerusakan permanen pada arteri koroner.

Oleh karena itu, ia meminta para tenaga medis untuk segera mempertimbangkan kemungkinan Kawasaki jika menemui pasien anak dengan demam tinggi berkepanjangan yang disertai mata merah namun tanpa kotoran (belek). Pemeriksaan lanjutan berupa ekokardiografi atau pemeriksaan jantung menjadi krusial untuk memastikan tidak adanya peradangan pada pembuluh darah jantung sebelum kondisi memburuk.

Share This Article
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *