Tradisi Syawalan di Jawa Tengah Berlangsung Meriah
Pesta syawalan yang berlangsung meriah di sejumlah wilayah di Jawa Tengah menjadi momen penting bagi masyarakat setempat. Berbagai kegiatan digelar dalam rangkaian syawalan, mulai dari sedekah laut di pantai utara, arak-arakan ketupat, pemotongan lopis raksasa di Pekalongan, penerbangan balon raksasa di Wonosobo, hingga tradisi unik bakdan sapi di Boyolali.
Syawalan biasanya berlangsung sepekan setelah Lebaran. Di Jepara, ribuan nelayan dan warga mengikuti prosesi larungan kepala kerbau dalam tradisi Pesta Lomban di perairan setempat, Sabtu (28/3/2026). Tradisi tersebut merupakan sedekah laut oleh masyarakat pesisir Jepara, yang digelar setiap tahun pada H+7 Lebaran atau syawalan.
Sedikitnya 300-an kapal yang mengiringi larungan kepala kerbau. Satu kapal utama membawa miniatur kapal Joyo Samudro, di dalamnya mengangkut sesajen kepala kerbau untuk dilarung. Kapal bergerak dari TPI Ujungbatu, pada Sabtu pukul 07.15, diikuti dua kapal pengiring dan ratusan kapal nelayan yang ikut serta mengiringinya.
Setelah menempuh pelayaran selama kurang lebih 45 menit, sesajen kepala kerbau dilarung ke laut. Seketika sejumlah pengunjung menceburkan diri ke laut untuk berebut kepala kerbau. Miniatur kapal Joyo Samudro pun terbalik setelah menjadi target rebutan warga. Kepala kerbau yang berhasil didapatkan warga selanjutnya diangkut ke atas kapal nelayan dan dilarung kembali ke laut.
Seorang nelayan, Khumaedi selalu mengikuti prosesi larungan setiap tahun. Dia berlayar dengan kapal miliknya yang biasa digunakan mencari ikan di laut. Bagi dia, lomban selayaknya pestanya para nelayan. Lewat tradisi itu, kata dia, nelayan mengucap syukur atas hasil panen ikan laut yang sudah didapatkan dan berharap berkah rezeki selanjutnya.
“Saya selalu ikut setiap tradisi ini digelar. Hari ini (Sabtu kemarin—Red) bareng keluarga dan teman-teman nelayan lainnya,” ucap dia.
Salah satu pengunjung, Kunarsih (41), datang sejak pagi di kawasan TPI Ujungbatu hanya untuk melihat lomban. Bagi dia, Lomban Jepara merupakan salah satu tradisi yang dinanti-nantikan masyarakat pada momentum Syawal.
“Senang bisa melihat langsung tradisi larungan. Sayangnya belum pernah ikut ke tengah laut lihat langsung pelarungan. Semoga ke depan bisa mendapatkan kesempatan ikut berlayar,” ujar dia.
Wujud Syukur kepada Tuhan
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara, Ali Hidayat mengatakan, tradisi larungan kepala kerbau Pesta Lomban merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki dari laut, sekaligus doa agar masyarakat Jepara, khususnya para nelayan, selalu diberikan keselamatan dan keberkahan.
“Hari ini (Sabtu kemarin—Red) pelaksanaan larungan kepala kerbau berlangsung lancar dan meriah. Semoga pelaksanaan tradisi ini di tahun-tahun ke depan lebih meriah lagi,” terang dia.
Dia menjelaskan, kepala kerbau yang dipilih sebagai sesajen larungan diambil dari kerbau jenis bule berbobot sekitar 350 kilogram dengan harga Rp 50 juta. Sehari sebelumnya, pada Jumat (27/3/2026), kerbau bule tersebut diarak dari TPI Ujungbatu ke RPH Jobokuto sejauh 1,1 kilometer. Selanjutnya kerbau dipotong, kepala kerbau dijadikan sebagai sesajen larungan, sementara daging kerbau dimasak pindang untuk disantap bersama saat pagelaran wayang.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo menjelaskan, Pesta Lomban merupakan wujud ekspresi budaya dan rasa syukur masyarakat Jepara. Sebagai kepala daerah, dia berharap, Pesta Lomban tahun depan digelar lebih meriah lagi. Akan disediakan wahana dan pertunjukan air di dermaga penyeberangan kapal guna menambah daya tarik wisatawan.
“Ini upaya melestarikan leluhur kita, yang senantiasa kita budayakan dan lestarikan,” ujar Wiwit, sapaan akrabnya.
Puncak acara Pesta Lomban 2026 ditutup dengan Festival Kupat Lepet di Pantai Kartini, Jepara. Pada kesempatan itu, ratusan warga berebut ketupat atau kupat dan lepet.
Tradisi Serupa di Kabupaten Pati
Selain di Jepara, tradisi serupa juga berlangsung di Kabupaten Pati. Biasanya tradisi syawalan di Pati berpusat di Tayu dan Juwana. Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Pati, Rekso Suhartono menyampaikan, Lomban Kupatan Tayu berlangsung, pada Sabtu kemarin, sedangkan prosesi Sedekah Laut di Juwana, pada Minggu (29/3/2026) hari ini.
“Khusus di Tayu, kegiatan (lomban kupatan—Red) berada di Desa Sambiroto. Ini tradisi turun-temurun yang hampir sana dengan sedekah laut di Juwana,” ujar Rekso, beberapa waktu lalu.
Dalam tradisi Lomban Kupatan Tayu, kepala kerbau dilarung di laut Tayu. Sebelum dilarung, kepala kerbau diarak keliling Desa Sambiroto. Adapun Sedekah Laut Juwana digelar di Desa Bendar. Masyarakat setempat bakal menggelar arak-arakan sebelum melarung sesaji di muara Sungai Juwana, pagi ini mulai pukul 06.30-10.00.
Pekalongan Balloon Festival dan Pemotongan Lopis Raksasa
Di Kota Pekalongan, Pemkot setempat menginisiasi Pekalongan Balloon Festival 2026 yang dipusatkan di Stadion Hoegeng, Sabtu kemarin. Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid mengatakan, festival balon tambat mampu mengakomodasi tradisi masyarakat dengan cara yang lebih tertib dan terkendali.
Ia menjelaskan, konsep balon tambat yang diterapkan dalam festival memungkinkan balon tetap diterbangkan, namun dalam kondisi terikat sehingga tidak mengganggu jalur penerbangan. Penonton pun diarahkan ke tribun stadion agar lebih aman dan nyaman dalam menikmati acara.
Selain Pekalongan Balloon Festival, tradisi pemotongan lopis raksasa meramaikan puncak perayaan syawalan di Kota Batik. Ribuan warga memadati Kampung Sembawan, Kelurahan Krapyak, Kota Pekalongan, untuk menyaksikan sekaligus mendapatkan potongan lopis berukuran jumbo seberat 2 ton tersebut, Sabtu kemarin.
Lopis raksasa ini menjadi ikon perayaan syawalan. Lopis tersebut memiliki ukuran panjang 239 sentimeter, diameter 262 sentimeter, dan bobot mencapai 2.083 kilogram setelah matang. Proses pembuatannya melibatkan warga. Lopis dimasak selama 3 hari 2 malam menggunakan dandang raksasa dan tungku kayu bakar.