Ajakan untuk Memperkuat Solidaritas di Bulan Ramadhan
BANDA ACEH – Dewan Pembina Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh, Dr Tgk H Sirajuddin Saman MA, mengajak umat Islam untuk memperkuat solidaritas sosial selama bulan suci Ramadhan. Ia menekankan besarnya pahala bagi siapa saja yang membantu dan bahkan memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, apalagi jika orang tersebut merupakan korban bencana musibah banjir dan longsor.
Ajakan ini disampaikannya dalam program ‘Serambi Ramadhan’ edisi Sabtu (21/2/2026), dengan mengangkat tema “Puasa: Antara Lapar, Haus dan Solidariyas”, dipandu host Agus Ramadhan. Program ini merupakan kerja sama Serambi Indonesia dengan ISAD Aceh, yang didukung Bank Aceh Syariah. Tayang setiap hari pukul 14.30 WIB selama bulan Ramadhan.
Mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, “Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga,” (HR Tirmidzi). Tgk Sirajuddin menjelaskan, keutamaan tersebut bukan sekadar simbolis, melainkan motivasi nyata agar umat Islam berlomba-lomba dalam kebaikan.
“Misalnya kita memberi 10 porsi makanan kepada 10 orang yang berpuasa, maka pada hari itu kita mendapatkan pahala seperti 11 orang yang berpuasa. Satu pahala puasa milik kita sendiri dan 10 pahala dari mereka yang kita bantu, tanpa mengurangi nilai pahala mereka sedikit pun,” ujarnya.
Menurutnya, semangat berbagi ini perlu terus ditumbuhkan, terlebih dalam kondisi sebagian masyarakat yang masih menghadapi berbagai kesulitan ekonomi maupun musibah. Ia menyebut Ramadhan sebagai momentum terbaik untuk menanamkan empati dan kepedulian sosial.
Menghindari Merendahkan Orang yang Sedang Diuji
Tgk Sirajuddin juga mengingatkan agar umat tidak merendahkan atau menyalahkan orang-orang yang sedang diuji oleh Allah SWT. “Jangan pernah menghina, jangan pernah meremehkan mereka yang hari ini sedang lemah. Bangkitkan semangat mereka dengan berbagai cara semampu kita,” katanya.
Ia menekankan bahwa bentuk pertolongan tidak selalu harus berupa materi. “Siapa yang punya kemampuan biaya, tolong dengan biaya. Tidak mampu dengan biaya, dengan tenaga. Tidak mampu dengan tenaga, dengan kata-kata yang baik. Bahkan jika tidak mampu dengan kata-kata, maka dengan diam dan tidak menyakiti,” tegasnya.
Lebih lanjut, Tgk Sirajuddin menyoroti adanya anggapan di luar daerah yang mengaitkan musibah dengan tudingan sebagai laknat atau hukuman tertentu. Ia menilai pandangan tersebut tidak tepat dan berbahaya.
“Jangan ketika melihat musibah lalu muncul bahasa bahwa itu karena ini dan itu, seolah-olah kita tahu sebab di balik ketetapan Allah. Tidak mungkin ada manusia yang bisa memastikan apa penyebab di balik suatu kejadian. Itu wilayah Allah SWT,” ujarnya.
Jangan Kendorkan Semangat Ibadah
Pimpinan Dayah Khamsatul Anwar di Denong, Darul Imarah, Aceh Besar, Dr Tgk H Sirajuddin Saman MA menyoroti fenomena menurunnya semangat ibadah umat Islam setelah bulan suci Ramadhan. Menurutnya, kondisi tersebut hampir terjadi setiap tahun dan perlu menjadi bahan refleksi bersama.
Ia menggambarkan suasana masjid yang penuh sesak pada malam-malam awal Ramadhan. “Kalau malam pertama Ramadhan, masjid itu penuh. Bahkan kalau bisa diperbesar lagi, tetap penuh. Tapi memasuki malam ke-10 sudah mulai berkurang, dan setelah Ramadhan masjid-masjid kembali lengang,” ujarnya.
Tgk Sirajuddin menyebut, penurunan semangat ibadah tidak hanya terjadi setelah Ramadhan berakhir, tetapi bahkan sudah mulai terlihat di pertengahan bulan suci. Fenomena ini, kata dia, menunjukkan bahwa sebagian umat masih memaknai Ramadhan secara terbatas.
“Jangan sampai Ramadhan dipahami hanya sebagai bulan pengampunan dosa dan bulan melipatgandakan pahala, lalu merasa cukup beramal di bulan Ramadhan saja untuk bekal sampai tahun depan,” tegasnya.
Konsistensi dalam Beribadah
Tgk Sirajuddin mengingatkan bahwa amal saleh tidak mengenal batas waktu tertentu. Konsistensi dalam beribadah justru menjadi salah satu tanda kebahagiaian dan keberuntungan seorang hamba. Ia mengutip konsep ahlus sa’adah (orang-orang yang beruntung), yang selalu merasa amalnya belum cukup.
“Salah satu ciri orang yang bahagia itu adalah dia selalu bertanya dalam hatinya: dengan amalku yang masih sedikit seperti ini, bagaimana nasibku di akhirat nanti? Bagaimana keadaanku di alam kubur?” katanya.
Pertanyaan-pertanyaan reflektif tersebut, menurutnya, menjadi motor penggerak untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas ibadah, bukan justru merasa puas setelah menjalani Ramadhan.
Ia pun mengajak umat untuk benar-benar meresapi nilai puasa, bukan sekadar menjalankannya secara rutinitas tahunan. “Kalaupun setelah Ramadhan kita tidak bisa bertahan 100 persen seperti di bulan itu, setidaknya bisa bertahan 50 persen saja sudah Alhamdulillah, sambil terus berupaya meningkat. Semoga Allah SWT selalu meridhai kita,” pungkasnya.