5 Jalur Terputus yang Masih Bisa Dilewati di Sumbar Pasca Banjir: Danau Singkarak, Sitinjau Lauik, dan Lembah Anai

Zaiful Aryanto
7 Min Read

Akses Jalan Darat Vital di Sumatera Barat

Sumatera Barat memiliki dua akses jalan darat yang menjadi penghubung antarkota, terutama akses ke Pulau Jawa. Kedua ruas jalan tersebut adalah Jalan Padang-Bukittinggi dan Padang-Solok. Kedua jalur ini sangat vital dalam lalu lintas masyarakat dan wisatawan. Di sepanjang jalur tersebut, terdapat beberapa titik yang sangat krusial dan ikonik bagi setiap pengendara yang melintas.

1. Air Terjun Lembah Anai

Di akses Padang-Bukittinggi terdapat Air Terjun Lembah Anai di Kabupaten Padang Pariaman dan Jembatan Kembar Silaiang di Kota Padang Panjang. Dua titik ini lokasinya sangat berdekatan beberapa kilometer. Kawasan Lembah Anai berada di perbatasan antara Kabupaten Padang Pariaman dan Kabupaten Tanah Datar. Jalan ini biasa dipakai sebagai akses ke arah utara, menghubungkan Sumbar dengan Riau dan Sumatera Utara (Sumut).

Air Terjun Lembah Anai selama ini menjadi ikon unik di Sumbar. Air terjun ini menjadi landmark bagi setiap wisatawan yang berkunjung di Kota Padang hendak ke Bukittinggi. Di lokasi ini wisatawan kerap mampir sejenak, minimal berfoto dan merasakan dinginnya air terjun Lembah Anai. Apalagi air terjun itu posisinya persis di pinggir jalan.

Bagi yang ingin menikmati kuliner, di sana biasanya banyak pedagang keliling yang menjajarkan penganan pergegel jagung dan pinungkuik.

2. Jembatan Kembar Silaiang



Jembatan Kembar Silaiang yang viral saat banjir bandang atau galodo menjadi pintu masuk ke Kota Padang Panjang. Lokasinya juga berdekatan dengan Kabupaten Tanah Datar. Jembatan Kembar ini sangat ikonik karena di atasnya terdapat jalur kereta peninggalan Belanda. Di Jembatan Kembar itu para pengendara kerap juga mampir untuk sekadar beristirahat sambil menikmati indahnya pemandangan, karena perjalanan jauh dari Kota Padang hendak ke Bukittinggi.

Ketika bencana banjir bandang 26 November lalu, Lembah Anai dan Jembatan Kembar Silaiang hancur porak-poranda. Akses putus total. Tidak ada lagi akses bagi masyarakat dari arah Padang Panjang atau Bukittinggi hendak ke Padang atau Pariaman.

Jika pun ada akses alternatif mereka harus melewati jalan Malalak-Sicincin. Jalan itu juga rawan longsor karena terdapat banyak tebing-tebing. Pilihan lain dari arah Bukittinggi hendak ke Padang atau sebaliknya melewati Kelok 44 Maninjau, Kabupaten Agam. Jalan ini pada saat banjir bandang juga terdampak.

3. Kelok 44 Maninjau

Kelok 44 Maninjau meski indah dengan panorama Danau Maninjau, tetapi sangat rawan yang berkelok-kelok dan jalan yang tidak lebar. Pengemudi harus memiliki kemampuan khusus saat melintas di ruas jalan ini. Apalagi tanjakan dan turunannya sangat terjal. Bila setelah menuruni Kelok 44, biasanya pengendara atau penumpang melewati jalan pinggir Danau Maninjau yang disuguhi pemandangan danau nan indah.

Jika melintas dari arah Bukittinggi menuju Kota Padang atau sebaliknya lewat Kelok 44, jalurnya lebih panjang. Waktu tempuh lebih lama. Namun kondisi di Kabupaten Agam cukup krusial, meskipun itu yang parah hanya di Kecamatan Palembayan.

Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Agam Roza Syafdefianti mengatakan, untuk akses Padang-Bukittinggi via Kabupaten Agam hanya lewat Tiku dan Lubuk Basung. Sedangkan dari arah Bukittinggi menuju Kota Padang via Kelok 44 hanya disarankan untuk sepeda motor. “Kelok 44 hanya bisa dilintasi kendaraan roda dua,” ujar Roza Syafdefianti saat dihubungi pada Kamis (4/12). Dia menambahkan, ada akses lain dari Bukittinggi ke Padang bisa lewat Malampah. Hanya di sini tidak bisa dilintasi mobil truk untuk membawa bantuan. “Minibus bisa lewat,” imbuhnya.

4. Sitinjau Lauik

Sitinjau Lauik merupakan akses jalan yang menghubungkan Kota Padang ke Solok. Ini juga dijadikan bagi warga Kota Padang jalan darat hendak ke Jakarta, Palembang, atau Jambi. Sitinjau Lauik masuk dalam wilayah Kota Padang. Sitinjau Lauik merupakan sebuah tanjakan terjal dan belok tajam. Butuh kemampuan ekstra untuk pengemudi. Di ruas Sitinjau Lauik ini sebetulnya terdapat beberapa tikungan tajam dan sempit. Pengendara sangat tidak disarankan menyalip dalam kondisi hujan.

Banyak pengendara senang melintasi Sitinjau Lauik karena terdapat panorama indah Pantai Padang Kota Padang. Panorama itu indah saat dilihat pada siang maupun malam. Indahnya Kota Padang dengan kelap kelip lampunya.

Namun semenjak banjir bandang, beban jalan di Sitinjau Lauik makin berat. Apalagi medan jalannya sangat menyeramkan. Ada jurang dan tebing. Ketika hujan deras sangat berpotensi ada longsor dan jalan jadi licin. Pengendara sangat diminta berhati-hati. Salah perhitungan bisa masuk jurang. Melintas pada hujan deras rawan dengan longsor.

Beratnya beban jalan membuat Jalan Sitinjau Lauik jadi macet parah hingga puluhan kilometer. Pada Rabu (3/12) kemacetan panjang mengular dari Padang hingga Kayu Aro, Kabupaten Solok. Jalan macet hingga puluhan kilometer itu juga dialami Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Sumbar Buya Bakhtiar. Saat itu Buya Bakhtiar hendak mengirimkan bantuan untuk korban banjir bandang. Apa daya, dia terjebak macet hingga lima jam. Dia berangkat dari Kota Padang pukul 06.00 menuju Solok untuk meninjau lokasi bencana, tapi baru tiba di Kayu Aro pada pukul 11.15.

Sejatinya, dari Padang menuju Kayu Aro Solok hanya ditempuh dalam waktu 45 menit. “Macetnya parah sekali,” ujar Bakhtiar. Dia menyebut arus kendaraan kacau balau dan tidak teratur. Truk bermuatan berat memadati setiap tikungan Sitinjau Lauik, membuat jalur mendaki itu semakin sulit dilalui. “Mobil terjebak di mana-mana. Truk penuh sesak dan terkurung macet,” katanya.

5. Danau Singkarak



Danau Singkarak menjadi alternatif jalan bagi pengendara dari arah Solok atau Jakarta hendak ke Bukittinggi. Untuk ke Padang tidak ada akses lain. Bagi perantau atau relawan yang hendak mengatarkan bantuan untuk korban banjir bandang menuju Kota Bukittinggi sangat bisa di sini. Namun, untuk Kabupaten Agam akses sangat terbatas seperti yang diungkap oleh Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Agam Roza Syafdefianti.

Belakangan Danau Singkarak viral di media sosial (medsos) pascabanjir. Danau Singkarak di kawasan Kabupaten Tanah Datar di sekitar Ombilin terlihat jernih. Sementara di sisi lain terdapat kayu gelondongan. Diduga kayu itu hanyut dari arah hulu sungai yang terhubung ke Danau Singkarak.

Share This Article
Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *